05| Harap Bersabar, Ini Ujian

144 69 344
                                        

"Pak, tolong kerjasamanya, dong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Pak, tolong kerjasamanya, dong. Ini saya lagi urgent banget. Kalo saya nggak ikut tawuran kali ini, saya bisa dilengserkan dari jabatan saya, Pak. Tolong, dong."

Pria setengah baya yang sejak tadi berdiri di depan gerbang sekolah Kencana itu menggelengkan kepalanya. Bersikeras menolak permintaan Haikal dan ketiga temannya yang memaksa agar dibiarkan membolos.

"Nggak bisa. Kalian mending kembali ke kelas, belajar yang bener!"

Haikal mengacak rambutnya kesal, cowok itu sudah kehilangan cara untuk membujuk satpam baru yang satu ini. Pria dengan kumis baplang itu terus menolak sogokan yang dia dan teman-temannya tawarkan. Tidak seperti satpam sebelumnya, yang dikasih selembar uang seratus ribuan saja langsung menurut.

"Pak, kita mohon, sekali ini aja. Lagian kita nggak akan bawa-bawa nama sekolah. Kita tawuran itu atas nama geng, bukan atas nama sekolah," ujar Rendi meyakinkan.

"Iya, Pak. Bener apa yang dibilang temen saya. Nama sekolah dijamin aman," tambah Aji.

Satpam tersebut kembali menolak. Dengan tangan berotot yang dilipat di depan dada, beliau menggelengkan kepalanya lagi.

Haikal, Rendi, Aji dan Caesar sudah hampir kehabisan waktu. Jika dalam lima menit mereka masih tak bisa kabur, maka sudah dipastikan tawuran yang akan mereka ikut sudah bubar. Sekarang saja para anggota Ridin yang sudah ada di lokasi, tidak ada satupun yang membalas pesannya. Itu artinya, tawuran sudah dimulai.

"Ini gimana, Kal? Anak-anak udah pada mulai anjing! Kita nggak akan kebagian." Caesar menunjukkan layar ponselnya pada Haikal.

Haikal terlihat berpikir keras. Dia harus menemukan cara lain yang bisa membuat mereka lolos kali ini. Karena tawuran yang akan mereka ikuti kali ini sangat penting.

"Lewat belakang," bisikan Caesar pada telinga Haikal merupakan titik terang bagi mereka. Dengan secepat kilat, empat anak kurang akhlak itu berlari menuju tembok belakang sekolah.

Tanpa babibu, Haikal yang sudah tak sabaran segera memimpin. Memanjat tembok dengan cepat, juga dengan lihai menghindari kawat berduri. Diikuti oleh Caesar, lalu Aji.

"Sssttt, Aji, cepet bangsat!" bisik Rendi sambil terus mengawasi sekitar, berjaga-jaga takut ketahuan.

"Bentar anying, celana gue nyangkut," sahut Aji dengan suara berbisik juga. Tangannya sibuk melepaskan kaitan kawat berduri di celana abu-abu miliknya.

Untung saja kawat tersebut masih memiliki belas kasihan dengan tidak menyakiti Aji junior. Kalau sampai itu terjadi, entahlah mungkin sekarang Aji sudah menangis seperti bayi.

"Woy, anak setan! Malah pada ngobrol, cepetan keburu ada orang lewat," teriak Haikal dari bawah sana. Memandang kesal Aji yang tidak juga turun, sedangkan Rendi masih berada di balik tembok tempatnya berdiri.

"Nyangkut celana gue, Kal. Sabar napa. Masa depan gue ini."

"Jangan sampe ada warga sekitar yang ngeliat lo gelantungan kek monyet gitu. Ntar viral berabe," seloroh Caesar sambil terkikik geli. Membayangkan bagaimana nanti jika video Aji tersebar luas di aplikasi berbagi video.

No LongerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang