Letta menatapnya tajam. "Gue udah nyuruh lo pergi!!! Kenapa nggak pergi-pergi juga? Kapan lo bener-bener pergi dari hidup gue?"
Juan terdiam. Sakit, tapi ia mencoba tetap tenang.
“Oke. Gue bakalan pergi... kalau lo mau. Tapi dengan satu syarat."
Letta mendongak. “Apa syaratnya?”
Juan menatap mata Letta lama sekali.
"Syaratnya lo harus cari orang yang bisa jagain lo, lebih sabar, lebih sayang, lebih baik dari gue. Kalau nemu, gue cabut. Harus lebih baik dari gue. Dalam semua hal." Juan menjawab dengan penuh penegasan di akhir kalimatnya.
Letta memicingkan kedua matanya, "Itu doang?"
"Iya. Gue yakin nggak akan ada orang yang lebih baik dari gue buat lo," jawab Juan dengan penuh percaya diri.
Letta menatap Juan dengan mata yang nyaris basah, tapi bibirnya tetap terangkat miring. "Lucu ya, lo. Udah nyakitin, masih juga yakin paling susah digantikan.”
Nada suaranya dingin, nyaris datar. Tapi luka di baliknya jelas terasa. "Besok, gue bawa orangnya. Biar lo lihat sendiri seberapa gampang lo diganti.”
Ia berbalik cepat. Tak ingin Juan membaca kegoyahan yang mulai tumbuh di matanya.
Meskipun kalimat itu begitu menusuk, tapi Juan berusaha tegar. Ia tersenyum dan berkata lagi—keras, nyaring, penuh percaya diri. "Gue tunggu besok!” serunya. “Inget, dia harus lebih dari gue. Harus lebih tampan, lebih pinter, dan... jangan lupa—lebih Famous juga!”
Letta tak menjawab. Hanya menghembuskan napas panjang sambil terus melangkah. Sementara di belakang, Juan masih sempat-sempatnya kembali tersenyum.
***
Langkah Letta terhenti di dekat tangga aula.
Cahaya sore mengguyur sekolah dengan bias keemasan yang justru membuat semuanya terasa lebih pedih.
Murid-murid lain lalu-lalang di kejauhan, tertawa dan bercanda. Tapi dunia Letta terasa sunyi.
“Gimana gue bisa nemuin orang kayak gitu dalam sehari?”
Satu pertanyaan yang menggantung berat di kepalanya.
Bukan karena tak mampu. Tapi karena Letta tahu, sosok seperti Juan tak mudah digantikan—sekalipun oleh orang yang lebih tampan, lebih berbakat, atau lebih dikenal.
Dan justru karena itu, hatinya terasa makin terkalahkan.
Bukan karena masih cinta, mungkin. Tapi karena luka yang belum sempat sembuh malah ditantang untuk berpura-pura sembuh.
🌹🌹🌹
Acara perayaan Hari Guru sebenarnya sudah usai sejak pukul 17.00 WIB. Tapi sekolah belum sepenuhnya sepi.
Di lapangan, pengurus OSIS masih sibuk membereskan properti. Spanduk, kursi-kursi plastik, sampai sisa-sisa balon yang meletus sejak siang belum sepenuhnya dibereskan. Sampah berserakan di beberapa sudut.
Waktu satu jam rasanya tidak cukup untuk membereskan semua itu. Tapi mereka tetap saling bantu, meski lelahnya sudah tampak dari cara mereka menarik napas.
Sementara itu, di sisi lain sekolah, anak-anak PMR belum juga pulang.
Mereka duduk di teras UKS, beralas jaket dan kertas koran, membentuk lingkaran seperti biasanya. Beberapa masih berbincang santai sambil menggulung perban bekas pemakaian. Ada yang cekikikan, ada pula yang sibuk cerita soal pengalaman mengurus siswa pingsan tadi siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
