Setelah sekian lama, akhirnya pagi ini hujan kembali datang. Langit masih menggelayut kelabu, dan hujan yang tadi mengguyur deras disertai angin kencang, kini menyisakan rintik-rintik kecil yang jatuh perlahan bersama hembusan angin yang mulai jinak.
Karena udara yang menggigil, Juan mengenakan jaket hitam favoritnya sejak dari rumah. Ia tidak sedang ingin memikat siapa pun, tapi entah mengapa, pesonanya justru kian mencolok saat jaket itu membalut tubuhnya.
Setibanya di sekolah, Juan tidak langsung menuju kelas. Langkahnya malah membelok naik ke rooftop, tempat yang sudah mereka sepakati sejak kemarin.
Namun saat sampai, tak ada siapa pun di sana.
Alih-alih kesal, Juan hanya tersenyum miring. Ia tidak terburu-buru. Ia memilih diam, membiarkan dirinya larut dalam suasana mendung yang basah, menyatu dengan pagi yang menggigil.
Sepertinya langit pun ikut bersedih. Karena jika Letta benar-benar menemukan seseorang yang lebih baik dari dirinya, maka kisah mereka akan benar-benar usai.
Arimbi Letta, gue udah di rooftop. Lo jadi ke sini nggak?
Akhirnya Juan mengirim pesan itu pada Letta, dengan satu harapan kecil yang tersembunyi: semoga Letta tidak datang. Karena meski mulutnya bersikeras ingin selesai, hatinya belum siap untuk benar-benar kehilangan.
Beberapa hari lalu, Letta sempat membuka blokiran-bukan karena ingin berdamai, melainkan demi urusan PMR yang melibatkan OSIS.
Sekilas setelah terkirim, pesan itu hanya dibaca Letta. Tidak ada balasan. Tidak ada tanda-tanda ia akan datang.
Juan kembali tersenyum miring, senyum khas yang entah menyimpan kepercayaan diri atau luka yang pura-pura ia abaikan.
"Nggak akan ada yang lebih baik buat lo selain gue," batinnya, penuh keyakinan-atau mungkin penyangkalan.
Jemarinya bersiap mengetik pesan baru.
Nggak jadi ya! Yaudah gue ke kelas aja-
Namun sebelum kalimat itu rampung, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Juan reflek menoleh.
Letta.
Sendirian.
Ia berdiri di hadapannya, rambutnya masih sedikit lembap, dan wajahnya tenang, seolah tak sedang memanggul beban apapun.
"Sorry, nunggu lama ya?" katanya, kali ini dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
"Nggak papa, santai aja," jawab Juan, mencoba terdengar tenang.
Matanya menyapu sekeliling, seolah mencari sesuatu.
"Nyari siapa?" tanya Letta.
"Yang kita sepakatin kemarin," sahut Juan, menahan nada curiga. "Nggak ada, ya? Udah gue dug-"
"Letta, kok jalannya cepet-cepet sih?" potong suara pria yang baru saja muncul dari arah tangga.
Pria itu bertubuh tinggi dan berisi, kulitnya sawo matang, langkahnya mantap-dialah Erlangga.
Anak tunggal kepala sekolah. Lebih dari sekadar populer-Erlangga dikenal luas, dan tak sedikit yang bilang bahwa ia lebih tampan dari Juan, dengan karismanya sendiri. Kulitnya gelap, tapi pesonanya terang. Ia adalah definisi dari pria hitam manis yang sesungguhnya.
"...dan yang bikin dia makin unggul, dia jago taekwondo. Nggak kayak Kak Juan, nggak bisa berantem," ujar Letta sambil menoleh sekilas ke Juan. Nadanya setengah menggoda, setengah menyengat. Seolah sedang membaca daftar kelebihan Erlangga dengan suara lantang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Roman pour Adolescents"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
