04. Gebetan baru Juan

1.4K 52 2
                                        

Terima kasih atas semua perhatian. Saya tak menyangka, masih banyak yang peduli pada saya dan Arimbi Letta. Tentang gosip itu, ya, memang benar saat itu saya mengantarnya pulang. Alasannya sederhana: karena kemanusiaan. Hujan deras, ia berjalan sendiri, basah kuyup, dan saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar. Soal hubungan kami? Doakan saja yang terbaik.

Suara Juan terdengar tenang dan santai, seolah ini hanya klarifikasi biasa, bukan bahan gosip satu sekolah. Voice note itu dikirim salah satu teman Juan ke grup Lambeturah DarBa—grup obrolan paling heboh se-Darma Bakti. Letta, tentu saja, bukan bagian dari grup itu. Begitu pula Juan. Tapi Andini, sahabat Letta, aktif di dua versi grup: yang satu seangkatan, satu lagi campuran tiga angkatan. Yang satu buat ngomel, yang satu buat mantau.

Setelah mendengar voice note itu, Letta belum selesai memproses perasaannya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama di layar membuat jantungnya nyaris copot—Juan.

Letta membeku.

Itu panggilan seluler. Meskipun WhatsApp Juan sudah ia blokir, ternyata masih ada jalur untuk muncul tiba-tiba.

Ia menatap layar tanpa bergerak. Jari-jarinya menggenggam ponsel lebih erat, tapi tak bergerak untuk mengangkatnya. Panggilan itu berakhir begitu saja.

Dan anehnya, Letta... malah menyesal.

"Kenapa nggak gue angkat, sih?"

Kalimat itu melayang di benaknya sebelum pikiran-pikiran lain mulai datang berdesakan seperti penumpang kereta sore.

Putus bukan berarti musuhan, kan?

Nggak... nanti dia makin pede.

Tapi ngobrol doang nggak papa, kali?

Nggak ah, ntar baper lagi.

Ah, bodo amat, cuma ngobrol! Tapi jangan deh... harga diri, Letta!

Tapi gue kangen.

ENGGAK! Dia selingkuh. Kangen apa?!

Tapi... ah, kenapa dia masih bisa bikin gue begini, sih?

Pikiran Letta berisik. Hatinya lebih berisik lagi. Belum sempat memilih siapa yang harus ia dengar, ponselnya kembali berdering.

Juan menelepon lagi.

Letta menarik napas panjang. Kali ini ia angkat.

“Halo?” suaranya terdengar datar. Tapi hatinya? Gemetar.

Bia—”

“Letta,” potongnya cepat. Tegas.

Terdengar helaan napas Juan. “Arimbi Letta, kamu—

“Letta aja. Nggak usah formal-formal.”

Enggak. Kamu beda. Aku nggak mau manggil kamu kayak yang lain.”

Letta mendesis, “Dih.”

Lagi ngapain?” tanya Juan, basa-basi yang terlalu dibuat-buat.

“Langsung aja, Kak. Ngapain telepon?”

Sebentar lagi ada perayaan Hari Guru, kan? Dengar-dengar bakal banyak lomba. PMR gimana persiapannya?

“Kalau mau tanya, ke Kak Bisma aja. Dia ketuanya. Atau... tanya pacar Kakak aja, Kak Riani!” Letta menambahkan penekanan di akhir kalimatnya.

Aku nggak pacaran sama Riani,” ujar Juan, suaranya tenang tapi berat.

“Ya aku nggak peduli!”

Kalau aku pacaran sama yang lain, gimana?

Letta langsung merespons, “Siapa?!”

Juan tertawa pelan. “Katanya nggak peduli?

Letta mendengus. “Emang nggak!”

Belum pacaran, sih. Masih PDKT.

“Bodo amat.”

Doain ya. Semoga dia luluh. Soalnya dia nyebelin banget. Nggak gampang didekati.

“Bukan urusan aku!”

Tapi doain boleh dong?

“Aamiin!” sahut Letta—sebelum langsung menutup panggilan.

Setelahnya, Letta mengerang frustasi, meremas ponselnya, menendang kursi, dan hampir membuat gempa lokal.

“Ada apa, Letta?” suara Ibu terdengar dari kamar sebelah.

“Nggak apa-apa, Bu! Tadi ada kecoa!” jawab Letta cepat.

Tapi dalam hati, kemarahannya menumpuk.

“Dasar brengsek! Katanya pengen perbaiki, tapi udah PDKT sama orang lain?! Lo emang omongan lo semanis plastik permen!”

Letta mencibir ponselnya, menunjuk-nunjuknya seperti menegur makhluk hidup.

“Tunggu aja, jangan harap bisa deketin gue lagi! Gue bakal tahan. Gue kuat. Gue…”

Dia terdiam sejenak.

“…Tapi... siapa ya ceweknya?”

***

Pagi harinya, Letta tiba di sekolah dengan tatapan-tatapan yang seolah ingin membaca isi hatinya. Ada yang menyapa, ada yang hanya melirik. Tapi Letta memilih untuk melenggang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Sampai kemudian, sebuah tangan muncul dari balik tembok dan menyodorkan uang dua puluh ribu.

Letta nyaris terlompat. “Kak Juan?!”

“Uang lo ketinggalan di jaket gue,” katanya santai.

Letta mengerutkan dahi. Kali ini Juan ngomong pake lo-gue. Aneh. Tapi ya sudahlah.

“Itu ongkos!” tegas Letta, lalu lanjut berjalan. Tapi Juan mengekor.

Sampai di depan kelas, Juan kembali menarik lengannya.

“Kalau gitu ini kembalianya,” ujarnya sambil menyodorkan uang lima ribu. Letta menolak.

“Buat Kakak aja!”

“Ya udah. Makasih,” kata Juan, memasukkan lagi uang itu ke sakunya.

Letta mendengus. “Jadi nggak usah ke sini lagi!”

“Lah, kok ngatur? Justru gue mau sering mampir.”

“Ngapain?”

“Gebetan gue di kelas ini.”

Letta memelotot. “Siapa?!”

Juan nyengir. “Cieee, kepo. Katanya nggak peduli?”

“Cuma nanya! Bukan berarti peduli!”

“Rahasia,” kata Juan sambil menyentuh ujung hidung Letta, lalu pergi dengan langkah ringan.

Letta mendengus. “Terserah Niar! Bia nggak peduli!”

Baru saja kalimat itu lepas, Letta membeku. Begitu pula Juan yang langsung berbalik, tersenyum nakal.

“Tadi lo bilang apa?”

---

Bersambung...

---

Letta bilang dia nggak peduli.
Tapi mulut kadang membocorkan apa yang hati sembunyikan.

Siap-siap, Bab 6 bakal jadi medan baru antara gengsi dan rindu.

Tap Follow dan share ke sahabatmu yang pernah pura-pura nggak peduli padahal sayang setengah mati 😌

Pamit Tapi tak PergiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang