Part 11

12K 1.3K 74
                                        

Setelah pulang sekolah, Ashel segera menuju ke ruang Osis karena kemarin ia telah berjanji dengan Zee akan ikut rapat jika ia setuju menjadi pengurus Osis.

"Permisi." Ashel mengetuk pintu sopan membuat pasang mata yang berada di dalam ruangan menoleh kearahnya.

"Ashel ya? Masuk gih. Berarti lo setuju jadi pengurus osis buat gantiin Flora?"

"Iya, Kak." Ashel mengangguk mantab. Dia duduk di kursi kosong dekat pintu. "Maaf, saya terlambat. Tadi lagi piket bentar di kelas."

"Gak papa. Santai aja. Ini juga belum mulai kok. Dia pengurus Osis baru dari sebelas IPA 2. Pengganti Flora. Namanya Adzana Shaliha." Tiga puluh orang lainnya sebagai perwakilan kelas masing-masing yang mengisi setiap bagian di pengurusan segera bergiliran memperkenalkan diri.

Untuk rapat kali ini membahas tentang sistem Mading sekolah yang biasanya di buat beberapa orang saja. Tapi kali ini mading sekolah akan di buat berbeda, yaitu di buat per kelas dan bergilir.

"Oke gue setuju." Gaby, perwakilan kelas XII IPS 1 terlihat setuju. "Gak etis banget tiap bikin mading, anak osis mulu yang buat."

"Iya, setujuuu." Seru yang lainnya.

Zee melirik Ashel. "Ashel, gimana?"

"Eh..ee setuju, Kak." Ashel mengangguk. "Suka sama kata kak Gaby, biar lebih merata jadi di buat sistem bergilir aja.

"Okedeh."

Satu jam rapat berlangsung akhirnya membuahkan hasil yang tidak sia-sia. First impression Ashel ke ketua osis SMA 48 Jakarta itu : ganteng, pinter, ramah, sopan, baik. "Rapat gue cukupkan sampai disini dulu. Bakal gue omongin keputusan ini ke Wakil Kesiswaan agar bisa di omongin baik-baik ke ekskul mading."

Rapatpun selesai. Zee bangkit dari kursinya dan diikuti oleh pengurus lainnya.

Saat mereka akan keluar ruangan, mendadak orang yang paling depan berhenti. Otomatis yang di belakang juga ikutan berhenti. "Kenapa?"

Gaby menggerakkan dagunya, agar Zee keluar dan melihat sendiri.

Zee berjalan keluar dan telonjak saat melihat Adel sudah berada di samping pintu. "Ngapain lo disini? Mau ikut rapat juga?"

Adel menoleh dan membuat mata keduanya bertatapan. "Bukan urusan lo."

Sementara Ashel yang masih berada di dalam terlihat bingung ketika anak Osis tidak segera keluar ruangan. "Ada Adel di depan." Gaby berbisik. "Gawat nih, pasti nyari gara-gara tuh."

Adel ??

Ashel segera keluar, menyeruak di antara mereka yang masih berkerumun di pintu. Di lihatnya wajah Adel yang begitu datar. Tidak ada ekpresi apapun disana. "Adel? Kamu ngapain disini?"

Adel segera bangkit dari duduknya dan sempat melempar kaleng susu beruang kesukaannya ke tempat sampah. "Nungguin lo. Yuk pulang."

"Pulang?" Ashel mengernyitkan dahi.

"Gue udah nunggu satu jam disini."

Semua yang ada disana tampak kaget, mereka kira akan ada adu mulut lagi antara Zee dan juga Adel. Pasalnya, Adel ini tipe junior yang berani melawan senior.

"Yaudah, Kak Zee aku pamit pulang duluan ya?" Ashel berpamitan dengan Zee dan juga semua pengurus Osis sambil menatap Adel tajam. "Aku duluan yagesya."

Tidak ada suara sahutan di mereka. Adel menatap Ashel singkat, Keduanya berjalan melewati koridor kelas untuk menuju ke parkiran motor. "Temen2 gue udah pada pulang. Jadi, aman kok." Adel menjawab pertanyaan Ashel yang terlihat gelisah saat ia melirik ke arah gerbang.

Cewek KulkasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang