Hari pertama masuk sekolah setelah libur dua minggu.
Letta berdiri di depan gerbang, menunggu Andini. Tasnya menggantung di satu bahu, ponsel di tangan, membalas pesan singkat dari Ayah. Sejak kejadian waktu itu, hubungan mereka perlahan pulih—ringkih, tapi hangat.
Sepuluh langkah di depannya, Juan muncul bersama dua temannya. Obrolan mereka terdengar samar. Tatapan mereka bertemu. Datar. Lalu berlalu begitu saja, seperti Letta hanyalah udara.
Ada sesuatu yang menusuk di dada Letta—tajam, dingin, tak berwujud.
“Lettaaa!” suara Andini memecah lamunannya.
“Lo udah tahu gos—”
Letta cepat-cepat menjepit mulut Andini. “Gue nggak mau denger.”
“Ini soal Kak Ju—”
“Bodo amat!” Letta memotong lagi, melangkah cepat, membiarkan Andini mengomel di belakang.
Andini tetap bercerita. Tentang postingan Riani yang mengumumkan hubungan dengan Juan. Tentang bungkamnya Juan kali ini—tak seperti biasanya yang selalu memberi klarifikasi. Letta tak membalas. Ia hanya meletakkan tas di bangku kelas, lalu menuju UKS untuk menemui rekan ekskulnya.
Suasana ramai. Senior kelas sebelas dan dua belas pun hadir. Tak ada tanda-tanda Riani. Letta menghela napas lega, tapi hatinya tetap mengeras.
“Letta, sini,” panggil Rani.
“Liburannya gimana?” tanya seorang senior.
“Kurang lama,” jawab Letta, terkekeh tipis.
Laskar tiba-tiba mendekat, berbisik, “Lo nggak papa, kan?”
“Aman. Sebenarnya itu memang mau gue,” Letta tersenyum tipis.
Bel masuk berbunyi. Dalam perjalanan ke kelas, Letta mencari-cari sosok Riani dan Juan. Nihil. Tapi kata-kata Rani tempo hari kembali terngiang:
“Saat Juan pergi, lo kehilangan semua—perhatian, kepedulian, pembelaan, rasa aman. Lo siap?”
Hari demi hari berlalu. Juan benar-benar menghilangkan keberadaannya dari dunia Letta. Bahkan ketika berpapasan, tatapannya kosong, seolah Letta tak pernah ada.
Sampai sore itu. Di belakang perpustakaan, Letta melihat Juan berjalan sendirian. Tanpa pikir panjang, ia berlari—menendang pantat Juan hingga hampir terjatuh.
“Gila lo!” Juan berbalik, terkejut.
Letta menatapnya dengan mata basah, lalu memukul dada Juan bertubi-tubi.
“Lo kenapa giniin gue? Bukannya lo mau kesempatan kedua? Gue udah siap ngasih itu, Juan… tapi kenapa lo malah begini?” suaranya pecah, setengah marah, setengah patah. “Berhenti bikin gue ngerasa nggak ada harganya!”
Pada akhirnya, Letta berhenti. Nafasnya tersengal, tubuhnya lelah, namun isaknya belum juga reda. Juan masih berdiri di tempatnya, memandang pundak itu. Ingin sekali ia meraih Letta, memeluknya erat, dan menghapus air mata yang jatuh satu per satu. Tapi seolah ada sesuatu yang menahan langkahnya.
"Lo sendiri yang bilang, Bia sama Niar udah enggak ada," ucap Juan pelan—tenang di luar, padahal di dalam dadanya badai sedang mengamuk.
"Dan lo mau gue pergi dari hidup lo, kan? Ini kan yang elo mau? Harusnya lo seneng, Letta, bukannya kayak gini. Gue bener-bener nggak ngerti sama lo… maunya apa sih?" lanjutnya, suaranya lembut namun setiap katanya menusuk.
Letta terdiam, bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Luka itu bahkan terlalu dalam untuk ia tangisi.
Juan melirik jam tangannya. "Udah keburu sore. Duluan, ya."
Lalu ia melangkah pergi—kali ini benar-benar pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
