Apa jadinya jika cewek gamers yang super dingin dipasangkan dengan cowok pecicilan?
Terlihat mustahil. Tapi mungkin bisa saja mereka bersatu. Anna sang ratu es, harus pindah sekolah. Tapi ia memilih jurusan yang lumayan ekstrim untuk perempuan-perem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini Anna berencana akan pergi ke markas XL atau Xillustrious sesuai janjinya. Ia pun segera bersiap, setelan santai menjadi pilihannya. Kaos putih polos dibalut cardigan rajut berwarna hitam, juga celana jeans putih dan sepatu hitam. Tak lupa rambutnya ia kucir, sederhana namun tetap saja ia terlihat cantik.
Setelah dirasa cukup, Anna pun bergegas menemui sang mama yang ia yakini sedang berada di ruang tengah. Dan dugaannya benar, mamanya sedang menonton tv bersama Alan, Fanny dan Leon.
Sekilas info, Leon belum kembali lagi ke London karena sebelum pulang ia sudah menjalani sidang skripsi lebih awal. Sekarang ia hanya menunggu untuk diwisuda saja. Jadilah ia terdampar dirumah karena sangat malas kalau harus berada di London tanpa kegiatan.
"Ma, Anna mau izin keluar bentar."
Tak hanya Mia, semuanya malah ikut menoleh ke arah Anna. "Mau kemana, sayang? Ini udah malem."
"Anna ada janji sama temen. Gak bakal lama kok, lagian ini baru jam 7. Anna pulang jam 10."
Alan dan Leon tiba-tiba bangkit. "Mau abang antar?" "Mau abang antar?"
Leon panas, ia tak mau kalah juga. "Biar abang aja. Kamu malam ini harus belajar buat tes masuk universitas."
Alan mendengus kesal, "Itu udah dari kemaren-kemaren juga belajar."
"Yaudah tinggal belajar lagi biar lebih pinter."
"Enggak! Alan udah pinter, nanti pasti lulus kok."
Anna menghela nafas, ia pun mendekat ke arah Mia lalu mencium tangannya. "Anna berangkat dulu, Ma. Nanti pulangnya dianterin lagi kok sama temen.", ucapnya sedikit berbisik.
Mia tersenyum kemudian mengangguk, "Hati-hati dijalannya ya, bilangin temennya jangan kebut-kebutan."
"Iya, Ma. Fan, gue keluar dulu, pastiin itu duo bujangan jangan sampe gelud.", pesannya pada Fanny. Fanny terkekeh lalu mengangguk mantap.
Anna pergi meninggalkan perkelahian antar abangnya itu. Entah siapa yang akan menang, yang jelas mereka akan beradu mulut dalam waktu yang lama.
Sesampainya diluar gerbang, Anna merogoh saku lalu mengeluarkan ponselnya.
"Hallo, gue udah didepan." *tut
Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepannya. Kaca mobil samping pengemudi terbuka, menampilkan sosok pria tampan.
"Ayo naik."
Anna berjalan memutari mobil lalu masuk. "Thanks udah jemput gue, Angga."