11. Terjebak Dilema

764 37 0
                                        

Seluruh siswa tumpah ruah ke luar kelas. Ada yang bersorak lega, ada yang menahan tangis, dan ada pula yang memilih diam—menyimpan kecewa dalam senyum sopan.

Di tengah keramaian itu, Juan berjalan cepat. Matanya lurus ke depan, langkahnya ringan namun tergesa. Seolah ada sesuatu yang harus segera ia kejar, sebelum semuanya terlambat.

Hampir saja ia menabrak Riani yang muncul dari lorong kanan. Gadis itu terlihat antusias, senyumnya lebar, namun hanya sebentar sebelum Juan memotong langkah dan suaranya.

“Juan? Lo tahu nggak gu—”

“Nggak tahu, bentar ya, gue ada urusan,” potong Juan tanpa menatap. Nada suaranya tenang, tapi tak memberi ruang.

Riani mematung sejenak. Lalu, dengan cepat ia menghalangi langkah Juan. Ekspresi di wajahnya berubah. Binar itu lenyap diganti tatapan tajam yang selama ini ia sembunyikan.

“Urusan apa? Letta lagi? Emangnya lo pikir gue nggak tahu? Lo masih sering nemuin dia, kan?”

Suasana seketika membeku. Namun Juan tetap tenang. Tidak terpancing, tidak menangkis.

“Sebentar ya. Nggak lama kok,” ujarnya pelan, nyaris seperti membujuk.

Tapi itu tak cukup. Tidak bagi Riani yang sudah lelah menjadi bayang-bayang dari seseorang yang tak benar-benar pergi.

“Tapi lo pulang bareng gue, ya!” desaknya, kali ini suaranya menukik lebih tajam.

Juan menoleh, sedikit tersenyum. Bukan senyum yang hangat, tapi cukup untuk jadi janji.

“Iya. Lo tunggu aja di parkiran. Nanti gue ke sana.”

Lalu ia pergi. Meninggalkan Riani yang berdiri mematung dengan napas yang mulai tak stabil. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

Hatinya kembali dipatahkan oleh hal yang sama:
Letta.

Kapan sih lo bisa jadiin gue prioritas? Selalu Letta. Selalu tentang dia.

Batin Riani perih, tapi tak sempat tumpah.

Namun bukannya merasa bersalah setelah memupus harapan Riani, Juan justru melangkah makin cepat.
Bahkan nyaris berlari.

Dan seperti sudah ditakdirkan, tepat saat ia sampai di depan kelas Letta, gadis itu keluar.

Sendiri.
Wajahnya sayu, langkahnya berat.

“Arimbi Letta,” sapa Juan pelan, seperti mantra yang selama ini ia simpan dalam diam.

Letta tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah. Juan, tentu saja, menyusul dan menyamakan langkahnya. Sesuatu yang ia lakukan dengan begitu alami—dan Letta, tentu saja, sangat menyadarinya.

Namun hari itu, bukan hanya keberadaan Juan yang mengganggunya. Yang lebih menyakitkan adalah kegagalannya sendiri.
Usaha kerasnya, les siang malamnya, target ambisiusnya—semuanya terasa sia-sia.

Ingin rasanya ia berhenti dan memeluk pria itu erat-erat. Tapi ia tahu, ia sudah tak punya hak. Juan sudah bukan miliknya lagi. Dan menyadari itu, hanya menambah satu daftar baru dalam daftar kegagalannya yang sudah panjang.

“Arimbi Letta, lo tahu nggak, ada pameran baru deket toko kue tempat ibu kerja—”

“Itu ibu gue, bukan ibu lo!“ potong Letta cepat, ketus.

Juan hanya terkekeh kecil. “Tapi udah kebiasaan manggil gitu. Udahlah, nggak usah dibesar-besarin. Lo mau main ke sana nggak nanti malam?”

“Ogah.”

Pamit Tapi tak PergiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang