12. 🍓

34 15 2
                                    

.
.

Aera memandangi langit malam dibalkon kamarnya. Ia berpikir untuk segera memberikan Juan hadiah dan setelah ini ia bisa menjauhi Juan seperti yang Hana minta.

Kemudian ia turun kebawah untuk mencari ayahnya yang ternyata sedang menyeduh kopi didapur.

"Ayah.." panggil Aera yang membuat Jordan menoleh kearahnya.

"Iya kenapa"

"Aera mau minta ijin. Aera mau kerumah Juan sebentar"

Jordan melihat kearah luar melewati jendela didapur nya. "Ini udah malam. Emangnya mau ngapain sih?"

"Emm sebentar aja ayah. Aera janji"

"Apa perlu ayah temenin?" Tawarnya.

"Gak perlu. Aera bisa sendiri kok"

"Yaudah. Hati-hati ya"

"Ya ayah"

Setelah itu aera segera keluar rumah untuk pergi menuju rumah Juan. Ini kali kedua Aera keluar malam sendirian setelah pertama kali pertemuannya dengan Juan. Suasana malam ini sangatlah dingin hingga sedikit membuat Aera menggigil.

Terlihat rumah Juan dengan lampu yang terlihat redup. Aera bahkan bergidik sendiri melihatnya. Bisa dibilang jika rumah Juan adalah rumah yang paling seram ketika malam hari tiba.

Aera kini sudah berada di depan pintu rumahnya, namun tangannya tak bisa menjangkau bel yang posisinya cukup dikatakan tinggi. Dan yang lebih parah Aera lupa membawa ponsel untuk menghubungi Juan.

"Dasar Aera bodoh!" Makinya pada diri sendiri.

Lama Aera berada didepan pintu seraya mengetuknya berharap sang empu rumah mendengar. Namun tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya.

"Mungkin Juan udah tidur," lirihnya dan hendak berbalik untuk pulang.

"Ngapain disini hm?" Bisik seseorang dari arah belakang Aera yang membuatnya sedikit berjengit. Jantungnya berdebar karena bau amis darah terasa sangat jelas oleh penciumannya.

Aera dengan cepat melihat kearah belakang untuk melihat siapa yang berbisik tadi. "Juan?" Tanya Aera seraya melemaskan bahunya lega.

Juan terlihat memakai Hoodie dengan kupluknya serta masker, tak lupa juga kaos tangan hitam yang tengah ia lepaskan.

Aera paham apa yang telah Juan lakukan sebelumnya. "Maaf aku salah sasaran," ucapnya yang membuat Aera berpikir.

"Aku kira itu Raksa, tapi ternyata orang lain yang mati," penuturan Juan sukses membuat Aera membolakan matanya.

"Ma.. maksud kamu apa?"

"Raksa itu targetku. Tapi aku salah orang," desisnya dengan seringaian kecil.

"Kenapa harus Raksa? Salah apa dia sama kamu?" Tanya Aera dengan sedikit menaikkan oktaf suaranya.

"Kamu khawatir sama dia? Maka aku pastikan dia akan benar-benar mati," sarkasnya tajam.

"Apa salah dia?" Aera mengulangi pertanyaannya.

"Cih! Sekhawatir itu kamu sama dia?"

"Na.." tutur Aera dengan suara bergetar.

Juan dengan kasar mendorong kursi roda Aera kedalam rumahnya hingga membuat sang empu hanya bisa pasrah seraya menutup matanya kuat menahan takut.

Setelah sampai di ruang tamu ia memberhentikannya kemudian berjalan kedepan untuk berhadapan dengan Aera. Juan berjongkok dengan satu kaki yang menumpu agar melihat jelas wajah Aera yang sudah basah karena air mata.

Strawberry || My psycho loves ice cream ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang