"Tapi nan aku kepo orang yang dijodohin sama Devina itu yang mana soalnya dia cerita kalau dia suka sama orang itu tapi orang itu enggak suka sama dia"
"Serius Devina cerita gitu? Padahal dikampus mereka tengkar terus"
Qilla tidak fokus berbicara dengan Kenan karena orang-orang menatapnya dengan sinis.
"Siapa nya kak Kenan sih itu kok bisa deket sama kak Kenan"
"Maybe adeknya soalnya kak Kenan kan enggak Deket sama cewek mana pun"
"Masa adeknya, orang tangan tu cewek aja digenggam terus, anak jurusan mana sih?"
"Kenan kayaknya banyak yang suka deh sama kamu" ujar Qilla berbisik.
"Biarin aja yang aku suka kan cuma kamu" Hampir saja Qilla menyemburkan minumannya akibat ucapan Kenan.
"Kalo gombal aba-aba dulu dong kasian jantung aku" Kenan terkekeh, mungkin meja sebelah mereka pada meleyot ngeliat senyuman Kenan.
"Keliling lagi yuk males ah kamu diliatin terus sama cewek disebelah"
"Cemburu bilang atuh neng" Qilla melotot lalu menyenggol pelan lengan Kenan, ah lucunya orang bucin.
Disisi lain Devina sedang kebingungan karena Cheval mengirimkan nya pesan dan menyuruhnya untuk pergi ke taman belakang.
"Kak Eval...? where are you?"
"DOR!"
"ASTAGHFIRULLAH" Cheval datang mengagetkan Devina.
"Wih tumben istighfar biasanya nyebut kebun binatang" ledek Cheval.
"Bacot lu kembaran tupai" Devina sebenernya terkagum dengan penampilan Cheval malam ini tapi fokus beralih ke bunga yang dibawa Cheval.
"Ekhm jadi gue ngapain kesini? Lo mau nembak orang? Atau mau nyatain perasaan ke orang dihadapan gue? Atau—"
"Diem dulu dong entar rencana gue gagal" oke Devina semakin berspekulasi bahwa Cheval mau nembak orang.
Dalam hati Devina sudah meraung-raung pengen kabur daripada nangis disitu kan enggak lucu banget.
"Gue pergi duluan—"
"Lo mau kemana sih? Devina look at me" Devina tertegun melihat tatapan Cheval cukup tajam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue suka sama Lo... Dan gue harap Lo enggak punya niatan untuk batalin perjodohan kita"
"Gue perlu berpikir dulu kak"
"Apa yang perlu Lo pikirin? Lo enggak suka gue? Hati Lo masih punya orang lain? Dev perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Lo bakal terbiasa sama gue" Devina agak kikuk mendengar ucapan Cheval.
"Kak gue itu sukanya sama Lo bukan sama yang lain dan juga gue bilang gue suka orang cuma bohongan! Gue lagi mikir harus jawab Lo gimana" Sepertinya Devina terlalu jujur.
Cheval langsung salah tingkah kemudian ia menyodorkan bunga yang ada ditangannya.
"Nih buat calon istrinya Cheval"
"Paan sih bisa aja Lo kak—"
Chup
Devina mematung dengan perlakuan Cheval, bibirnya... Sudah tidak suci lagi.
"Ngomongnya aku kamu, jangan Lo gue lagi serasa masih musuhan, kalo ada yang ngucap Lo gue hukumannya cium bibir"
"IDIH NGADI-NGADI MAKSUD LO APA YA KAK? ADUH BIBIR GUE ENGGAK SUCI LAGI"
---o0o---
"Sudah lama enggak ketemu kamu makin cantik"
"Kamu juga makin ganteng" keduanya tertawa kecil mendengar pujian masing-masing.
"Rina cantik, pinter dia pantes dapetin kamu Jen. Jangan sakitin dia ya?" Jeno menoleh menatap kearah Qilla.
"Enggak mungkin aku sakitin dia, perjuanginnya susah... Lebih tepatnya berjuang ngelupain kamu" terdengar hampa saat Jeno mengucapkan nya.
"Kenan, aku percaya pasti dia bakal bahagiain kamu" Jeno dan Qilla tersenyum.
Happy ending sesungguhnya adalah ketika pemeran utama sama-sama bahagia, walau keduanya tidak menjadi pasangan hidup.
Akan tetapi keduanya bahagia dengan pasangan nya masing-masing.