❝Pada akhirnya, lo cuma bisa milih satu orang, Ra. Haikal atau Jevan?❞
Dalam hidup Kinara, Haikal dan Jevan adalah bagian yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Mereka memiliki porsi masing-masing di hatinya. Haikal si tetangga rese ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jevano! Keluar dari kelas saya sekarang juga!"
"Dari tadi kek, lama banget saya nunggu bapak usir," jawab cowok itu tengil sambil beranjak dari tempat duduknya. Sedikit menyeringai ke arah guru pengajarnya yang sudah kepalang emosi, cowok berseragam putih abu-abu itu segera meninggalkan kelas yang mendadak hening.
Jevano Angkasa Daniswara, cowok berwajah tampan dengan proporsi tubuh sempurna dan otak kelewat cerdas itu harus sedikit menodai kesempurnaannya dengan bersikap kurang ajar dan seenaknya.
Entah sudah berapa guru yang mengusir dirinya dari dalam kelas karena berbagai alasan, mulai dari tak mengerjakan tugas padahal dia mampu, tidur di sepanjang jam pelajaran, mengganggu temannya yang sedang belajar atau seperti yang baru saja terjadi, yaitu menolak memperhatikan guru yang sedang memberikan pelajaran dengan terus bermain game di ponselnya.
Namun anehnya, tak ada raut penyesalan atau semburat malu saat lagi dan lagi dirinya dinyatakan alpa dan tidak memiliki nilai. Wajah kelewat tampan yang mampu memikat banyak hati dalam setiap detiknya itu tetap bisa menyunggingkan seringaian.
Dan di sini lah Jevano sekarang, di sebuah bangku semen yang ada di bawah pohon rindang yang menjadi pembatas lapangan upacara dan lapangan basket outdoor. Tempat berteduh favorit setiap siswa-siswi SMA Cakrawala.
Jevan, begitu cowok itu sering disapa. Duduk sendirian sambil melihat kelas lain yang sedang melaksanakan KBM olahraga di lapangan basket. Dapat Jevan tebak jika kelas tersebut sedang mempelajari materi senam lantai, ditandai dengan banyak matras olahraga yang tergelar di tengah lapangan.
"Aduh pak saya, mah up, gak bisa saya kalo harus guling-guling kayak gitu." Pekikan cukup keras seorang siswi di sana, berhasil mengalihkan perhatian Jevan dari game online di ponselnya. Cowok itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Dan di detik berikutnya, berikutnya lagi, hingga detik-detik itu berubah menjadi menit yang banyak, Jevan masih betah memperhatikan betapa kocaknya tingkah siswi berambut panjang yang dicepol asal itu. Gerak tubuh serta ekspresi wajahnya sangat lucu dan tanpa sadar meningkatkan mood Jevan yang tadi sempat memburuk.
"Fokus banget, pak ngeliatin crush nya."
Jevan menoleh ke arah sampingnya, sedikit terkejut dengan kehadiran sahabatnya yang sangat tiba-tiba. Bahkan ia tidak sadar jika ada seseorang yang duduk disampingnya, mungkin karena terlalu fokus memperhatikan si siswi lucu.
"Lo ngomong apa?" tanya Jevan pura-pura tak mendengar apa yang tadi Nathan katakan. Nathan mendecih, wajah judesnya semakin terlihat julid saat matanya memicing ke arah Jevan.
"Gue tau lo dari tadi ngeliatin si Kinara, saking fokusnya sampe gak sadar gue duduk di samping lo dari lima menit yang lalu."
Jevan tak menjawab, memilih kembali memperhatikan gadis bernama Kinara yang kini tengah kesulitan menggulingkan tubuhnya di atas matras. Tubuh berisinya nampak ragu-ragu saat akan menyentuh matras berulang kali, membuat guru maupun teman-temannya berteriak menahan gemas.