15. Ayah Letta

1K 38 0
                                        

Dengan beribu kecewa, Letta berlari tanpa arah. Nafasnya tersengal, matanya buram oleh sisa air mata. Tiba-tiba, sebuah Avanza hitam berhenti mendadak di depannya.

Pintu depan terbuka, dan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun, wajahnya membawa campuran harap dan rindu yang menua.

"Letta," suaranya serak, namun penuh kehangatan yang mencoba menembus jarak bertahun-tahun. Ia melangkah mendekat, seolah setiap langkahnya adalah perjuangan.

Letta membeku. Tatapannya menajam, tubuhnya refleks mundur selangkah demi selangkah.

"Letta, ini Ayah, Nak… kamu nggak kangen sama Ayah?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang nyaris pecah.

"Enggak!" suara Letta tegas, menusuk. "Letta nggak punya ayah!"

Raut wajah pria itu seketika retak, namun ia mencoba tersenyum. "Letta… bicara apa kamu, Sayang. Ini Ayah."

Letta bersiap lari, namun sebelum sempat melangkah, tangannya dicengkeram.

"Ah, sakit!" serunya, meski rasa perih itu tak seberapa dibanding sakit yang lain. Cengkeraman itu pun terlepas.

Letta langsung berlari… tapi detik itu juga, sebuah motor melaju kencang dari arah kanan. Benturan keras membuat tubuhnya terpelanting, kepala menghantam trotoar. Gelap.

"LETTA!" teriak sang ayah, suaranya pecah.

Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tubuh Letta yang terkulai, lalu dengan bantuan sopirnya, membawanya masuk ke mobil. "Cepat! Ke rumah sakit terdekat! Sekarang!"

Mobil melesat, meninggalkan jalan yang masih menyisakan suara klakson dan tatapan kaget para pejalan kaki.

Tiga jam setelah perawatan intensif, Letta perlahan membuka mata. Siluet lampu gantung kristal dan aroma lembut lavender menyambutnya. Bukan bau obat rumah sakit yang ia kenal, melainkan wangi mahal yang biasa menghuni hotel berbintang. Dari jendela besar, lampu-lampu Jakarta berkelip, seperti kota yang sedang berpesta di luar sana. Di sudut, ada sofa kulit hitam, televisi layar datar, dan setangkai lily putih di vas kaca. Ruang rawat VVIP. Dan di kursi dekat ranjang—ada dia.

Ayah.

Namun alih-alih lega, dada Letta justru terasa sesak.
“Aku mau pulang,” suaranya serak, tapi tegas.

Sang ayah menatap, mencoba tersenyum. “Besok, Sayang. Malam ini kamu istirahat dulu, ya.”

Letta menggeleng, matanya mulai berkaca. “Sekarang. Ke Ibu.”

Senyumnya memudar, diganti tatapan yang berusaha sabar. “Keadaan kamu belum stabil. Ayah janji, besok kita—”

“Ayah nggak ngerti.” Letta memalingkan wajah ke arah jendela, menahan perih yang tak mau tumpah. Tangannya bergerak ke selang infus, pura-pura hendak melepas.

Refleks, ayahnya maju, menggenggam pergelangan tangannya. “Tolong, Letta. Pulihkan dirimu dulu.” Suaranya terdengar memohon, bukan memerintah.

Hening beberapa detik. Akhirnya Letta mengendurkan genggaman pada selang infus.

Ayah menarik napas lega, lalu memanggil dokter. Setelah pemeriksaan singkat dan bujukan panjang, dokter mengizinkan Letta pulang—dengan syarat dirawat di rumah oleh dokter pribadi. Tanpa banyak bicara, sang ayah membawa Letta ke “istana” miliknya: bangunan megah dengan halaman luas dan lampu temaram yang membuatnya tampak seperti potret dari majalah arsitektur. Namun bagi Letta, itu hanya sangkar emas.

“Aku mau ke Ibu,” katanya lagi, nyaris berbisik. "Kita tunggu sampai besok,” jawab sang ayah, lembut tapi tegas.

Letta menunduk, tak membalas.

Pamit Tapi tak PergiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang