Kring!!
"Na, lo mau main sama raindra?" tanya rainhard yang sedang berdiri berhadapan dengan raina di parkiran.
"Iya, kenapa?"
"Kata mamah hari ini papah pulang. Lo bisa gak, pulang bareng gue? Batalin janji lo sama raindra..."
Raina sedikit bimbang dengan keputusannya. Ia tidak mau membatalkan janjinya lagi dengan raindra, tetapi ia juga harus ada dirumah saat papah mertuanya pulang ke indonesia.
"O-oke. Gue pulang bareng lo. Tapi, gue harus bilang dulu sama raindra"
Ya, memang sedari tadi raina berdiri didekat motor raindra sendirian. Sebelum bel pulang berbunyi, raindra disuruh datang keruangan kepala sekolah. Entah apa yang dilakukan raindra sampai ia disuruh datang kesana.
"Raina!"
Merasa namanya terpanggil, raina pun membalikkan badannya, melihat sipemilik suara yang sedang berjalan ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan raindra.
"Lo ngomong apa aja sama kepala sekolah?"
"Ada deh..."
Raina hanya bisa tersenyum paksa jika raindra tidak mau memberitahukan sesuatu kepadanya.
"Raindra, maaf.... Hari ini gue engga bisa main sama lo"
"Kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan raindra, justru raina melirik rainhard yang sedang berdiri disebelahnya. Raindra dapat menyimpulkan alasan raina dengan begitu cepat.
"Yaudah engga papa"
"Serius? Lo engga marah kan? Soalnya ini bukan yang pertama kali gu–"
"Gue engga marah na... Udah sana, kasian rainhard nunggu lo dari tadi"
"Iya, gue duluan ya"
Raindra menatap kepergian raina dengan senyum tipisnya. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat raina bersama rainhard. Ya walaupun raina sering bersamanya, tetapi ia tetap saja cemburu jika melihat mereka bersama. Raindra tidak bisa melakukan apa-apa. Rainhard berhak bersama dengan raina, karena mereka sudah terikat dengan pernikahan, walaupun hanya beberapa orang yang mengetahui itu.
•¤•¤•¤•
Sudah 1 jam salsa menunggu kepulangan suaminya. Ia sudah menyiapkan makan malam untuk dinikmati bersama, begitu banyak makanan yang ia masak sore tadi. Salsa lelah menunggu suaminya yang tak kunjung datang, ya walaupun sedari tadi ia hanya duduk disofa ruang tamu.
"Mah, mending mamah makan malam duluan. Nanti papah makan bareng sama rainhard"
Tidak memperdulikan ucapan sang putra. Kini salsa bangkit dari sofa, meregangkan ototnya yang sedikit kaku. Sesekali ia menatap pintu, berharap suaminya itu cepat datang.
"Mah, kita makan malam duluan aja yu. Mamah engga usah khawatir, mungkin papah lagi berhenti ditengah jalan, beli makanan untuk ganjal perut" ucap raina yang kini membuka suara.
"Tapi, mam-"
"Mah.... Mungkin yang dibilang raina benar. Mamah makan sana, ajak raina"
Rainhard terus membujuk mamahnya yang sedang gelisah. Raina pun sama, ia sesekali membujuk salsa supaya makan. Salsa yang memang sedari tadi lapar akhirnya memutuskan untuk makan mendahului suaminya.
Jam menunjukkan pukul 20:40. Salsa sudah lelah menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Kemana suaminya itu? Tidak mungkin kan suaminya tersesat dijalan? Salsa memijat keningnya yang sedikit pusing. Selang beberapa menit, ponsel miliknya berdering.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Novela JuvenilRaina Putri Aurelia, wanita yang jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain kecuali dengan sahabat laki-lakinya. Ia sering sekali dilibatkan oleh berbagai masalah karena sahabatnya itu. Tanpa ia sadari, teman laki-lakinya dimasa lalu hadir dengan...
