08. Mengindari Juan

169 6 0
                                        


"Bu, mie ayamnya dibungkus aja, pakai mangkuk plastik, ya," ujar Letta santai, tapi cukup mengejutkan dua temannya-Andini dan Rea-yang ikut mengantre di kantin.

"Hah, kenapa dibungkus? Lo nggak makan di sini, Ta?" tanya Rea heran. Tapi Andini hanya menghela napas kecil, seolah sudah lebih dulu tahu alasan Letta.

Dengan pelan, Andini menyenggol lengan Rea, lalu memberi isyarat dengan dagunya. Rea mengikuti arah pandang Andini.

Di ujung kantin, duduk seorang pria yang tak asing-Wakil Ketua OSIS, Juan. Pesonanya masih sama seperti biasa, tak berusaha menarik perhatian, tapi justru selalu jadi pusatnya. Ia duduk sendiri, tenang, tapi tatapannya tak lepas dari satu orang: Letta.

Letta berpura-pura tak melihat. Namun ketegangan di bahunya tak bisa berbohong.

"Ayo kita duduk yang jauh dari Kak Juan, ya? Di belakang aja," bujuk Andini pelan.

Letta hanya menjeling. "Ogah."

Nada suaranya datar, tapi cukup jelas menggambarkan keengganannya. Menghindar dari Juan memang selalu terasa seperti bentuk kekalahan kecil, dan Letta belum siap mengaku kalah hari ini.

Saat itu juga, Letta mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Rani. Hari ini Rani memang sedang piket UKS. Tugas piket ini biasanya hanya menjaga ruang UKS saat jam istirahat, tapi kadang yang "menjaga" bukan hanya yang terdaftar, bisa siapa saja. Dan Letta... bukan takut, hanya malas kalau harus bertemu orang yang sedang tidak ingin ditemuinya.

Ada siapa aja di UKS?

Banyak nihh, gabung sini.

Gada Ka Riani ko.

Seniornya Ka Kayla doang.

“Gue ke UKS dulu, ya,” pamit Letta sambil meraih bungkusan mie ayam dari tangan ibu kantin. Ia membayarnya cepat, lalu bergegas pergi. Rasanya tak nyaman membiarkan pria itu—yang duduk di ujung sana—terus menatapnya tanpa henti.

Namun langkah Letta terhenti saat seseorang melintas tepat di depannya. Pria bertubuh tinggi, berkulit sawo matang. Sosok yang sempat memberi Letta harapan baru.

“Kak El!” panggil Letta spontan.

Pria itu berhenti dan menoleh. Senyum singkatnya mengembang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak biasa.

“Eh, Letta. Kenapa?” tanya Erlangga dengan nada ramah yang agak kaku.

Letta menghampirinya cepat. Ada hal yang mengganjal dan harus segera ditanyakan.

“Aku mau nanya. Waktu di rooftop tadi… Kak Juan bilang apa ke Kak El? Kok tiba-tiba Kak El mundur?” Wajah Letta penuh rasa ingin tahu. Ia tak bisa menyembunyikan kegelisahan di balik pertanyaannya.

Erlangga menatap Letta sejenak, ragu. "Lo yakin mau tahu?”

Letta mengangguk mantap. "Iya. Aku pengen tahu.”

Namun Erlangga justru menatap sekeliling, lalu menarik napas.
“Tapi gue nggak bisa cerita sekarang. Gue ada urusan penting.”

Letta mengernyit, tak puas dengan jawaban itu.
“Pulang sekolah aja, kita ketemu di Mocalife Café. Bisa?”

Erlangga menunduk. "Nggak tahu.”

“Kok nggak tahu?” keluh Letta. Kedua alisnya bertaut, suaranya mulai mengandung nada kecewa.

“Gue kayaknya ada urusan,” jawab Erlangga, tapi sorot matanya tak yakin. Seolah sedang berbohong, atau menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.

Letta mendesah, tak mampu menahan kekesalan.
“Urusan apa sih? Lebih penting dari aku? Katanya Kak El cinta sama aku, tapi kok nggak dijadiin prioritas?”

Pamit Tapi tak PergiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang