Fey masih dalam keterkejutan yang jelas. Bukan hal besar, tapi rasanya tidak biasa mendapati laki-laki bernama Rayyan ini mengantarnya ke rumah.Setelah dibuat bingung oleh kata-katanya, rupanya Rayyan belum selesai membuat Fey berpikir keras atas tindakannya. Malam ini Rayyan bersikap seolah-olah dia tidak ingin ditinggalkan sendirian.
Sepertinya Fey harus menanyakannya sekarang juga. Mumpung jarak dengan rumahnya masih seratus meter lagi.
"Ray ...."
"Hm?" Rayyan menoleh ke arah Fey.
"Gue mau tanya boleh?"
"Soal apa?"
Fey berdeham sejenak. Membasahi kerongkongannya yang kering dengan saliva. Entah apa yang membuatnya sangat berhati-hati begini, padahal biasanya juga asal ceplos.
"Boleh gue tahu ... Alasan dari semua sikap lo malam ini?" Fey melihat ke dalam netra Rayyan yang masih penuh dengan kesedihan. "Maksud gue, gue bukannya kepo dengan masalah lo, tapi-"
"Lo mau tahu kenapa gue kayak gini?" interupsi Rayyan.
Fey mengangguk kaku.
Ia pikir Rayyan akan bungkam dan enggan berbagi perasaannya. Toh, seharusnya Fey tahu diri juga dengan posisinya yang hanya sekadar orang luar.Rayyan terdiam cukup lama. Ya, Fey mengerti, pasti butuh waktu dan keyakinan untuk bercerita. Bahkan Fey sudah tidak berharap Rayyan akan menjawabnya.
"Gue lagi ngerasa satu per satu orang yang gue sayang bakal pergi dari hidup gue." Rayyan menghela napas dalam. "Dan gue udah kehabisan cara buat nahan mereka supaya nggak pergi."
"Maksud lo, mereka siapa?"
Rayyan menatap Fey sejenak, lalu tersenyum nanar. "Ayah, bunda, dan ... Raka."
Langkah Fey mendadak terhenti. Ia lantas menatap penuh tanya pada Rayyan yang ikut bergeming. "Tunggu dulu, gue nggak ngerti ... Mereka mau pergi kemana?"
"Ayah gue udah punya dunianya sendiri si luar sana, Fey ... Dia pergi jauh dari gue, bunda dan Raka."
"Sementara bunda, meskipun gue mau dia tetap di sini, tapi kenyataanya cepat atau lambat dia memang harus pergi. Ke tempat yang nggak bisa gue jangkau."
Dada Fey tiba-tiba menjadi sesak. Serasa dihimpit beban tak kasat mata yang begitu besar. Fey tidak mau berpikiran buruk tentang bundanya Rayyan, tapi ...
Sulit menebak hal positif di tengah wajah sendu yang ditampakkan Rayyan.
"Bunda gue sakit Fey. Sakit keras. dokter bahkan vonis kalo bunda nggak akan bisa bertahan lebih dari 3 bulan."
Kenapa sih pikiran negatif selalu menang?
Apa karena terus-menerus dipikirkan sehingga lama-lama semesta mewujudkannya menjadi nyata?
Atau sebetulnya, tidak ada pikiran negatif karena yang ada adalah intuisi manusia yang terlalu peka?
Butuh berdetik-detik lamanya supaya Fey bisa mencerna situasi muram yang tercipta. Suasana jadi canggung karena topik pembahasan mereka terlampau biru.
Hanya langkah kaki yang mulai terdengar lagi di jalan Bougenvile itu. Tidak ada kata yang berani terlontar dari lekuk bibir keduanya. Sunyi dan pekat malam turut menambah kecanggungan.
"Maaf ya," kata Fey pelan. Entah, ia merasa harus mengatakannya saja meskipun tidak perlu. Toh, Rayyan sendiri yang memilih ingin terbuka kepada Fey.
Rayyan terkekeh. "Ngapain minta maaf segala sih?"

KAMU SEDANG MEMBACA
To RAFEL
Roman pour Adolescents"Lo mau tahu, Ka, kenapa gue pilih hidup sebagai pembangkang?" Raka terdiam membiarkan gadis itu mengungkapkan isi hatinya sendiri. "Karena ...." Tidak ada yang tahu alasan apa yang membuat Fey betah dikenal sebagai pembangkang ulung yang disegani...