Letta duduk di antara Rani, Kayla, Vio, Laskar, Adi, dan Aldo. Mereka tengah berkumpul di UKS—ruang itu memang sudah lama jadi semacam basecamp tak resmi bagi anggota PMR. Meja dan kursi tersedia, tapi seperti biasa, mereka lebih suka lesehan di atas karpet lusuh yang entah sejak kapan jadi saksi banyak obrolan, tawa, dan rahasia.
Kehadiran Letta disambut hangat. Masing-masing dari mereka sibuk dengan makanan dan aktivitas kecilnya. Vio, misalnya, asyik dengan Candy Crush di ponselnya, bersandar santai di lemari penyimpanan obat.
“Tapi Kak Anggara juga ya… kayaknya biasa aja deh,” ucap Vio, matanya masih menatap layar.
“Emangnya kenapa?” tanya Letta, ikut menimbrung sambil menyeruput kuah mie ayamnya yang masih mengepul.
“Kasihan Kak Kayla,” jawab Rani. “Dia tuh diperlakuin nggak adil sama Kak Riani. Mentang-mentang Riani kandidat kuat buat jadi ketua.”
“Diperlakuin gimana?” Letta makin penasaran.
Kayla tertawa kecil, tapi nadanya getir. “Nggak yang parah-parah sih. Cuma… dia suka ngomentarin cara aku beresin obat, nyetok juga. Setiap kali aku bikin PO, dia harus cek dulu sebelum dikasih ke Kak Bisma. Terus Kak Bisma tahunya itu PO bikinan dia. Padahal ujung-ujungnya semua barang yang datang ya sesuai sama list aku.”
“Penjilat banget, anjir!” Vio mencibir tanpa menoleh dari game-nya.
“Pengen kelihatan paling berguna kali, ya?” komentar Letta datar, tapi jelas menyimpan bara. Nama itu masih meninggalkan luka.
“Sejak kapan seorang Letta suka ikut ngegosip?” celetuk Laskar, masih menatap layar laptopnya.
Ia menoleh pada Laskar sejenak lalu terdiam. Cowok itu benar—biasanya Letta bukan tipe yang tertarik dengan gosip atau urusan orang lain. Ia hanya akan bersuara jika pembahasan menyangkut pelajaran, musik, atau hal-hal yang benar-benar menyenangkan... kecuali satu hal: Riani.
“Nggak apa-apa lah, Ta. Sekali-kali,” kata Kayla, menepuk bahunya pelan.
“Oh iya, Ta. Gimana? Sukses?” tanya Rani tiba-tiba, mengalihkan topik.
Letta menarik napas panjang, lalu menggeleng lemas. “Enggak.”
“Apa?” Kayla ikut penasaran.
Letta hanya terkekeh kecil, sedikit kikuk. Bukan karena gagal, tapi karena percakapan ini disaksikan langsung oleh Vio, Laskar, juga Adi dan Aldo—meski keduanya terlihat sibuk main Mobile Legends, Letta tahu, telinga mereka tetap siaga.
Belum sempat ia mengalihkan pembicaraan, Vio langsung menembakkan pertanyaan yang membuat seluruh ruangan mendadak senyap.
“Oh iya, Ta. Lo sebenernya putus sama Kak Juan tuh… gara-gara Riani, kan?”
Letta sontak tersedak. Ia batuk keras, kelabakan mencari minum. Sialnya, ia datang tanpa membawa minum
Kayla buru-buru menyodorkan es macca, tapi Letta menggeleng keras sambil tetap terbatuk—ia tak pernah suka minuman itu. Lalu, tiba-tiba, sebotol air mineral dingin dengan segel utuh muncul di hadapannya. Letta langsung meraihnya dan meneguk tanpa pikir panjang sampai tenggorokannya reda.
“Makanya, kalau makan jangan sekalian ngegosip,” kata suara yang terdengar akrab, diiringi tawa kecil yang mengusik.
Letta mendongak. Laskar.
“Eh, Las… ini minuman lo ya? Waduh, sorry… keminum,” ucap Letta pelan, rasa tak enak mulai mengendap.
“Nggak apa-apa. Gue tinggal beli lagi,” jawab Laskar ringan, seolah memang tak mempermasalahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
