14. Juan Jadian

999 35 0
                                        

Sampai di rumah Letta, Juan langsung disambut amarah yang tak terbendung. Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya—tak ada suara televisi, tak ada aroma masakan, hanya dingin yang menusuk bersama cahaya lampu temaram di ruang tamu.
Suara Ibu Letta bergetar, matanya tajam menatap, seolah menembus lapisan terkuat yang Juan punya.
Dan ada satu kalimat yang menghantam lebih keras daripada bentakan apa pun—

"...kamu gagal jaga Letta!"

Ucapan itu membuat dada Juan seperti diremas.
"Iya, Bu… Juan minta maaf. Juan nyesel banget," uca
pnya pelan, kepala menunduk dalam. Bahkan untuk sekadar menatap wajah yang basah oleh air mata itu, Juan tak sanggup. Rasa malu dan bersalah menekan pundaknya berat-berat.

Ibu Letta menghela napas panjang, nada suaranya perlahan turun dari puncak amarah. "Ya sudah… sekarang mending kita cari Letta sama-sama."

Meski lebih lembut, kata-kata itu tak sedikit pun meringankan beban di hati Juan.

"Sudah Ibu coba hubungi?" tanyanya, meski ia tahu jawabannya. Sudah berkali-kali ia telepon, tak diangkat. Chat-nya pun tak dibaca.

"Nggak ada jawaban. Kamu tahu rumah teman-teman Letta, kan? Siapa tahu dia ke sana."

"Tahu, Bu. Juan anter Ibu ke sana besok, ya." Suaranya berat, mencoba terdengar tenang, meski pikirannya penuh bayangan buruk. Sekarang sudah lewat tengah malam—bertamu ke rumah orang di jam segini akan membuat situasi tambah kacau.

Ibu Letta terdiam, berusaha menimbang. Akhirnya ia mengangguk. "Kalau gitu… kamu nginep di sini aja."

Juan menggeleng. "Nggak usah, Bu. Juan pulang aja… tapi besok, pagi-pagi banget Juan ke sini. Kita cari Letta sama-sama."

Ibu Letta tak membantah.

Juan pun melangkah pergi, menyusuri ruang tamu yang lengang. Hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar, memotong keheningan seperti pisau.

Setiap langkah menuju pintu terasa seperti menyeret rantai besi. Dan saat pintu tertutup di belakangnya, malam tampak lebih pekat, seolah langit pun ikut menutup diri darinya.

🌹🌹🌹

Meski semalaman matanya tak sempat terpejam, Juan tetap tiba di rumah Letta pagi-pagi sekali. Udara pagi yang dingin terasa menembus tulangnya, namun bukan cuaca yang membuat wajahnya pucat dan kantung matanya menghitam—itu semua murni karena cemas dan rasa bersalah.

Baru hendak mengetuk pintu, daun pintu sudah terbuka dari dalam. Ibu Letta keluar, sudah rapi, rambutnya tersisir, tapi sorot matanya redup. Pucat di wajahnya dan lingkar hitam di bawah matanya jadi bukti ia pun tak tidur semalaman.

"Ayo berangkat sekarang," ucapnya singkat, dingin. Bukan tanpa usaha untuk menahan amarah, tapi kecewa itu masih terlalu tebal untuk dihapus.

Juan mengangguk. Mereka baru melangkah satu-dua langkah ketika dering telepon memecah keheningan. Ibu Letta segera menjawab.

"Iya, halo, selamat pagi, Pak."

Hening sebentar.

"Tapi saya bagian shift siang hari ini."

"...Oh begitu. Ya sudah, saya ke sana sekarang."

Telepon ditutup. Napas panjang terhembus dari bibirnya. Sorot matanya kini bercampur kebimbangan saat menatap Juan.

"Kenapa, Bu?" tanya Juan, mencoba membaca situasi.

"Katanya… bakalan ada pengurangan karyawan. Ibu disuruh ke sana sekarang."

Pamit Tapi tak PergiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang