Bab 7, for u💗
Vote duluu yukss bor, masaa baca doang tapi nggak vote :(
Ramaikan tiap paragraf<3
Selamat membaca, semoga sukaa Aamiin.
7. BUMI EBONI INDAH DAN PERKENALANNYA
Untuk yang tidak akan lagi kembali bersama, mungkin memang benar bahwa manusia harus memeluk dirinya sendiri, mematahkan semua harapannya tentang perihal yang jika pergi, kembalinya adalah tidak akan.
Dari Aurora, tulisan ditujukan pada semua yang telah pulang — Bumi Eboni Indah, 2021.
**
Akhirnya kembali sehat dan beraktivitas. Pagi ini Aurora melarang Bobby untuk menjemputnya, juga ia sudah mengabari Salsa agar tidak datang ke rumahnya hari ini hanya untuk sekadar menemaninya ke kampus mengumpulkan tugas paper.
"Sok mandiri, nanti nangis," ejek Bara pada sambungan telefon itu.
"Ih, Bara. Mau gue pecat jadi anggota SATROVA BESAR?" balas Aurora.
Laki-laki yang sedang menjadi lawan bicara virtualnya itu ikut tertawa. "Ampun, Bu Ketua."
"Lo nggak ke kampus?" tanya Aurora.
"Ini lagi di kampus, lagi di himpunan," jawab laki-laki itu.
Aurora ber-oh ria. "Pantes aja rame."
Samar-samar melalui sambungan telfon suara seseorang yang menjadi lawan bicara Bara di sebelahnya terdengar di sambung telfon Aurora.
"Siapa tuh?"
"Cewek gue, nggak usah ribut lo," kata Bara. "Gue telfonan sekali dalam seminggu, jadi maklum kalau gue emosi mendengar suara nggak jelas lo yang menganggu pendengaran gue."
Bara mendekatkan handphonenya kembali, "Sorry, Ra, temen-temen gue nggak ada akhlak jadi mesti di bogem dikit."
"Hahaha, terus kok ada kata cewek gue?" Aurora tertawa.
"Oh kedengaran, ya? Itu jurus, Ra, depan belakang gue banyak cewek-cewek, jadi supaya nggak naksir, sok-sokan aja punya cewek," jelas Bara.
"Yang di SMANDA kemarin, sukses buat gomon, ya, Bar?"
"Seratus, Ra. Tapi kayaknya bukan dia deh yang buat gue gamon, tapi, emang gue yang nggak mau berpindah hati," jelas Bara. "Karena kalau harus jatuh cinta lagi sama orang lain, itu belum tentu akan menyenangkan."
"Dan, jika, suatu hari Bara Bintang Tenggara jatuh cinta lagi dengan orang lain?"
"Berarti orang lain itu hebat," jawab Bara, sempurna. "Tapi, bukan berarti yang pertama itu sedang terlupakan dan tidak hebat lagi, ya. Dia tetap juaranya, juara bertahan dalam perihal jatuh cinta gue."
Aurora tertawa kecil mendengar suara laki-laki itu. Tapi memang seperti itu hakikat keras kepala versinya.
"Oh iya, lo di kampus sampai jam berapa? Charger handphone lo full nggak?"
"Nggak tahu nih. Iya iya Aman, Bara," jawab Aurora.
"Oke, keluarin pulpen sama kertas," pinta laki-laki itu. "Buat apa, Bar? Gue lagi dijalan."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA AURORA
Teen Fiction"Tuhan, ajak dia bahagia lagi." -Angkasa Naufal Merapi Kisah ini tentang sebuah epilog yang dimulai kembali. Yang menyedihkan, yang menyakitkan, katanya, biarlah hidup dalam kemarin saja. Hari ini dan selanjutnya, tugasmu untuk merangkul bahagia. ...
