Rainhard menatap raina yang terlihat melamun di dekat jendela kamar. Saat ia ingin menghampirinya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Rainhard menghela nafas berat, lalu menjawab panggilan itu.
"Kamu senggang kan? Pap–"
"Maaf pah, aku enggak bisa"
"Papah belum selesai bi–"
"Rainhard sibuk. Rainhard tutup ya telponnya"
"Kam–"
Beberapa kali Rainhard terlihat acuh kepada papahnya. Memang sudah seharusnya ia tidak ikut campur masalah kedua orangtuanya, ditambah lagi dengan kehadiran Raina yang sudah sah menjadi istrinya.
"Rainhard, ngapain lo disitu?"
Rainhard sedikit tercengang mendengar pertanyaan Raina. Ia yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Raina.
"Sori, gue enggak bermaksud bu–"
"Engga apa-apa. Gue enggak ada hak ngelarang lo masuk ke dalam kamar ini"
Raina duduk di tepi kasur, lalu menyuruh Rainhard untuk duduk di sebelahnya. Rainhard yang mendapat perlakuan manis dari Raina, memilih duduk tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Menurut lo, rain....."
Tatapan mereka bertemu. Raina yang belum menyelesaikan ucapannya langsung bungkam seketika. Tidak mungkin ia menanyakan tentang Raindra kepada Rainhard.
Rainhard yang menyadari kegelisahan Raina dari matanya, akhirnya membuka suara.
"Raindra?"
Raina menundukkan kepalanya. Entah keberanian muncul dari mana, Rainhard mengusap puncak kepala Raina. "Mau cerita?"
"Gue malu"
"Gue akan jadi pendengar yang baik, kalau lo mau terbuka sama gue"
Raina menatap mata Rainhard yang terlihat serius dengan ucapannya. Tanpa disadari olehnya, senyuman tipis terlihat diwajahnya.
"Sebenarnya gue mau cerita tentang raindra. Tapi gue masih punya rasa malu. Apa boleh gue ceritain cowok lain di depan suami gue?"
Rainhard merasakan darahnya berdesir. Ada rasa bahagia saat Raina sudah mau menganggap dirinya sebagai suami. "Cerita aja" ucapnya meyakinkan Raina.
"Gue ngerasa, ada sesuatu yang di tutupi raindra"
"Tentang apa?"
"Gue masih enggak yakin. Tapi saat gue ngeliat reaksi tubuh dia yang keliatan.... Lemah? Kayanya, di– Arghh!"
Rainhard membawa tubuh Raina kedalam pelukannya. Bahkan Raina sendiri tidak menyadari air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.
"Bantu gue...." lirihnya.
"Rainhard, lo mau bantu gue kan?" ucap Raina sekali lagi.
"Gue akan bantu lo. Kita cari tahu kebenarannya sama-sama. Tapi gue mohon sama lo, jaga kesehatan. Jangan sampai karena hal ini, lo sakit"
Raina menganggukkan kepalanya, lalu membalas pelukan Rainhard yang membuatnya nyaman.
•¤•¤•¤•
Sepulang sekolah, Raina meminta Rainhard untuk menemaninya ke rumah sakit menemui Dokter Andy. Tadi di sekolah, Raina merasakan perubahan sikap Raindra. Sahabatnya itu terlihat menghindarinya dengan berbagai alasan. Raina semakin yakin, sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Teen FictionRaina Putri Aurelia, wanita yang jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain kecuali dengan sahabat laki-lakinya. Ia sering sekali dilibatkan oleh berbagai masalah karena sahabatnya itu. Tanpa ia sadari, teman laki-lakinya dimasa lalu hadir dengan...