5. ANGKASA NAUFAL MERAPI

209K 18.8K 15.9K
                                        

Hallo, Bab 5💗

FOLLOW & WAJIB VOTE
[Ramaikan tiap paragraf yaa bor]

ABSEN SESUAI DENGAN NAMA PANGGIL KALIAN🥰
Call me Wyna, bukan Author/thor, etc.

Selamat membacaaa, semoga sukaa, Aamiin.

5. ANGKASA NAUFAL MERAPI

Yang telah pergi, miliknya adalah seluruh kepergian itu dan kenangannya.

**

"Ada yang nyariin, Rel," kata Tante Lestari pada Aurora yang sedang berdiam diri di atas sofa sembari menonton siaran televisi.

"Siapa, Tante?" tanya Aurora.

Tante Lestari mengangkat bahunya, "Ada tuh di luar, keburu pergi."

Mau tidak mau, Aurora beranjak, berjalan keluar, matanya mengarah pada pintu, di sana ada seorang laki-laki yang berdiri tegap membelakanginya.

"Cari siapa?" tanya Aurora to the poin.

Seseorang yang sedang berada di depannya masih pada posisi memunggunginya, tapi pertanyaan yang Aurora ajukan terjawab dengan sempurna. "Aurelani Aurora."

"Dengan Aurora, kenapa?" tanya Aurora lagi.

Laki-laki itu berbalik, menampilkan wajahnya.

Sama seperti biasanya, matanya selalu punya sorot tenang ketika menatap perempuan yang ada di depannya.

Sama seperti biasanya, wajah itu selalu punya kharismanya yang ketika ia jumpai, Aurora tahu artinya bentuk terindah.

"At–tlas?"

Ia tersenyum tipis. "Sekarang masuk tahun ketiga,"  mata elangnya menatap Aurora lekat, seolah memberinya sinyal agar perempuan itu mengenalinya, "Udah lupa?"

Aurora spontan menggeleng, tidak mengerti.

"Mau kenalan ulang?" tanya laki-laki itu.

Hening. Kepala Aurora mencerna dengan baik, jika ini adalah ilusi maka dia akan kehilangan sosok yang ada di depannya sebentar lagi.

Laki-laki itu memajukan tangannya, berkenalan, "Angkasa—"

"Angkasa Naufal Merapi."

Tubuh Aurora seketika lemas. Bahkan ia merasa kakinya tidak sanggup untuk berdiri tegak. Kemarin, baru saja ia mendengar nama itu dibicarakan setelah dua tahun namanya menyepi karena kepulangannya. Sekarang, bukan cuman namanya yang ia dengar ulang, tapi orangnya yang sekarang berdiri didepannya.

"Ingat 'kan?"

Aurora menggeleng, dengan air matanya yang sejak tadi jatuh. "Angkasa udah nggak ada."

"Ada," bantahnya, tapi dengan nada yang cepat dan pelan. "Cowok yang ada di depan lo adalah seseorang yang paling lo rindukan, cowok yang ada di depan lo adalah apa yang paling lo cintai dari dulu sampai sekarang."

Tidak ada jawaban dari Aurora.

"Gue pernah dengar, setiap pertemuan itu punya waktunya," kata Angkasa. "Dan, Tuhan mengabulkan pertemuan itu lagi dengan lo, dan gue."

Tangan kekar cowok itu menggapai tangan Aurora. Lalu satu tangannya mengusap air matanya. "Banyak air mata yang pastinya lo lewati tanpa tangan gue yang menghapusnya."

DIA AURORACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang