Part 5

51 7 0
                                    

Terik matahari masuk melewati cela-cela jendela kamar raindra. Terlihat seorang wanita sedang berbaring disofa dengan wajah yang terlihat sangat melelahkan. Raindrapun turun dari kasur dan menghampiri wanita itu yang masih terlelap, "Raina..."

Belum ada jawaban. Raindra berjongkok didepan raina, iapun menyikap rambut sahabatnya itu yang sedikit menutupi wajahnya. "Damai banget kalo lagi tidur" kekeh raindra sambil mengelus puncak kepala raina.

Raina yang masih terlelap merasakan ada sentuhan dikepalanya. Iapun mengerjapkan matanya lalu duduk disofa, "Lo bangun jam berapa? Ko gue engga dibangunin"

"Siapa bilang gue engga bangunin lo. Udah hampir setengah jam gue bangunin lo, tapi lo engga bangun-bangun. Lo tidurnya pules banget kaya kerbau"

Sebelum raina membalas perkataan raindra, suara ketukan pintu terdengar sedikit keras.

"Raina, raindra. Ayo cepat turun, nanti kalian telat kesekolah"

"IYA MAH"

Setelah raindra mengiyakan ucapan mamahnya, iapun langsung pergi menuju kamar mandi. Berbeda dengan raina, ia memilih untuk merapihkan tempat tidur raindra sambil menunggunya keluar dari kamar mandi.

Semalam raina menginap dirumah raindra, karena orang tua raindra memintanya untuk menjaga putranya semalaman. Raina yang tidak enak menolak permintaan orang tua sahabatnya itu langsung mengiyakan saja. Tidak lupa, ia juga memberitahukan orang tuanya supaya mereka tidak khawatir.
.
.
.
Rainhard mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Tidak butuh waktu lama ia sampai disekolah, banyak sorot mata yang menatapnya dengan tatapan kagum. Hanya dengan jaket hitam yang melapisi seragam putihnya, serta helm dan motornya yang berwarna serasi, kini ia menjadi tontonan para siswi SMA Sanjaya.

Kini ia sedang berada diparkiran, pandangannya pun terfokus kepada motor raindra yang sejak kemarin berada diposisi yang sama. "Mereka pulang naik apa?" batinnya

"RAINHARD!"

Suara teriakan menggema dipenjuru parkiran, siapa lagi kalau bukan Tristan. Rainhard menghampiri tristan yang berada tidak jauh darinya, "Ayo masuk kelas"

Rainhard sedikit risih karena disepanjang jalan menuju kelas, banyak siswi yang sedari tadi memperhatikannya. Disatu sisi ia tidak nyaman bersekolah disini. Tetapi disisi yang lain, ia merasa senang karena ia dipertemukan dengan teman kecilnya.

Kelas terlihat ramai dengan canda tawa dari beberapa murid. Tidak lama kemudian, raindra datang dan disusul dengan raina yang berjalan dibelakangnya.

Eric yang sedang memakan bekal ditempat duduknya langsung menghampiri raindra, "Sehat bro?"

"Ada angin apa nih? Tumben banget nanyain kondisi gue" kekeh raindra yang langsung mendapat pukulan dibahunya.

Saat raindra sedang tertawa kecil, tiba-tiba eric melemparkan sebuah kunci didepannya yang membuat ia terlonjak kaget. "Santai bosku... Kenapa jadi baperan gini"

"Gue engga baperan!"

Berbeda dengan raindra dan eric yang sedang bertengkar kecil. Kini rainhard semakin penasaran dengan kehidupan teman kecilnya itu.

Rainhard melirik tristan yang sedang sibuk membaca bukunya, "Raindra sama raina berangkat bareng?"

"Gue engga tau" ucapnya dengan mata yang masih terfokus kepada buku yang ia pegang.

"Tadi gue ngeliat motor raindra diparkiran, kayanya tadi pagi dia belum dateng deh"

"Motor dia dititipin disekolah, kemaren kan dia sakit. Kalo lo mau tau dia pulang naik apa, gue kasih tau nih, dengerin. Gue liat dia pulang bareng raina naik taxi"

RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang