21. CRUSH HOUR

9.1K 1.2K 54
                                        

"Mas," panggil Odessa dengan pelan. Suaminya tertidur nyenyak setelah gempuran yang mereka lakukan.

Tubuh Odessa lelah, karena selain di kamar mandi, mereka juga melakukannya di ranjang yang sengaja belum Odessa rapikan. Karena mungkin perjalanan yang juga membuat Seda lelah, pria itu langsung mendengkur setelah pelepasan keduanya.

Seharusnya Odessa juga bisa tidur lelap langsung seperti suaminya itu. Namun, Odessa risih sendiri dengan sesuatu yang lengket di tubuhnya. Ah, iya. Cairan percintaan mereka. Biasanya Seda yang membersihkannya untuk membuat Odessa nyaman. Meski ujungnya akan tetap mandi. Kali ini, Seda tak terselamatkan. Boro-boro membersihkan sisa percintaan di tubuh Odessa, bahkan di tubuh pria itu sendiri juga tak sempat diurus.

"Mas, aku capek mau ke kamar mandi. Kamu nggak mau bangun?" Odessa masih berusaha. Dia ingin dilayani oleh sang suami yang kaku tetap perhatian.

Sayangnya cara itu juga tidak berhasil. Seda mendengkur dan membuat Odessa mau tak mau berdecak dan beranjak ke kamar mandi sendiri. Sebenarnya dia juga tak tega membuat suaminya lebih kelelahan, hanya saja Odessa ingin diperhatikan.

Membersihkan diri, Odessa benar-benar lama berada di dalam kamar mandi. Semua yang dia kerjakan sangat lambat. Tak biasanya dia menjadi pribadi yang lamban. Semua karena suasana hatinya yang belakangan mudah sekali berubah. Sepertinya efek dari maju pesatnya percintaan mereka membuat Odessa menjadi mudah berubah. Hal yang paling tak dia mengerti keinginan untuk selalu berada di dekat Seda adalah yang paling mencolok. Kenapa, ya? Pria itu seperti daya tarik tersendiri yang tidak bisa Odessa sangkal.

Menginginkan perhatian lebih dari suaminya, ketika dia mengingat bagaimana Seda biasanya membersihkan sisa percintaan mereka, dan sekarang tidak sontak saja membuat Odessa menitikkan airmata.

"Kenapa, sih, aku jadi cengeng?!" gumam Odessa yang memang tak mengerti dengan dirinya sendiri. Kebingungan, tetapi tak bisa menahan tangisnya sendiri. Odessa tak seperti diri Odessa sendiri.

Bukannya berhenti, Odessa justru semakin menguatkan tangisannya. Memang lagi, lagi bukan dari keinginan Odessa sendiri.

Sibuk menangis tanpa alasan, Odessa bahkan tak tahu bahwa suaminya berlari masuk hingga terpeleset di kamar mandi. Bunyi gedebuk yang cukup keras itu mengalihkan perempuan itu dari tangisan.

"Arghh, sialan." Seda masih sempat memaki padahal baru saja terpeleset karena kecerobohannya sendiri.

"Mas? Kenapa kamu—"

"Aku kepeleset, Des. Kamu masih tanya aku kenapa?"

Odessa menghampiri suaminya yang ceroboh tak memakai apa-apa.

"Aku belum selesai ngomong udah kamu sela duluan, sih, Mas. Aku mau tanya kenapa kamu ke kamar mandi tanpa pake apa-apa? Celana bokser, gitu!"

"Ya, suruh siapa kamu nangis jam segini? Aku lagi tidur denger ada yang nangis paniklah. Ternyata kamu nangis sambil duduk di toilet begitu. Bikin takut aja."

Wajah Seda tak bisa dibohongi. Jujur saja, baru sekarang Odessa bisa mendapati ekspresi cemas dari suaminya.

Tiba-tiba saja keinginan menangis itu terdorong hebat lagi. Odessa membawa wajahnya untuk bersandar di dada suaminya. Tangisan itu kembali menggema dan membuat Seda heran.

"Kan, kamu malah nangis lagi. Kamu kenapa, Des?"

"Nggak tahu. Aku nggak tahu," jawab Odessa sengau. "Aku nangis kamu nggak bersihin aku habis seks kita, aku nangis lihat kamu kepeleset. Aku nggak tahu. Pokoknya aku pengen nangis, Mas."

Seda benar-benar tak paham dengan Odessa. Mereka seolah harus terus belajar dengan semua hal baru dalam pernikahan, padahal sudah tiga tahun berjalan. Hal semacam ini baru terjadi, sedangkan rasanya Seda belum memiliki persiapan apa pun untuk mengatasi sisi perempuan yang hobi menangis tiba-tiba.

"Yaudah, nangis aja dulu. Aku tungguin."

Odessa langsung mendongak. Tak sepenuhnya suka dengan balasan suaminya.

"Kok, malah kamu suruh nangis? Kenapa kamu malah mau nungguin aku nangis, Mas?"

Seda kembali dalam mode datarnya seraya berkata, "Terus aku harus ngapain? Mukulin kamu biar makin nangis?"

"Maaaasssss!"

"Kasih tahu aku, Des. Aku harus ngapain kalo kamu nangis?" tanya pria itu.

"Ngapain, kek. Bikin aku berhenti nangis, bujuk aku, peluk, elus kepalaku. Atau apa pun yang bisa bikin aku tenang."

Seda terdiam lebih dulu sebelum tangannya bergerak untuk memeluk tubuh istrinya, bergerak mengelus kepala Odessa, dan menepuk-nepuk bokong perempuan itu.

"Kok, malah bokong aku ditepuk, sih, Mas??!" protes Odessa dengan wajah sebal.

"Mama kalo gendong bayi tetangga ada aja adegan begitu, sih, Des. Dipeluk-peluk, dielus-elus, terus bokongnya ditepuk sayang. Nangisnya berhenti."

Odessa seketika saja frustrasi. "Ini perempuan dewasa yang nangis, Mas Seda Dactari! Bukan bayi tetangga mama Arnis!"

Odessa bersungut tak suka, dia merajuk dan meninggalkan Seda yang masih terduduk di lantai kamar mandi.

"Des? Des, kok, aku ditinggal? Des? Bantuin, Des!"

Odessa tak peduli dan memilih menutup pintu kamar mandi supaya tak mendengar suaminya yang menyerukan namanya.

[Sesuai request. Bab manis-manis dulu sampe paling nggak 5 bab lagi. Okeeeehhhh, aku kasih. Wkwk. Biar nggak rindu pas konflik menyapa. Meskipun konfliknya nggak berat-berat amad, sih. Masih dalam kadar unyu, kok.😆]

CRUSH HOUR /TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang