28. PERAN YANG PERGI

141K 13.2K 9.5K
                                        

Bismillah bab 28, for u💗🪐

FOLLOW DAN VOTE DULUU BOR, RAMAIKAN JUGAA TIAP PARAGRAFNYAA

JANGAN LUPA NABUNG BUAT DIA AURORA
[H-4 PREORDER DIA AURORA]

Info seputar PREORDER bisa kalian cek di IG: penerbit.romancious
IG: diaangka.fnbse

***

OKE, 1 BAB SEBELUM ENDING HEHE :)

Selamat membaca, semogaa sukaaaa Aaamiin

28. PERAN YANG PERGI

Akhirnya, dugaan mereka yang katanya manusia akan menetap, adalah salah.

***

Mei dan langit mendungnya. Aurora masih setia memegang ponsel, meminta penjelasan pada Sekala atas aksi diam-diam anggota SATROVA BESAR. Dan, ternyata di balik ini semua, itu karena dirinya. Pusat retaknya mereka, karena perempuan itu pingsan di perpustakaan waktu itu.

Sekala menjelaskan, saat itu dirinya sebagai tokoh yang netral. Dia berusaha melihat dengan dua sudut pandang yang berbeda, lalu menyampaikannya pada Aurora dengan bahasa yang bisa perempuan itu terima.

Pada hari ini, sudah tepat seminggu yang lalu, Aurora pulang dari rumah sakit. Kini, dia tengah berada di kamar sendirian. Perempuan itu mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat dan sebisa mungkin menghindari kecapekan yang berlebihan.

Sejak peristiwa masuk rumah sakit, Aurora merasakan SATROVA BESAR sangat berbeda. Mereka nampak sangat jauh, tidak seperti biasanya. Pada obrolan waktu itu, Sekala juga bercerita tentang kondisi keluarga Bara. Sekala mendapatkan informasi itu dari sepupu Bara yang kebetulan adalah tetangganya. Hal itu mengetuk pintu hati Aurora agar terus peduli padanya, untuk selalu ada pada laki-laki itu.

"Lo udah chat Bara?" tanya Aurora pada Sekala. Mereka tengah melakukan panggilan telepon.

"Belum."

Mengenai keluarga Bara, Sekala juga memberi tahu Aurora kalau tidak ada yang tahu soal itu sampai hari ini kecuali mereka. Aurora seolah ikut merasakan sakitnya. Dia terbayang bagaimana hancurnya perasaan Bara hari itu. Laki-laki itu kehilangan keluarga sekaligus pertemanan dalam waktu bersamaan. Dan, apabila perasaan di hatinya untuk Aurora masih ada, laki-laki itu juga kehilangan harapan dalam cintanya.

Aurora merasakan sesak. Seluruh udara dalam kamarnya seolah menipis untuk dia hirup. Perasaan cemas dan bersalah memenuhi rongga dadanya. Apalagi mengingat kalau seminggu belakangan ini, dia tidak pernah melihat Bara lagi.

Setelah bertelepon dengan Sekala, Aurora beralih menghubungi laki-laki bermata segelap obsidian itu. Aurora tahu tidak seharusnya mereka seperti ini, tidak seharusnya cinta membuat mereka jauh, tidak seharusnya cinta mengambil kuasanya.

 Aurora tahu tidak seharusnya mereka seperti ini, tidak seharusnya cinta membuat mereka jauh, tidak seharusnya cinta mengambil kuasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DIA AURORACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang