Series yang dibintangi Prilly, Reza dan Kevin sudah tayang. Series berjudul My Lecturer My Husband, disambut dengan hangat oleh masyarakat Indonesia. Episode awal sangat menarik perhatian penonton membuat series ini viral di berbagai platform digital, tiga episode awal membuat series ini begitu diminati oleh masyarakat yang membuat mereka terus menunggu rilis setiap episode yang akan keluar setiap hari Jumat.
Saat ini Prilly berada di kamarnya, ia menonton seriesnya sendiri bersama dengan Indah sahabatnya. Keduanya menonton di kamar Prilly, dengan berbagai cemilan buatan Prilly.
Keduanya begitu fokus dengan tayangan dan juga alur series tersebut, sesekali Prilly tersenyum melihat dirinya sendiri, ia sangat bahagia bisa beradu akting dengan aktor favoritnya.
"Dih kenape lo senyum senyum?"
"Seneng aja gue liatnya, apalagi bisa adu akting sama Kak Reza." Prilly kembali tersenyum mengingat kenangannya saat shooting bersama.
"Ye terserah deh. Oh iya, si Ali apa kabar?"
Senyuman yang tadi terbit kini luntur dan dengan datarnya, "Ga usah ngomongin dia lagi deh."
"Tapi gitu gitukan lo masih cinta sama dia." Ujar Indah dengan entengnya.
"Ck, gue udah move on."
"Alah, mulut mah iya bisa dengan gampang bilang gue udah move on, tapi mata lo ga bisa bohong Pril."
Prilly menatap Indah sendu, menundukkan kepalanya, "Gue emang masih cinta sama dia ndah, tapi kejadian itu masih melekat di otak gue, sakit ndah dibilang murahan sama orang yang kita cinta." Lirihnya.
Indah jadi merasa bersalah membuat Prilly bersedih mengingat kenangannya bersama Ali, mantan terindah sahabatnya ini.
Indah memeluk Prilly, "Sorry bikin lo inget kejadian itu."
"Gapapa, dia ga secepatnya itu hilang dari hidup gue, apalagi media sama fans couple kita masih suka sangkut pautin."
"Nama gue sama nama dia masih nyatu dan ga bisa pisah. Jejak digital ga gampang di hapus."
"Jujur ndah, gue kangen sama dia. Setahun dia ga ada kabar, hilang gitu aja dari media." Air matanya menetes, mengingat Ali menghilang tanpa kabar, walaupun sebenarnya ia bisa bertanya pada Kaia, Gisel ataupun Resi, namun rasanya ia segan menanyakannya.
"Gue kangen banget sama dia, kangen sama semua perlakuan lembut dia ke gue, perhatiannya dia ke gue, walaupun sifat posesifnya bikin gue ga bisa gerak bebas, tapi gue tau dia gitu karena sayang sama gue. Hiks gue kangen Ali ndah." Tangisnya menjadi, membuat Indah memeluk erat Prilly, membiarkan gadis itu menangis di dalam pelukannya.
"Gue ngerti yang Ali lakuin sama lo itu emang keterlaluan banget, mungkin saat itu dia kalut, tau sendiri perjuangan dia buat dapetin lo, inget kan? Gimana susahnya dia dapetin restu dari orang tua, keluarga lo dan keluarganya dia juga. Sampe akhirnya mereka semua ngasih restu ke kalian."
"Lo tau kan gimana sifat posesifnya dia? Dia gitu karena takut kehilangan lo walaupun cara dia malah bikin dia kehilangan lo. Gue juga liat gimana dia ngerasa bersalah banget sama lo, dia dateng sama keluarganya buat minta maaf dan berharap lo mau balik sama dia. Dia cinta banget sama lo Pril, gue bisa liat itu."
"Iya ndah, tapi gue harus bangkit kan? Gue harus bisa lupain dia, gue mau dia hilang dari ingatan gue. Gue mau bahagia, kalo pun misalkan nanti kita emang jodoh pasti ketemu lagi kan?"
"Iya, kalo jodoh pasti bakal dipertemukan lagi sama Tuhan. Semangat ya, gue selalu ada buat lo."
Prilly memeluk erat Indah, "Makasih ndah, makasih udah selalu ada buat gue. Gue sayang sama lo."
"Me too."
***
Ali mengurung diri di kamarnya, ia merasa aneh dengan tingkahnya sendiri, sering kali ia mengulangi aktivitasnya seperti tadi, ia berulang kali masuk ke dalam kamar mandi namun ia tak jadi mandi dan malah kini menghitung setiap helai rambutnya sendiri.
"Gue kenapa sih?" Ali mengacak rambutnya frustasi namun tiba-tiba saja ada yang berbisik di telinganya, hitung lagi helai rambut. Dan Ali kembali melakukan itu.
Kaia yang mengintip dari luar pun merasa aneh dengan Ali, ia mendekati adiknya itu.
"Li."
"Kai."
"Lo kenapa?"
"Gue ga tau Kai, gue ga ngerti sama ini, gue juga takut Kai." Ungkapnya.
"Takut apa?"
"Gue takut kalo gue ga hitung helai rambut gue, kalian meninggal Kai." Lirihnya.
"Ali." Ujar Kaia panik.
"Kita ke psikiater ya, gue takut lo kenapa napa."
"Gue takut Kai."
"Ayo sama gue, sama Mama juga ya."
Kaia menarik Ali berdiri, sebelum keluar kamar ia merapikan rambut gondrong Ali dan memakaikan Ali hoodie. Setelahnya ia turun ke bawah menghampiri Resi yang asik menonton film di ruang tengah.
"Ma."
"Kenapa Kai?"
"Kita harus ke anter Ali ke psikiater."
"Ali kenapa Kai?" Tanya Resi yang menjadi panik.
"Ali jadi suka ngelakuin hal aneh Ma, Kaia juga ga mau asal diagnosa, ayo Ma."
"Yaudah bentar Mama ambil tas dulu."
Tak lama Resi kembali dan mereka segera ke psikiater dengan diantar Pak Adi. Ali di dalam mobil lagi dan lagi kembali menghitung helai rambutnya, Resi dan Kaia menjadi semakin takut dengan Ali, mereka takut terjadi sesuatu pada Ali.
Setelah melewati kepadatan jalan mereka sampai di salah satu rumah sakit, mereka memakai topi dan masker untuk menutupi identitasnya. Mendaftar nama Ali dan kini waktunya Ali masuk ke dalam ruangan.
"Halo, selamat datang, bisa dijelaskan keluhannya apa?"
"Saya jadi sering melakukan aktivitas secara berulang dok, bahkan kadang ada suara suara di kepala buat lakuin hal yang ga wajar." Keluh Ali.
"Baik, dari yang tangkap pada penjelasan kamu, saya mendiagnosa kalo kamu mengalami OCD, tau kan ya OCD?" Ketiganya mengangguk.
"Jadi OCD merupakan kepanjangan dari Obsessive Compulsive Disorder, yang merupakan gangguan mental kronis yang dipengaruhi obsesi tidak terkendali dan memunculkan perilaku kompulsif."
"Kenapa adik bisa seperti itu ya dok?"
"Kemungkinan karena faktor lingkungan ataupun stress dengan banyaknya tekanan, rada bersalah dan lainnya. Yang membuat adik anda mengalami ini."
"Apa bisa sembuh dok?"
"Sampai saat ini ocd tidak bisa disembuhkan, namun dapat di kurangi dengan obat-obatan, psikoterapi ataupun kombinasi keduanya."
"Baik dok, untuk psikoterapi harus melakukan apa ya?"
"Bisa dengan cara pembalikan kebiasaan, dan untuk obat akan saya kasih resep ya."
"Baik dokter, terimakasih ya."
"Sebulan sekali harus kesini ya untuk pengecekan perkembangan."
"Baik dok, sekali lagi terimakasih."
Setelah mengetahui itu Ali diam, ia kembali mengalami tekanan. Kaia mencoba mengalihkan pikiran Ali dengan mengajaknya berbincang. Resi yang sudah mendapatkan obat untuk Ali, segera mengajak mereka pulang, agar Ali bisa istirahat.
***
Sorry ya kalo ada yang salah sama penjelasan tentang ocd dan cara ngatasinnya, aku ambil itu dari Halo doc ya nanti bisa kalian cek.
Gimana part ini?
Next? 40 vote ya, biar double up.
Jangan lupa vote dan comment!!!
Salam Dilan
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan
Fanfictionketika dua orang yang pernah saling mencintai kembali bertemu. Bagaimana mereka mengatasi kecanggungan yang ada? Penasaran? Langsung baca aja ya! #94 - in aliandoprilly / 9 Maret 2022 #70 - in aliandosyarief / 9 Maret 2022 #4 - in prilly / 11 Mare...
