19. CRUSH HOUR

8.5K 1K 33
                                        

Odessa memilih membahas beberapa kemajuan yang terjadi dalam hubungannya dengan Seda. Dia tidak memiliki banyak rahasia dari Yasmin, toh Yasmin juga tahu mengenai aplikasi Madam Rose yang digunakannya untuk mencari teman cerita. Jadi, sudah tidak ada rahasia lagi antara Odessa dan Yasmin. Hanya saja untuk urusan ranjang, Odessa menyimpannya sendiri karena memang itu adalah urusannya dan Seda.

"Efeknya karena sering bareng, aku malah kangen sama dia sekarang." Pernyataan itu terungkap dengan wajah muram Odessa.

"Bagus, dong!" sahut Yasmin dengan antusias. "Itu tandanya hubungan kalian berhasil berada di jalan yang bener. Luar biasa, tahu! Gue seneng dengernya."

Odessa mengangguk dengan lesu. "Tapi masalahnya, kangen sama orang yang jauh itu nggak enak, Mi. Kalo aja dia jauhnya cuma di kantor, aku pasti nyusul dan bareng sama dia supaya nggak kangen."

Yasmin menatap kagum kepada Odessa. Sepertinya dia mabuk dan tak sadar sepenuhnya hingga bisa mendengar dan melihat Odessa yang semacam ini. Apakah benar Odessa mengatakan hal demikian? Setelah tiga tahun menikah? Dia baru merasakan kerinduan pada suaminya? Apa kabar yang sebelumnya Odessa suka lembur atau malah dinas ke kantor cabang? Ke mana si rasa rindu yang menyiksa itu? Kenapa temannya yang otaknya tidak bebal itu baru bisa meraba hatinya?

"Oh. My. Goodness!"

Odessa yang mendengar ucapan Yasmin itu mengernyit. "Apaan, sih, Mi? Kenapa sampe begitu suaranya? Emang aneh, ya, kalo kangen sama suami sendiri?"

Buru-buru Yasmin menggeleng disertai tangan yang bergerak supaya Odesaa tak salah paham.

"Sama sekali nggak. Beneran. Itu malah bagus," ucap Yasmin dan langsung menggenggam tangan Odessa erat.

"Ami???"

"Sa, akhirnya lo punya rasa buat suami lo. Akhirnya kalian nikah dan jalanin rumah tangga yang bener. Jadi, nggak ada alasan lagi buat lo nyari temen curhat—I mean, not that male kind of—lo jadi udah punya kepercayaan dan rasa nyaman ke suami lo sendiri buat berbagi apa pun. Iya, kan?"

Iya, kan? Odessa sepertinya tak akan menjawab itu. Sebab Odessa belum menghapus aplikasi Madam Rose sama sekali dan memilih beberapa kali menghabiskan waktu untuk bertukar pesan dengan Deprima. Biasanya, sih, pada jam kerja teman berbagi pesannya itu aktif. Tapi entahlah, belum ada notifikasi lagi yang muncul. Baguslah, dengan begitu Yasmin tak akan tahu jika Odessa masih memiliki aplikasi Madam Rose.

Rasanya sudah cukup membahas hal itu dengan Yasmin. Semakin dibaca ekspresinya, semakin Yasmin tak akan berhenti mengoceh pada Odessa.

"Udah, ah. Bahas aku melulu, aku mau denger cerita kamu, dong!" Odessa diam-diam meminta maaf dalam hatinya karena tak bisa mengabulkan rasa bahagia Yasmin. Sebab aplikasi itu masih berada di salah satu menu pada ponsel Odessa.

*

"Pulang kapan?"

Odessa benar-benar tak sabar untuk mendapati wajah dan tubuh Seda nyata berada di rumah. Tidak ada jadwal pasti bagi Seda untuk pulang, itu yang membuat Odessa gemas bukan main. Odessa jadi menantikan pria itu.

"Ya, mungkin dua hari lagi."

Tanpa sadar Odessa langsung berdecak karena harapannya tak bisa terkabul segera. Kesal sekali mendengar jawaban 'mungkin dua hari lagi' dari pria yang dia inginkan untuk mengerti dan pulang ketika melihat raut Odessa tak menyenangkan karena kerinduan yang dirasakan.

"Aku tutup dulu, ya? Aku lagi di jalan mau ke suatu tempat."

Odessa juga bisa melihat bahwa suaminya itu berada di mobil. Namun, Odessa tak tahu ke mana prianya itu pergi.

"Jangan macam-macam," ujar Odessa yang tidak suka dengan bayangan di pikirannya.

"Macam-macam? Memangnya aku izin sama kamu itu mau macam-macam? Aku izin dinas itu untuk kerja, Des."

"Iya, tahu! Tapi mana ada seseorang yang kalo mau macam-macam juga izin dulu?!"

"Itu kamu tahu. Ngapain izin buat macam-macam? Kalo orang yang aku suka aku ajak macam-macam itu ada di rumah? Nggak perlu izinlah kalo mau begitu. Kamunya juga menyerah pasrah seneng—"

"STOPPPPPPP!" seru Odessa cepat karena yakin ada yang mendengar pembicaraan mesum mereka itu. "Kamu, minta disunat dua kali, ya, Mas!"

"Tergantung," balas Seda.

"Maksudnya?"

"Tergantung kamu mau nggak ngerasain punyaku yang disunat dua kali. Kalo lebih seneng begitu—"

"Astaga, Mas! Sebel banget aku. Diajak ngomong serius malah bercanda!"

"Sejak kapan aku suka bercanda. Aku orang paling serius yang kamu kenal, Des."

Mengacak rambutnya dengan frustrasi, Odessa akhirnya memilih memutuskan panggilan video itu segera tanpa peduli apakah suaminya masih ingin bicara atau tidak. Odessa kesal karena tidak ada yang benar jika bicara dengan Seda.

"Nyebelinnnnn! Dasar manusia paling lurus!" maki Odessa pada ponselnya yang menampilkan layar perpesanan dengan suaminya.

Odessa ingin mendinginkan pikirannya. Berdiri dari ranjang dan membuka pakaiannya, Odessa menjatuhkan sembarang pakaiannya karena entah kenapa hari ini dia benar-benar malas melakukan apa pun. Apalagi setelah Yasmin menghabiskan waktu mengobrol banyak dengannya. Rasa lelah mulai menaungi, dan bayangan berendam dengan musik yang menyala sangat menyenangkan.

[Duh, mbak Odessa kenapa buru-buru berendem, sih? Kan, ada yang mau ikutan.🙊

Oh, ya. Ini info aja, sih. Buat yang mau list duluan versi cetak nanti kisah bapak Seda dan mbak Odessa. Mimin penerbitnya sudah siap bikin wishlist-nya.😍 Mau tanya-tanya ke mimin penerbitnya juga boyeeehhh.]

CRUSH HOUR /TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang