Beberapa bulan berlalu...
Tak terasa, satu semester telah Letta lalui di SMA Darma Bakti. Hari ini—hari terakhir sebelum libur panjang—adalah momen pembagian rapor, sekaligus pengumuman juara kelas.
Letta duduk manis di bangkunya, sudah lebih dari tiga puluh menit. Tangannya terlipat rapi di meja, tapi pikirannya berkecamuk. Wali kelas belum juga datang membawa setumpuk rapor yang ditunggu-tunggu. Jam terasa lambat, seolah sengaja mempermainkan harapannya. Ada harap yang diam-diam tumbuh. Apakah perjuangannya selama ini cukup untuk menjadikannya juara kelas.
"Letta, lo mau ikut?" tanya Andini, menoleh dari bangku depan, semula asyik bercanda dengan Vani dan Rea.
Letta mengerjap, tak mengerti. Ia memang tidak mengikuti obrolan mereka sejak tadi.
"Ke mana?" tanyanya datar.
"Ke pantai, pas libur sekolah nanti. Gue, Vani, sama Rea mau nginep. Yuk ikut!" ajak Andini penuh antusias.
Letta menyipitkan mata. "Pantai?" gumamnya, sebelum menggeleng tegas.
"Enggak, ah. Males."
Ia bukan tipe gadis yang suka pasir atau ombak. Baginya, keheningan gunung lebih menenangkan, hijaunya hutan lebih menyembuhkan.
"Yah. Nggak asik, lo, Ta!" keluh Andini setengah bercanda.
"Biarin!" Letta berdiri dan berjalan ke ambang pintu kelas, menatap lorong sekolah yang lengang.
Sekolah belum benar-benar sunyi, tapi hatinya sudah lebih dulu sepi.
Dan di sela keramaian kecil itu, bayangan Juan kembali muncul. Begitu saja. Seolah pikirannya sudah terbiasa membuka pintu untuk kenangan yang seharusnya dikunci rapat.
Dulu, menjelang pembagian rapor seperti ini, Juan selalu hadir. Menenangkan.
"Apapun hasilnya, baik atau buruk... kamu tetap yang paling hebat di mata aku."
Katanya begitu. Dulu. Dengan mata teduh dan suara yang membuat Letta percaya.
Cih. Letta mengerucutkan bibir, setengah mencibir.
Gombal basi.
Dulu dia percaya. Sekarang? Rasanya ingin tertawa getir.
Bagaimana bisa seseorang yang dulu mengangkatmu setinggi langit, tiba-tiba menjatuhkanmu ke dasar paling dalam?
“Halooo, Arimbi Letta.”
Suara itu memecah lamunannya. Pria yang barusan memenuhi pikirannya kini berdiri di hadapannya, membawa setumpuk rapor dalam pelukannya, semesta memang hobi bercanda.
Letta tersentak kecil, tapi buru-buru menguasai diri. Ia tak ingin Juan tahu betapa ia baru saja mengulang-ulang nama itu di kepalanya.
Sesaat kemudian, muncullah wali kelas bersama beberapa siswa lain yang juga membawa tumpukan rapor.
“Ayo masuk,” ujar sang wali kelas, menepuk ringan lengan Letta sambil melintas masuk ke kelas.
Tanpa berkata apapun, Letta segera melangkah, menjauh dari Juan, menelan kembali kata-kata yang tak pernah sempat dilontarkan.
Juan dan siswa lain meletakkan tumpukan rapor di meja guru. Beberapa detik sebelum pergi, Juan melirik ke arah Letta. Ia sempat tersenyum—senyum yang samar tapi cukup untuk membuat satu kelas membisu.
Semua mata beralih ke Letta. Seperti ada pertanyaan yang menggantung di udara: Kalian masih ada sesuatu, ya?
Letta pura-pura menunduk. Tapi benaknya tidak diam.
Aneh, pikirnya. Juan baru saja pergi, tapi bayangannya terasa makin dekat.
Entah kenapa, Letta merasa… mungkin ini terakhir kali ia melihat Juan seperti itu. Bukan sebagai kekasih. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai seseorang yang pernah dekat sekali… lalu menjauh dengan pelan-pelan.
Lalu, suara wali kelas menghempas lamunannya.
“Assalamu’alaikum, anak-anak!”
Suara sahutan langsung menggema, serentak.
Letta ikut menjawab, meski suaranya kalah oleh degup jantungnya sendiri. Ia duduk kembali, menarik napas pelan.
Sang wali kelas berbicara sebentar. Ucapan ringan penutup semester, diselingi candaan, lalu...
"Baik, sekarang kita mulai pengumuman sepuluh besar peringkat kelas."
Suasana mendadak hening.
Letta menegakkan punggungnya. Jari-jarinya saling meremas. Ia bukan cuma menanti pengumuman—ia menanti pembuktian bahwa semua luka yang ia bungkam selama ini… ada harganya.
"Kita mulai dari peringkat sepuluh. Rangking sepuluh di kelas ini diraih oleh... Bima Asmarpio."
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Begitu pula saat peringkat sembilan hingga enam diumumkan—satu per satu nama disebut, disambut riuh bahagia.
Kini, waktunya lima besar.
"Dan peringkat lima diraih oleh... Arimbi Letta Biani."
Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar. Andini langsung menepuk pundak Letta.
"Selamat ya, Ta. Lo keren banget!"
Letta tersenyum. Tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ada sesuatu yang mengganjal, luka yang tak berdarah tapi terasa menyengat.
Peringkat lima?
Padahal ia sudah mati-matian belajar. Mengorbankan waktu, tenaga, bahkan isi kepala. Les sepulang sekolah, begadang, menghindari drama. Tapi yang ia dapat… hanya lima besar?
Kalut.
Pikirannya mendadak kosong. Suara-suara seakan meredup. Tepuk tangan berganti menjadi gema kosong di kepalanya.
Gue bahkan nggak bisa jadi juara kelas. Gimana mau jadi juara di hidup gue sendiri?
Letta menunduk. Semua ambisinya seolah pecah di depan umum. Ia ingin membuktikan diri, bukan hanya untuknya—tapi untuk Juan dan ayahnya. Untuk semua luka yang pernah ia telan diam-diam. Tapi hari ini, ia gagal.
Letta memang begitu. Saat gagal, ia tak sekadar kecewa. Ia tenggelam. Overthinking, menyalahkan diri sendiri, memutar ulang semua kemungkinan. Sampai semuanya terasa sia-sia.
Dulu, satu-satunya orang yang tahu cara menariknya keluar dari kubangan itu—adalah Juan.
Dan tanpa sadar, hatinya berbisik…
Gue butuh elo, Kak Juan.
***
Bersambung...
***
Di saat seperti ini, siapa yang kamu harap muncul tiba-tiba?
Tulis di kolom komentar:
‘Gue butuh elo, .....’
Kalau kamu jadi Letta, apa kamu bakal kuat?
🌧️ Tulis di komentar: ‘Kalau aku Letta, aku akan…’
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Roman pour Adolescents"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
