Seorang anak dengan tinggi sekitar dada orang dewasa melangkah lebih dekat ke arah seorang wanita yang membenarkan beberapa menu di atas meja makan.
Caessa sedikit terkejut ketika ada yang menarik ujung baju nya. Saat di lirik ke samping ternyata si pelaku adalah sky.
Anak itu menatap nya dengan mata bulat yang mengerjab beberapa kali. Ia paham betul trik yang di pakai oleh bocah nakal.
"Mau apa?" Tanya nya lembut dengan sedikit membungkukkan badan.
Sky tersenyum senang saat ibu nya peka. "Bunda masak kesukaan ku?"
Caessa mengangguk sambil membalas senyum manis anak nya. "Tentu."
"Masak ayam pedas ya?"
Senyum caessa luntur begitu saja. "Tidak, nanti lambung mu terluka."
"Sedikit saja."
"Tetap tidak, kamu ingin bunda lapor sama papa?"
Sky menggeleng ribut. "Jangan," Cicit nya pelan.
Caessa tertawa puas dalam hati. Ia sangat tahu kalau sky paling takut saat papa nya marah.
"Yasudah sekarang duduk di kursi mu, omong-omong papa dimana?"
"Membangun kan 3 biawak." Jawab sky dengan sedikit jutek.
Tak lama orang yang di sebut oleh sky datang bersama-sama. Mereka saling sapa dan tidak lupa membubuhkan satu kecupan di pipi chubby sky.
"Jangan cium-cium terus." Sky menggosok pipi nya kasar dengan punggung tangan.
"Kenapa?" Tanya kaka nya yang bernama zergio.
"Pipi sky makin besar."
"Tidak ada diagnosis seperti itu," Sangkal zergia.
"Ada!"
"Sudah, sekarang makan dan jangan lupa berdoa dulu sebelum itu." Caessa melerai pertengkaran kecil. Kalau di biar kan yang ada mereka tidak makan-makan.
Para laki-laki menurut, mereka tidak berani melawan satu-satu nya wanita yang ada di rumah ini.
"Sky ayo buka mulut nya." Caessa mengarahkan se-sendok bubur ke arah mulut anak nya.
Bocah itu menggeleng dan mengambil alih bubur yang di pegang oleh caessa. "Sky bisa sendiri, bunda makan juga."
Ceassa tersenyum. "Hey apa anak bunda sudah dewasa huh?" Tanya nya dengan nada sedikit mengejek membuat bibir sky mengerucut sebal.
"Sky sudah dewasa dari dulu."
"Haha yasudah, bunda percaya."
Beberapa menit berlalu dan akhirnya mereka menyelesaikan sarapan pagi bersama.
Zeano, si anak sulung menatap sky yang sedari tadi menatap nya. Ia mengangkat satu alis seolah bertanya.
Sky terkejut ketika sang kaka menangkap basah diri nya sedang menatap lelaki itu. "Kata papa, sky hari ini boleh ikut abang?"
Zeano mengangguk, lalu kembali menatap tablet yang menampilkan beberapa grafik yang berhubungan dengan pekerjaan nya.
Sky tersenyum lalu turun dari kursi dengan sedikit kesusahan karena tubuh nya yang paling kecil dari semua penghuni di rumah ini.
Kaki nya mendekati zeano yang masih sibuk sendiri. "Ayo abang, berangkat sekarang," Ajak nya tak sabaran.
"Sebentar."
"Cepat."
"Sedikit lagi."
"Abang! Hiks.. cepat lah." Sky merengek dan sedikit terisak karena zeano tidak menatap nya sama sekali.
"Fuck, kau membuat nya menangis lagi." Umpat zergio pada kaka nya.
"Gio, jangan berkata kasar di depan adik mu," Peringat cavero.
"Sorry, aku hanya kesal pada budak kerja ini."
Zeono menatap tajam adik pertama nya itu, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir nya. Sedangkan yang di tatap tidak peduli sama sekali.
"Abang~"
Atensi zeano kembali ke arah sky yang menatap nya dengan tampang minta di kurung dalam kamar seharian.
Bagaimana tidak, pipi chubby serta hidung nya memerah, dan ada bekas sisa air mata buaya di sana.
Terkekeh samar, zeono lantas berdiri lalu menggendong si bungsu sambil mengelus punggung kecil itu. "Cengeng."
Sky menggeleng. "Tidak!" Jawabnya garang.
Zeano memutar bola matanya malas. "Terserah."
"Ayo abang kita pergi."
"Cium dulu." Zeano mendekat kan pipi nya ke arah sky.
Cup!
Tanpa menjawab apa pun sky langsung mengecup cepat pipi kaka nya.
Zeano tersenyum. "Good boy, jadi lah anak penurut."
"Iya, ayo.. Ayo.. Sekarang berangkat." Sky mengguncang kaki nya yang tidak menapak lantai dengan tidak sabaran.
"Tunggu, sky belum meminun susu nya. Zerga, tolong ambil kan dot yang baru dan pacifier nya." Pinta caessa pada anak ke tiga nya.
🧸🧸🧸
Beberapa menit kemudian...
Zeano menatap sejenak adik nya yang terlihat duduk tenang dengan pacifier yang menyumpal mulut kecilnya. Pipi nya bergerak-gerak membuat zeano menggeram pelan. Ia mencengkram kuat setir mobil, karena tidak tahan ingin mencubit pipi sky.
"Apa masih lama?" Sky bertanya setelah ia melepas kan benda kesukaan bayi itu.
"Hampir sampai." Zeano kembali fokus menatap jalan.
Saat ini sky berpikir mereka sedang menuju tempat kerja zeano. Tapi perkiraan nya salah ketika mobil sang kaka mulai berhenti di basement rumah sakit.
Kenapa ia tahu? Itu karena sky sudah hafal tempat yang biasa ia kunjungi setiap bulan itu. Apa jangan-jangan sekarang?!
Sky menatap takut pada zeano yang sudah keluar dari mobil dan menuju ke arah nya.
Pintu terbuka, pria tampan itu melepas Seatbelt yang terpasang di tubuh adik nya. Ia ingin menggendong sky, namun anak itu lebih dulu menahan tangan nya.
"Kenapa?"
"Kenapa kita disini?" Tanya balik sky.
Sudut bibir zeano sedikit terangkat. "Menurut mu?"
"Kata papa ke kantor, tidak ke tempat menyeramkan ini."
"Ya, kita ke kantor. Tapi setelah menyelesaikan chek up mu selesai, baby."
~~<><><>~~
To be continued
~~<><><>~~
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY TRAPPED [END]
Fiction généraleHidup diperlakukan seperti bayi? Hal buruk atau menyenangkan? Tanya kan saja pada sky, anak yang berusia 13 tahun tinggi sekitar 156 memiliki wajah terbilang manis nyerempet ke cantik. Mempunyai keluarga yang overprotective akut, sial nya ia bahk...
![SKY TRAPPED [END]](https://img.wattpad.com/cover/304499542-64-k364196.jpg)