Moa tetap sibuk menginput data di komputernya sambil menunggu satpam yang berpatroli turun kembali ke lantai bawah.
Setelah menunggu sekitar satu jam dan merasa situasi sudah aman. Moa mulai bergerak. Berjalan menuju ke ruangan arsip dan mulai mencari berkas yang dia cari.
Senyum Moa langsung merekah saat dia mendapatkan apa yang di acari. Cepat- cepat Moa mengambil gawainya dan memfoto berkas-berkas itu semuanya. Setelah selesai Moa meletakkan berkas itu ke tempatnya semua dengan hati lega. Ternyata dia tidak mengalami kesulitan untuk misinya kali ini.
"Kamu sedang apa di ruangan ini" sebuah teguran dari ambang pintu seketika membuat Moa tersentak kaget.
Moa segera berbalik melihat siapa yang berada di ambang pintu "Astaga, kamu mengagetkanku Erick" Moa Menghela nafasnya berusaha bersikap tenang. "Aku kira ada hantu"
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Erick sekali lagi sambil menatap Moa tajam penuh curiga.
"mmm...itu.....Hanya mencari arsip yang dibutuhkan" jawab Moa sedikit gugup tapi Moa berusaha bersikap tenang seolah-olah dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Benarkah?"
"Tentu saja, kamu pikir apa yang aku cari di ruangan ini kalau bukan arsip?"
"Arsip apa?" selidik Erick masih dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Tentu saja arsip pendukung dari data-data yang aku input sekarang. Gara-gara harus menginput semua data itu aku sampai harus lembur sampai jam segini" jawab Moa sambil pura-pura menggerutu.
"oh ya?" Erick terlihat tetap mencurigai Moa dan hal itu membuat Moa jadi was-was tidak tenang.
"Kamu sendiri, sedang apa kamu malam-malam kembali ke kantor? Bukannya kamu tadi pulang bersama Niken?" tuding Moa balik.
"Aku mau mengambil sesuatu yang ketinggalan" jawab Erick.
"Kalau begitu ambillah dan segera pergi." Desak Moa.
Mata Erick memicing menatap Moa curiga "Kenapa kamu terkesan mengusirku?"
Moa jadi salah tingkah dan menghindari tatapan curiga Erick "Tidak. Aku tidak sedang mengusirmu" elak Moa cepat.
"Kemarikan gawaimu. Apa yang kamu foto dari tadi" selidik Erick sambil mengulurkan tangannya meminta gawai yang sedang dipegang Moa.
"A...apa? tidak ada apa-apa di gawaiku" elak Moa dengan gugup. Sambil menyembunyikan gawainya di belakang tubuhnya.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa kamu bisa segugup itu. Kemarikan" paksa Ercik bersikeras untuk memeriksa gawai Moa.
"Kamu mencurigaiku?? Apa hakmu memeriksa gawaiku? Lagipula kamu bukan siapa-siapa di perusahaan ini?" elak Moa berusaha mencari cara agar terbebas dari kecurigaan Erick.
"Kemarikan atau saya panggil satpam kesini!" ancam Erick dengan nada penuh ancaman yang membuat Moa mulai tersudut.
Moa tidak langsung menyerahkan gawainya, dia terdiam sejenak memikirkan cara untuk mengelak dari ancaman Erick.
"Berikan sekarang atau saya panggil satpam sekarang juga!" ancam Erick dengan nada yang membuat Moa takut.
Dengan terpaksa Moa menyerahkan gawainya pada Erick. Pria itu segera mengotak atik benda itu dan menemukan semua gambar yang barusan Moa foto.
"Kamu mencuri semua arsip ini?Kamu pasti mata-mata. Apa tujuanmu? Kamu dikirim oleh perusahaan mana? Apakah perusahaan Karim?" tanya Erick bertubi-tubi.
"Kalau berkas ini sampai dicuri oleh perusahaan lain, pasti perusahaan kita akan mengalami kerugian. Ini masalah serius, Kamu bisa berurusan dengan polisi jika hal ini diketahui oleh pihak perusahaan" Ancam Erick.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me
RomanceHi, Reader.... Yg sudah pernah membaca pasti tahu ini sama dengan cerita crazy girl yg sempat hiatus. Sekarang saya lanjutkan dengan merubah judul dan ada beberapa perubahan alur cerita. Seperti biasa cerita ini mengandung unsur Dewasa 21++ ⚠️⚠️⚠️ ...
