Apa jadinya jika cewek gamers yang super dingin dipasangkan dengan cowok pecicilan?
Terlihat mustahil. Tapi mungkin bisa saja mereka bersatu. Anna sang ratu es, harus pindah sekolah. Tapi ia memilih jurusan yang lumayan ekstrim untuk perempuan-perem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markas ramai dengan kehadiran penghuninya. Namun tak ada keseruan seperti biasanya, setiap orang memilih diam. Anna menatap satu persatu temannya yang bungkam dari tadi.
"Kalian kenapa pada diem-dieman gitu? Katanya mau latihan gimana sih."
Empat sekawan didepannya mendongak menatapnya. "Oh-iya, An. Ayo latihan.." ujar Sandi pelan.
Raihan bangkit, "Heeh ih malah pada diem, yok semangat ah!"
Refleks Angga dan Ipan juga ikut bangkit. Ipan meraih ponsel gamingnya, lalu ia meraih ponsel-ponsel yang lain untuk dibagikan ke masing-masing penggunanya.
"Si Iqbal gak kesini, ya?" tanya Anna tiba-tiba yang berhasil menghentikan pergerakan empat sekawan didepannya.
"Kayaknya dia gak ngikut dulu.."
"Iya, lagian dia dari pagi di UKS terus dianterin balik sama si Nanang siangnya." Anna mengangguk ringan.
"Yaudah, lagian kasian banget tadi. Sampe pucet banget wajahnya." ujarnya dengan nada santai.
Yang lain melongo melongo melihat sikap santai Anna, seakan-akan masalah pagi tadi tak ada penting-pentingnya. Mungkin.
"Ayo mulai, napa malah pada bengong gitu."
"Lets go, guys!" seru Raihan setelah sadar.
✨✨✨✨✨
Lylia dibuat bingung dengan sikap putranya hari ini. Pasalnya sejak diantar pulang oleh temannya, Iqbal hanya diam dikamar. Lylia ingin memeriksa keadaannya, namun pintu kamar itu selalu terkunci.
Bagas masuk ke rumah dan mendapati istrinya yang sedang bolak balik didekat tangga. Setelah mendapat telepon dari Lylia tentang keadaan putranya, Bagas langsung bergegas pulang. Walau terlihat cuek dan sangat suka menjahili anaknya, Bagas tetaplah seorang ayah yang sangat menyayangi putra tunggalnya itu.
"Dimana anak itu sekarang?"
Lylia langsung menghampiri suaminya, "Dia ngunci diri dikamar. Aku udah panggil-panggil, udah digedor-gedor juga. Tapi tetep gak ada respon."
"Kenapa gak didobrak aja?"
Lylia mencubit pinggang suaminya keras, membuat Bagas langsung meringis kesakitan.
"Aku itu perempuan, mana bisa dobrak pintu. Lagian satpam kan lagi ijin. Bi Sella mana bisa disuruh dobrak pintu, ngangkat galon aja masih suka dibantu.."
"Dobrak pintu hatiku aja bisa, masa dobrak pintu kamar Iqbal gak bisa--Aww ampun!"
Lagi-lagi pinggangnya jadi sasaran empuk. Lylia menatap jengah suaminya yang tengah mengusap-usap bekas cubitan mautnya.