Taeyong memijat pelipisnya membelakangi Jaehyun yang berkacak pinggang dibaliknya. Keduanya menatap Mark yang bahkan belum menjemput kesadarannya selama beberapa menit lamanya.
Iya. Anak itu benar-benar pingsan. Sudah sekitar sepuluh menit Taeyong dan Jaehyun menunggunya bangun.
"Bagaimana kalo kita bawa ke dokter saja? Ini sudah sepuluh menit lebih, sayang."
Saran Jaehyun ditolak gelengan oleh Taeyong. Tidak. Jika Jeno dan Sungchan tidak berbohong soal kronologi pingsannya Mark, maka seharusnya ia bangun tidak lama lagi. Yang benar saja hanya karena dipanggil oppa, anak ini langsung pingsan? Pikirnya.
"Hng..,"
Erangan halus dari sang anak membuat keduanya tersentak. Mark mulai menjemput kesadarannya dengan mengedip-ngedipkan sepasang matanya dengan senyum yang terkembang jelas.
"Nana.."
Tanpa banyak kata, Taeyong menyentil kening Mark cukup keras hingga membuat anaknya mengaduh kesakitan.
"Papa..."
Wajah Mark dibuat semelas mungkin agar ayahnya itu kasian dan menolongnya dari situasi yang menyeramkan ini.
***
"Jae, ini tidak bisa dibiarkan. Mereka perlu ajaran lebih lanjut."
Jaehyun menghela napas, memang benar. Kelakuan anak-anaknya sudah diluar batas.
"Bagaimana kalau kita pulangkan saja Nana? Aku rasa sulit sekali untuk mengurus anak carier dikelilingi anak-anak kita. Aku merasa gagal menjadi orang tua, Jae.."
Taeyong yang menangis langsung dipeluk oleh Jaehyun.
"Tidak, sayang. Tidak begitu, jangan menangis ya. Kita bersama-sama mendidik mereka?"
"Tunggu disini, aku akan menelepon Yuta hyung."
Jaehyun langsung berdiri untuk menghubungi kakak tingkatnya semasa sekolah dulu.
"Halo hyung?"
"Oh, Jaehyun-ah, wae? Apa terjadi sesuatu dengan Nana-ku disana?"
Jaehyun hanya bisa menggaruk tengkuknya sebelum menjawab-
"Hyung, aku benar-benar minta maaf tapi aku rasa aku akan memulangkan Nana lebih awal ke tempatmu. Ini bukan karena dia merepotkan atau membebankan. Tidak seperti itu hyung."
Yuta diseberang sana hanya diam, tak merespon sama sekali alhasil Jaehyun kembali berucap.
"Tiga anakku masih perlu banyak didikan untuk menghargai carier dan wanita disekitarnya.. Melihat bagaimana interaksi mereka pada Nana membuatku dan Taeyong tersadar bagaimana buruknya kami menjadi orang tua.. aku minta maaf, hyung."
"Jaehyun-ah. Tidak apa-apa, mereka masih kecil dan kau juga Taeyong tidak gagal dalam mendidiknya. Aku tau kalian sudah berusaha sebaik mungkin, kan? Didikan keras pada anak dominan memang sangat perlu sejak dini. Dan aku harap kau bisa berhasil mendidik mereka bertiga nanti menjadi lelaki yang bermartabat dan bertanggung jawab. Jangan repot-repot mengantarnya, aku akan menjemputnya sendiri besok."
"Sekali lagi, aku minta maaf hyung.."
"Jangan minta maaf. Atau aku akan marah padamu."
"Terima kasih, hyung."
"Winwin memanggilku, aku tutup teleponnya ya."
***
Tidak Mark, tidak Jeno, tidak juga Sungchan, mereka bertiga cukup bingung dengan bubunya yang tampak lebih diam hari ini. Biasanya jika mereka mendempet pada Nana, Taeyong langsung berteriak.minimal bertanya pada mereka. Tapi hari ini tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
NANA
FanfictionHidup diantara 3 bersaudara Jung, membuat hidup Nana terombang-ambing karena harus menahan gejolak rasa yang selalu datang tiba-tiba. Belum lagi, kala mereka bertiga bersatu untuk menyenangkan hatinya. Ini kisah Nana, yang penuh cerita diantara 3 an...
