Terlihat suasana pesta begitu meriah. Dekorasi tertata rapih, suara musik terdengar tidak terlalu keras, dan jangan lupakan. Ada beberapa siswa yang sedang berkumpul didekat pintu gerbang. Tristan mengadakan pesta dihalaman rumahnya. Sangat luas dan terlihat hijau dengan beberapa tanaman yang tumbuh didekat tembok.
Beberapa pasangan terlihat sangat menikmati pesta ini. Raindra dan raina yang baru saja sampai, berjalan mendekati tristan untuk memberikan sebuah kado. "Thanks you" ucap tristan dan langsung dijawab dengan senyuman oleh mereka.
Raina terlihat risih melihat pemadangan ini, beberapa kali ia melihat teman satu sekolahnya sedang bercumbu dipojokan. Ia tidak mengetahui pasti mereka kelas berapa, jika ia tahu. Sekarang juga ia akan melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah.
"Raina, lo kenapa diam aja?" tanya raindra yang tidak mengetahui apa-apa. Ia menatap arah pandang raina, iapun membulatkan matanya. Ini tidak benar!
"Gila! Mereka ciu-"
Sebelum raindra menyelesaikan ucapannya, raina terlebih dahulu menarik lengan sahabatnya untuk pergi dari situ. Mereka menghentikan langkahnya didekat rainhard yang sedang berbincang dengan tristan.
"Kalian kenapa?" tanya tristan
"Kita engga papa ko" jawab raina
"HELLO EVERYBODY! THE SCHOOL PRINCE IS COMING"
Sorot mata mereka semua terfokus kepada seseorang yang baru saja datang. Dengan senyum manisnya, baju yang tertata rapih, dan jangan lupakan. Orang itu datang dengan satu tangan memegang kado, dan tangan yang satunya memegang sebuah botol kaca yang ditaruh didalam paper bag. Siapa lagi kalau bukan Eric yang sedari awal sudah merancanakan ide gila ini.
"Happy birthday to you. Nih buat lo, pegangnya harus pake perasaan ya. Ini barang berharga" ucap eric lalu memberikan kado itu kepada tristan.
"Thank you" ucapnya dan memberikan kado itu kepada salah satu pelayan yang baru saja lewat. "Lo, beneran ma-"
"Iya dong! Omongan gue engga pernah bohong. Ayo, mau mulai sekarang?"
"Mulai apa? Terus itu apaan yang lo bawa?" tanya raina yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Main truth or dare" jawab eric. Lalu iapun memperlihatkan isi paper bag yang ia bawa, "Ini wine. Tadi disekolah si tristan, rainhard, sama raindra udah sepakat mau main game. Yang kalah harus minum ini"
"T-tapi kenapa harus wine? Emangnya engga ada hukuman lain selain minum itu? Kita masih sekolah, engga baik minum minuman kaya gitu. Lagian inikan di acara tristan, kalo kepala sekolah liat gimana?"
"Ya ampun raina... Sebentar lagi kita lulus, dan ini diluar sekolah. Diluar sekolah pa edgar sebagai bokap tristan, bukan sebagai kepala sekolah" jelasnya. Iapun sesekali melirik tristan, rainhard, dan raindra. "Kalau raina ikut kayanya seru nih" lanjutnya
Raindra membulatkan matanya. Pukulan mendarat dikepala eric yang membuat orang itu mengaduh kesakitan. "Engga usah bawa-bawa raina!" tegas raindra yang mulai menahan emosi.
"Iya-iya maaf...."
"Ayo" ajak tristan lalu berjalan mendekati sebuah bangku dipojokan halaman, ditengah-tengahnya terdapat sebuah meja bundar berukuran sedang. Merekapun menuruti perintah tristan untuk duduk disana.
"Jadi yang main cuma gue, tristan, rainhard, sama raindra ya" ucap eric sambil menaruh sebotol wine dan botol kosong di atas meja.
"Gue ikut!" ucap raina dan langsung menjadi pusat perhatian mereka berempat.
"L-lo yakin?" tanya tristan dengan wajah sangat meyakinkan. Raina menganggukkan ucapan tristan.
Raindra sempat memprotes keinginan sahabatnya itu. Bagaimana pun, raina bukan tipe cewek yang pernah minum minuman seperti itu. Disekolah memang ada beberapa siswi yang suka minum, teman kelas mereka pun ada yang pernah minum. Dengan kadar yang rendah tentunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Teen FictionRaina Putri Aurelia, wanita yang jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain kecuali dengan sahabat laki-lakinya. Ia sering sekali dilibatkan oleh berbagai masalah karena sahabatnya itu. Tanpa ia sadari, teman laki-lakinya dimasa lalu hadir dengan...