Pagi itu ruang PMR dipenuhi lebih awal dari biasanya. Para anggota tampak serius berdiskusi mengenai penempatan tim medis untuk perayaan Hari Guru yang akan dimulai pukul 08.00.
Bisma, sang ketua PMR yang sebentar lagi lengser, mulai membagi tim ke dalam lima kelompok. Ia dibantu dua kandidat kuat: Anggara dan Riani.
Letta, beruntungnya, tergabung dalam kelompok tiga bersama Rani—sahabat sekaligus bayangannya sendiri. Keduanya begitu sering bersama hingga beberapa orang keliru menyebut nama mereka.
Kelompok mereka juga berisi Laskar—teman satu les Letta, Melati yang pendiam tapi cekatan, serta dua senior: Kayla dan Ragil.
Usai pembagian, Bisma membacakan penempatan tim di empat titik utama, termasuk UKS.
“Kelompok satu di UKS. Dua dan tiga di lapangan. Empat di area kelas 12. Kelima di kelas 10. Ada yang mau ditanyakan?” ujar Bisma tegas.
Letta dan Rani saling pandang, lalu tersenyum. Bertugas di lapangan utama adalah posisi paling strategis—penuh keramaian, perlombaan, dan sorotan.
Namun kebahagiaan mereka hanya sebentar.
"Eh, Kak. Kelompok tiga tuker aja sama kelompok lima, jaga di area kelas 10," sergah Riani.
Tatapan tak suka langsung mengarah padanya.
“Kenapa, Ri?” Ragil membuka suara, menahan nada kesal.
“Lapangan itu rame banget. Kelompok kalian seniornya cuma dua. Gue ragu bisa handle,” ujar Riani, terdengar seperti alasan tapi penuh maksud lain.
Kayla terkekeh pelan. “Please, itu mah karena ada Juan di lapangan. Biar Letta nggak sering ketemu, kan?”
Rani langsung menyambar, “Bener, Ta!”
Konflik cinta segitiga itu memang bukan rahasia. Tapi kebanyakan anggota PMR memilih bungkam. Hanya yang benar-benar dekat dengan Letta tahu luka di balik senyumnya.
“Udah, kelompok tiga tuker aja sama kelompok satu. Jaga di UKS,” ujar Ragil santai.
“Setuju,” sambut Kayla cepat. Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti.
“Mau jauhin Letta dan Juan? Nggak semudah itu,” bisik Rani dengan nada menggoda.
Letta mendengus pelan. “Rani, jangan ngadi-ngadi deh.”
“Lagian, lo sama Juan tuh nggak bisa jauh. Titik,” sahut Kayla.
Letta menatap keduanya dengan wajah datar. “Kalian bisa bedain ini kegiatan PMR, kan? Bukan drama sekolah.”
Sikap Letta yang blak-blakan membuatnya kurang disukai beberapa kakak kelas. Tapi ia tetap memilih tegas meski harus sendiri.
Bisma kembali memegang kendali. “Siapkan pos masing-masing. Yang di UKS cek obat dan alat kesehatan. Kalau ada yang habis, lapor langsung.”
“Siap, Kak!” jawab mereka serentak.
“Berdoa mulai…”
Letta memejamkan mata, menarik napas.
Semoga hari ini Kak Juan nggak bikin ulah.
***
Pukul 13.00 WIB, acara masih berlangsung meriah. Juan, sebagai ketua pelaksana, sibuk memastikan semuanya berjalan lancar. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya: Letta belum terlihat sejak pagi.
Ia sudah mengitari semua titik jaga PMR, tapi sosok yang ia cari tak juga tampak. Bertanya pada Riani? Tentu tidak. Setiap nama Letta muncul, wajah Riani berubah.
Akhirnya Juan bertanya pada salah satu anggota PMR di dekat lapangan.
“Letta di mana ya?” tanyanya sopan.
“UKS, Kak,” jawab gadis itu, tampak menahan senyum.
“Sendiri?”
“Bareng Rani, Laskar, Melati, Kak Kayla, dan Kak Ragil.”
Juan mengangguk, lalu bergegas. Setelah ia pergi, gadis itu langsung membisikkan hal tersebut ke dua temannya.
“Aku yakin Kak Juan belum move on dari Letta.”
“Dan Letta juga belum, fix.”
“Gemes banget mereka itu.”
“Padahal cocok, ya?”
“Tapi katanya Juan selingkuh... cewek kayak Letta bisa diselingkuhin?”
“Tapi kayaknya Juan nyesel banget…”
Percakapan itu tak sengaja terdengar oleh Riani. Ia berdiri tak jauh dari mereka, diam dan terluka.
Tak ada satu pun yang di pihaknya. Tak ada yang paham rasanya mencintai diam-diam tapi terus disalahkan. Ia ingin marah, tapi tak punya kuasa. Juan belum memilih. Ia hanya menggenggam... tanpa genggaman.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan. Seorang siswa pingsan di dekat panggung. Riani langsung bertindak, mengatur kerumunan sambil dua petugas PMR memberi pertolongan.
“Tabung oksigen masih di UKS!” teriak salah satu petugas.
“Kenapa nggak dibawa? Kan aku udah bilang—” Riani menggerutu.
“Biar gue aja,” potong Juan cepat.
“Oksigen portabel, ya!” ujar petugas.
Juan langsung berlari ke UKS. Saat membuka pintu, ia mendapati beberapa siswa tengah ditangani.
“Oksigen portabel? Cepet, urgent!” serunya.
Sialnya Letta yang paling dekat dengan alat itu. Ia mendengus pelan, mengambil alat tersebut dan mengulurkannya.
Namun, Juan tak mengambilnya. Ia menggenggam pergelangan Letta dan menariknya lari bersamanya.
“Kak, apa-apaan sih!” seru Letta, terseret langkah Juan.
“Diam. Ini urgent!”
Sesampainya di lokasi, Letta menyerahkan alat ke petugas. Orang-orang di sekitar menatap mereka—diam-diam, penasaran, dan paham.
Itu Juan. Itu Letta. Lagi.
Riani memperhatikan tangan Juan yang masih menggenggam Letta. Matanya bergeser, menelusuri wajah dan tubuh Letta. Apa yang dia punya, dan aku tidak? tanyanya dalam hati.
Letta meronta pelan. “Udah, kan. Aku mau balik.”
Juan tetap menggenggam. “Gue yang bawa lo ke sini, gue juga yang balikin lo ke sana.”
“Kak Juan, jangan lebay. Ini nggak lucu!” Letta melepaskan tangannya saat mereka sudah cukup jauh dari lapangan.
“Gue nggak ngelucu. Tadi itu…”
“Apa? Urgent? Modus lo! Gue malu, Kak. Disorot terus. Gue capek. Tolong, jangan ganggu hidup gue... Wakil ketua OSIS yang famous!”
Juan menghela napas. “Biasanya lo nggak peduli sama begituan.”
Letta menatapnya tajam. "Gue udah nyuruh lo pergi!!! Kenapa nggak pergi-pergi juga? Kapan lo bener-bener pergi dari hidup gue?"
Juan terdiam. Sakit, tapi ia mencoba tetap tenang.
“Oke. Gue bakalan pergi... kalau lo mau. Tapi dengan satu syarat."
Letta mendongak. “Apa syaratnya?”
Juan menatap mata Letta lama sekali.
“Syaratnya…”
Bersambung.
Apa syarat dari Juan? 🤔
Tulis tebakanmu di kolom komentar dan jangan lupa like & share yaa!
See you di bab selanjutnya! 🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
