Tapi nyatanya, dua tahun belum cukup untuk membuatmu memilihku, dan hanyaku, bukan?
---
Hari Minggu bukan waktu bersantai bagi Letta.
Ia tetap bangun pagi, menyikat lantai yang dingin, menyikat sepatu penuh debu, mencuci baju dengan tangan, dan menyisakan sedikit waktu untuk sekadar menghela napas. Siang harinya, ia harus bergegas pergi ke tempat les Matematika yang cukup jauh dari rumah.
Matematika bukan sekadar angka baginya. Ia adalah bukti. Bahwa Letta berjuang, bahwa Letta ingin lebih. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa—meski hanya dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja di toko kue kecil dengan penghasilan yang tak seberapa.
Cita-citanya bukan sekadar lulus SMA. Letta ingin lebih. Ia ingin tembus SNMPTN, ingin duduk di bangku kuliah, ingin menggenggam dunia yang lebih luas dari luka masa lalu yang membesarkannya.
Ibunya pernah bilang, “Kalau bisa, kamu jangan hidup dari sakit yang sama.”
Letta menyimpannya baik-baik.
Maka, ia pun mengikuti les setiap minggu. Matematika di hari Minggu. Bahasa Inggris di hari Sabtu. Gurunya kebetulan ibu dari teman SMP-nya. Harga bisa ditawar, dan itu sangat membantu.
Letta pintar mengatur uang. Sejak kecil, ia harus begitu.
Ayahnya pergi saat ia berumur lima tahun. Membawa seluruh kehangatan rumah bersama wanita lain, meninggalkan Letta dan ibunya tanpa kata maaf.
---
Les selesai. Angka-angka pun kembali menjadi bayangan samar dalam kepala Letta.
“Mau bareng?” tawar Laskar, teman lesnya, yang sudah menyalakan motor sport-nya.
Letta hanya menggeleng tanpa senyum. “Nggak searah.”
Sejak hubungan Letta dan Juan kandas, banyak pria yang mencoba mengisi ruang kosong itu. Tapi Letta tak membuka pintu. Ia menjaga jarak. Terlalu banyak luka yang belum sembuh.
Ayahnya, Juan… dua lelaki yang sama-sama gagal. Dua lelaki yang membuat Letta tak lagi percaya pada cinta yang dijanjikan.
Ia memilih jalan kaki, menunggu angkot, menantang langit yang mulai kelabu. Tapi langit menang. Rintik hujan turun perlahan, lalu berubah menjadi deras. Letta berlari, melindungi kepala dengan tangannya sendiri.
Sebuah motor berhenti di hadapannya.
“Naik,” suara itu terdengar familiar.
Letta tertegun. “Kak Juan? Ngapain di sini?”
“Hujannya makin deras, naik aja!” pinta Juan.
“Enggak,” jawab Letta tegas.
“Ayo cepetan!”
“Ogah!”
Juan turun, melepaskan jaket kulitnya, memakaikannya ke pundak Letta, lalu… memeluknya dari belakang.
Tak ada aba-aba.
Letta terkejut. Terdiam. Lalu berusaha melepaskan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
