Bab 6 Omelan

3.2K 168 9
                                        

Biasakan
vote dahulu sebelum membaca☺️

Happy Reading🙏🙏

"Moa yang mana?" Tanya Winda sambil menyipitkan matanya menatap tajam pada keempat temannya. Dia bingung siapa yang dimaksud oleh teman-temannya. Sempat terbesit seseorang yang dia kenal, tapi dia berharap orang yang mereka maksud bukan orang yang sama dengan yang ada dalam pikirannya. Jika iya, maka habislah mereka.

"Tentu saja Moana, Moana Karim" Niken menjawab dengan mantap pertanyaan Winda. Dia menatap Winda dengan heran karena wajah Winda yang tampak kebingungan.

Mendengar nama itu ekspresi Winda benar-benar berubah. Mata Winda seketika membesar mendelik pada teman-temannya satu per satu dengan dengan tatapan tidak percaya.

" Kalian mencari mati ya" desis Winda pada keempat temannya itu.

Keempat orang itu terheran pada perubahan ekspresi Winda yang seketika menjadi pucat pasi dan ketakutan.

"Bukankah sudah kukatakan jangan mengusik orang itu!" Desis Winda penuh penekanan dan juga marah pada ketiga teman nya selain Niken.

Ketiganya langsung menunduk diam, sepertinya masalah mereka tidak sesederhana yang mereka pikirkan sebelumnya.

"Kalian dalam masalah besar. Aku tidak bisa membantu kalian kalau sudah menyangkut Moana" desah Winda sambil mengangkat tangan tanda dia menyerah dan tidak mau ikut campur.

"Kenapa kamu begitu takut pada perempuan itu?" Niken merasa heran dan memberanikan diri bertanya karena dia begitu penasaran kenapa banyak yang sangat segan pada Moa. Bahkan Winda yang papanya mempunyai kedudukan di kampus ini pun menghindari Moa.

Winda hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan Niken. Dia hanya menatap Niken dengan tatapan yang tajam yang menghujam membuat niken langsung tertunduk takut.

Ketiga teman yang lain juga sebenarnya penasaran. Winda yang mereka kenal selama ini selalu percaya diri, dan begitu berkuasa. Kenapa sekarang seperti begitu segan berurusan dengan Moa.

Winda menghela nafas dengan berat hati diapun harus memberi tahu mereka.

"Bukankah aku sudah menyuruh kalian agar tidak menari masalah dengannya. Semua itu bukan tanpa alasan. Kakeknya merupakan salah satu dari pendiri kampus ini dan merupakan penyumbang dana terbesar untuk kampus ini. Jika papaku tahu dengan siapa kalian bertengkar. Kemungkinan besar kalian lah yang dikeluarkan dari kampus ini."

" Berdoa saja semoga Moa tidak melaporkan pertengkaran kalian pada orang tuanya. Jika Keluarga Karim sampai turun tangan maka tamatlah riwayat kalian" ujar winda yang membuat wajah teman-temannya semakin pucat.

" Selain pengaruh orang tuanya, kalian rasakan sendiri kegilaannya kan? Kalian ber empat babak belur begitu hanya melawan dia seorang. Asal kalian tahu, dulu aku satu SMA dengannya. Dia pernah membuat aku babak belur dan harus dirawat di rumah sakit selama 10 hari"

" Masih beruntung kalian hanya compang camping begini. Kalau kegilaannya kumat, bisa-bisa kalian semua mengalami patah tulang" jelas Winda sambil menatap teman-temannya satu per satu.

Keempat temannya hanya bisa meneguk saliva mereka dengan susah payah karena rasa takut yang seketika menghinggapi mereka.

"Ja..jadi...kita harus bagaimana Win?" Ujar teman-temannya dengan suara bergetar dan cemas.

Mereka tidak menyangka keisengan mereka kali ini ternyata salah target. Bukan kesenangan yang mereka dapat, justru kini tubuh mereka yang babak belur bahkan kini mereka terancam didepak dari kampus.

Save MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang