M - 2

1.1K 141 2
                                        

Sudah tiga hari mereka berada di alam bebas dan kini mereka akan kembali ke Jakarta untuk bekerja. Ali merapikan barangnya dan sudah masuk semua, ia menaruhnya di dekat tas Kaia. Namun saat akan melangkah, ia kembali membuka resleting tas nya dan memastikan barang-barang miliknya sudah masuk. Setelah sudah aman ia kembali menutup dan belum lama ia kembali membukanya, memeriksa lagi barang-barangnya. Hal itu dilakukan berulang kali, Kaia yang sejak tadi melihat itu pun segera menghampiri Ali.

"Ali udah."

"Eh, gue takut ada yang ketinggalan Kai." Sambil tangannya memeriksa kembali tasnya.

"Udah semua Li, kalo enggak lo bantu rapihin tenda aja sana, barang lo biar gue rapihin."

"Yaudah, pastiin jangan sampe ada yang ketinggalan." Ali berlalu menuju Baja dan membantu merapikan tenda.

Kaia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ali, dan kembali membereskan barang-barang Ali ke dalam tas. Setelah semuanya selesai mereka pun jalan menuju mobil yang berada di kaki gunung.

Sampai di bawah mereka memasukan semua barang-barang dan tas ke dalam bagasi mobil. Dan mereka memesan jagung bakar terlebih dahulu sebelum pulang.

"Mang, jagung bakarnya tujuh ya." Pesan Baja.

"Ditunggu ya."

Mereka duduk di saung yang tersedia, yang lain asik bergurau berbeda dengan Ali yang matanya menjelajah ke lingkungan sekitar, matanya di manjakan dengan pemandangan alam yang indah, membuatnya terpukau akan ciptaan Tuhan.

"Permisi Mas, Mbak, ini pesanannya."

"Makasih Mang, oh iya pesen teh hangatnya tujuh juga ya Mang."

"Baik Mbak."

"Nih Li makan dulu." Kaia menyodorkan satu buah jagung bakar pada Ali.

"Thanks."

Ali segera memakannya, matanya tetap melihat sekitar hingga ia mendapati sepasang kekasih yang berlarian dengan tawa bahagia, tiba-tiba saja ia mengingat kenangannya dengan Prilly, rasa bersalah itu datang lagi, ia tak dapat menahan rasa itu dan tanpa Ali mencengangkan tangan Kaia yang tetap duduk disampingnya.

"Ali kenapa?" Ujar Kaia.

"Gue jahat Kai, Prilly pergi." Lirihnya, dan untung Kaia masih dapat mendengar dengan jelas.

"Udah Li lupain, Prilly udah maafin lo." Jelas Kaia. Ia tak bisa melihat adiknya begini terus.

"Kangen Prilly Kai."

"Iya nanti ketemu ya, sekarang abisin jagungnya baru kita pulang, okey?"

Ali mengangguk dan segera memakan habis jagungnya yang memang tinggal setengah. Selesai makan mereka pun pulang, kali ini yang membawa mobil Iam.

Dalam perjalanan menuju bandara Ali sibuk dengan kamera dan laptopnya, ia sedang memindahkan foto-foto mereka selama camping kemarin.

"Bang."

"Hm."

"Nanti pindahin ke hp Gisel ya."

"Iya icel." Ali merangkul adiknya itu.

"Aaa Abang bau asem." Gisel meronta dari pelukan Ali.

"Dih wangi gini." Jawabnya namun tak bereaksi apapun, fokusnya tetap pada layar monitor.

Setelah melewati kepadatan jalan, mereka sampai di bandara. Iam mengembalikan mobil sewaan terlebih dahulu dan baru menyusul yang lainnya. Tak lama mereka check-in dan mulai memasuki kabin pesawat.

Setelah pesawat lepas landas para penumpang dibolehkan membuka sabuk pengaman. Ali yang sudah membuka sabuk pengamannya, membernarkan posisi duduknya agar nyaman untuk tidur.

"Mau tidur Li?" Tanya Kaia.

"Hm, bangunin kalo udah mau landing."

"Ga mau makan dulu?"

"Nanti aja di rumah."

"Yaudah nanti gue bangunin."

Ali menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan membuat posisi senyaman mungkin, tak lama ia pun tertidur.

***

Ruangan ini sangat ramai dengan canda tawa para pemain, termasuk Prilly yang tertawa geli karena aksi konyol Kevin.

"Hahahaha Vin sumpah muka lo kocak banget." Ujarnya dengan tawa yang belum reda.

"Ah udah Pril, tawa mulu lo, keselek tau rasa."

"Ye jangan gitu lah."

Prilly berhasil meredakan tawanya dan mengambil botol miliknya, ia segera menenggak air putih, "Haus Bu?" Goda Cinta.

"Iya nih hahaha."

"Ye malah ketawa lagi, nanti pipi lo makin lebar."

"Aaa Phine mah gitu."

"Lagian tawa mulu, capek oi."

"Iya iya."

Mereka kembali membaca naskah karena sebentar lagi akan melakukan take. Prilly duduk disamping Reza, ia melihat Reza yang sangat fokus dengan naskahnya.

"Kak." Panggil Prilly.

"Kenapa Pril?"

"Nanti adegan yang ini jangan terlalu dempet ya hehehe." Ujarnya.

"Iya tenang aja, tau aku kok."

"Ih tau apa emang?"

"Biar ga ada yang cemburu kan?" Goda Reza.

"Ih ga ada, aku mah jomblo kak."

"Sama yang kemarin?"

"Alex?"

"Iya kan?"

"Udah enggak kak, udah lama itu."

"Oh kirain masih."

"Enggak."

"Terus kenapa dong?"

"Gapapa sih, kan ini pasti banyak anak di bawah umur tujuh belas tahun jadi ya jangan terlalu vulgar biar banyak yang nonton." Jelasnya.

"Iya iya."

"Hehehehe makasih idola aku."

"Kamu ini." Reza mengacak pelan rambut Prilly membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

"Prilly, Reza ayo take."

"Siap Pak Monty."

Prilly dan Reza segera beranjak menuju set, yang kali ini berada di dalam rumah.

"Udah siap?"

"Udah Pak."

"Oke, camera rolling and action!"

Prilly dan Reza mulai beradu akting, keduanya begitu serius namun Prilly lupa dialog.

"Cut!"

"Aduh maaf Pak Mon." Ujar Prilly.

"Yaudah baca bentar dulu Pril." Siti mengasihkan naskah milik Prilly, Prilly membacanya sebentar dan ia pun siap.

"Oke Pak Mon udah siap."

"Camera rolling and action!"

Keduanya kembali berakting, dan kali ini berjalan dengan sempurna hingga Pak Monty menghentikannya.

"Cut! Oke bagus."

"Abis ini siap-siap ya, adegan dua belas."

"Siap Pak Monty."

Prilly ke wardrobe untuk menggantikan pakaiannya, adegan selanjutnya berlatarkan kampus jadi tim wardrobe mengasihnya blouse lengan pendek dan juga celana kulot. Riasannya di perbaiki lagi agar lebih fresh.

Dan setelahnya Prilly dan Reza pindah lokasi dengan mobil tim dua. Di dalam mobil Prilly mengambil kesempatan untuk tidur sebentar karena tubuhnya sangat lelah.

***
Gimana part ini?
Jangan lupa vote dan comment!!!

Salam Dilan

MantanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang