*10 | Namanya Bukan Paijo

4 0 0
                                    

Sebelum lanjut baca, silakan Vote dan komentarnya. Mari membiasakan diri mengapresiasi suatu karya.

Happy Reading♡

***

"Raka ... itu beneran lo bukan?"

Pertanyaan kedua Fey sama-sama tidak membuahkan hasil. Raka tetap diam, dan Fey jadi semakin penasaran. Apakah kebenarannya akan sesuai dugaannya atau tidak?

Lantas Raka tertawa. Lagi-lagi tawa itu, benak Fey.

"Lo pikir di dunia ini yang punya wajah kayak gini cuma gue doang?"

Wajah Fey berubah kecut.

"Lo pernah denger nggak kita itu punya tujuh kembaran di Bumi," Raka menjelaskan, namun wajahnya mendadak serius. "Jadi mungkin yang lo lihat itu salah satu kembaran gue, dengan wajah sama persis."

Hah?

Gimana-gimana?

Fey nggak salah dengar 'kan? Fey kira seorang Raka Andrian Dinata akan selalu berpikiran realistis. Tapi ternyata ... pikirannya se-random itu.

Fey tak serta merta menelan alibi Raka bulat-bulat. Rasanya aneh saja jika dipikir-pikir. Fey memang pernah membaca soal itu di beberapa buku. Tapi, dia tidak pernah berekspektasi kalau tingkat kemiripannya akan sama persis.

Tidak mau dikira terlalu kepo, Fey pun akhirnya memilih setuju. Terpaksa ia pendam rasa ingin tahunya, supaya Raka tidak besar kepala. Nanti dia kira Fey sepenasaran itu tentang dirinya. Walaupun sebenarnya memang benar begitu.

"Iya, kayaknya emang gue yang salah sangka."

Raka lanjut menulis. Sebisa mungking ia menyibukkan diri. Agar tiada siapapun tahu jika dia tengah menutupi sesuatu.

"Udah selesai?" Fey melongokkan kepalanya sedikit. Menilik hasil tulisan Raka di buku tugasnya. Namun sedetik kemudian, senyum semringah yang semula terpatri di bibir merah muda Fey lenyap. Fey menyesal. Iya, benar-benar menyesal.

"RAKA STOP!" Si lelaki sontak menghentikan pergerakannya ketika mendengar seruan Fey yang nyaris menggema pada tiap-tiap sudut ruangan itu.

"Kenapa?"

Masih dengan wajah yang sulit diartikan, Fey menarik kasar bukunya. Memampangnya ke atas seakan sedang menerawang rupiah. "Tulisan lo ... emang mirip ceker ayam gini?"

"Enggak."

"Terus ini?"

"Sengaja gue jelekin, biar nggak kentara kalau gue yang ngerjain."

What the hell, Yang bener aja!?

Fey mendengus tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sebentar-sebentar, ini maksudnya tulisan Fey seburuk itu apa? Sampai-sampai dibuat jelek begitu. Kalau begini Fey juga tidak terima.

"Jadi maksud lo tulisan gue jelek?!"

"Gue nggak ngomong tulisan lo jelek."

"Tapi tulisan lo yang jelek ini seakan-akan nyindir kalau tulisan gue jelek!"

"Pikiran lo nggak usah negatif terus bisa nggak?" Raka menghela napas dalam, lagi-lagi disalah-artikan. Akhirnya dia letakkan lagi pulpen itu di atas buku. Kemudian tangannya bersedekap sembari menyandar di punggung kursi. "Sekarang maunya gimana? Gue lanjutin atau enggak nih?"

Fey terdiam bimbang. Lama menimbang-nimbang, dan tidak jua mengambil keputusan. Sampai Raka geram sendiri menunggunya.

"Gimana?" tuntutnya meminta kepastian.

To RAFELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang