"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu."
-Arimbi Letta Biani
***
Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
Ciuman bukan hal asing bagi Letta. Hampir setiap malam ia menyaksikannya-di layar laptop, dalam drama Korea yang membius hatinya.
Tapi kali ini berbeda.
Bukan di drama, bukan aktor Korea. Ini nyata di depan matanya.
Dan pria itu... pacarnya sendiri.
Juan Juniar. Dua puluh bulan lalu, pria itu bilang Letta adalah napasnya. Katanya, dia tak akan mampu hidup tanpa Letta. Omong kosong.
Dan sekarang, di sudut kelas yang remang, mulut Juan bercumbu dengan wanita lain. Mulut itu... yang dulu membisikkan cinta, kini sibuk mencicipi pengkhianatan.
Letta ingin muntah. Ingin berteriak. Ingin menampar keduanya. Tapi dia hanya berdiri diam, menyaksikan kekasihnya menukar rasa yang dulu suci, menjadi sesuatu yang menjijikkan.
Sakitnya tidak seperti drama. Ini nyata. Dan Letta bukan pemeran utama yang akan diselamatkan di akhir cerita.
Sialan. Romansa macam apa ini?
Letta berdiri kaku di balik celah pintu yang sedikit terbuka. Hatinya berdebar kencang bukan karena cinta tapi karena dikhianati di tempat yang paling tak terduga. Dadanya ngilu, namun matanya enggan berkedip, seolah ingin menyerap bukti itu selamanya.
Wanita itu-Riani, senior Letta di ekstrakurikuler PMR. Salah satu yang dulu Letta kagumi namun kini menjelma mimpi buruk yang bahkan tidak pernah ia doakan.
Letta menutup pintu perlahan, mencoba bernapas. Lalu... mengetuknya.
Ketika pintu dibuka, wajah mereka panik. Terutama Juan, wajahnya seperti baru saja tertangkap mencuri berlian yang harganya ratusan milyar.
"Ada apa, Letta?" suara Riani terdengar datar tapi tetap sopan. Masih bisa bersandiwara? pikir Letta.
Letta menjawab datar, "Kak Riani dipanggil rapat sama Kak Bisma. Katanya sekarang di tunggu di ruang kelasnya."
"Baik, makasih." Riani berlalu tanpa dosa. Tanpa menoleh. Tanpa rasa bersalah.
Kini hanya ada Letta dan Juan. Mereka saling diam, keduanya saling berperang di dalam dada.
Letta menatap Juan. Mata mereka bertemu. Letta bicara pelan, "Bia duluan."
"Tunggu!"
Letta berhenti tapi tidak menoleh, ia berdiri membelakangi. Langkah Juan terdengar mendekat. Lalu suara yang familiar, namun kini asing itu bersuara, "apa aja yang Bia lihat?"
Letta tertunduk. Suaranya lirih, nyaris patah, "Nggak ada." Satu tetes air mata pun jatuh begitu saja.
Juan mencoba menggenggam bahu Letta, "Jujur, Bia."
Letta mengangkat kepala perlahan. Pelupuk matanya masih berair. Tapi sorotnya tajam, penuh amarah dan luka. Ia menepis tangan Juan dengan kasar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.