Begitu pulang, Letta disambut oleh ayah dan ibunya. Wajah keduanya tampak berbinar, seolah dunia di sekitar mereka sedang baik-baik saja. Letta menelan napasnya dalam-dalam—ada bagian di dirinya yang ingin segera bersandar, mengadu, tapi ia tahu, ada kabar yang tak tega ia bagi.
"Sini, Sayang… bantuin Ayah sama Ibu milih, ya," ucap sang ayah, senyumannya menghangatkan ruangan.
Letta menuruti, duduk di tengah mereka. Ayahnya membuka laptop, menampilkan deretan foto dekorasi pernikahan.
Sesaat, Letta terdiam. Di satu sisi, hatinya ikut hangat melihat mereka berdua duduk berdampingan seperti ini—tanda bahwa ayah dan ibunya akan kembali merangkai cerita bersama. Tapi di sisi lain… hatinya baru saja kehilangan Juan.
Jarinya berhenti pada satu gambar. Dekorasi itu pernah ia lihat bersama Juan di Pinterest, kala mereka masih sibuk merangkai mimpi. Tema vintage, sederhana namun elegan—seperti yang dulu mereka inginkan untuk pernikahan mereka sendiri.
"Letta suka yang ini," ucapnya pelan.
Ia tahu, mungkin pernikahan itu tak akan pernah terjadi. Tapi entah mengapa, membiarkan dekorasi itu terealisasi di pesta ayah dan ibunya, terasa seperti menyelipkan sepotong mimpi yang tak jadi miliknya… namun tetap hidup di suatu tempat.
***
Juan melangkah masuk ke gedung pernikahan yang riuh oleh canda tawa tamu undangan. Langkahnya melambat saat matanya menyapu setiap sudut ruangan—setiap detail dekorasi. Ia tersenyum kecil. Ia tahu persis, ini bukan dekorasi sembarangan. Ini pilihan seseorang yang pernah ia kenal begitu dalam.
Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, mencari sosok yang ia pikirkan. Namun wajah yang ia tunggu tak kunjung muncul di antara kerumunan. Tiba-tiba, sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya.
"Nyari siapa?"
Ia berbalik, dan matanya membulat. Senyum itu—senyum yang sudah lama tak ia lihat—akhirnya ada di depan matanya.
"Nyari yang milih dekorasi ini," jawab Juan, mencoba berlagak serius meski hatinya berdebar.
"Mau ngapain emang?" gadis itu mengerutkan alisnya.
"Mau marahin dia, enak aja ngejiplak ide aku. Dulu aku sama Bia udah pilih dekorasi ini buat pernikahan kita."
Gadis itu terkekeh. "Niar."
"Iya, kenapa Bia?" ucap Juan lembut.
"Di luar, yuk. Berisik."
Mereka keluar, duduk berdampingan di bangku luar gedung. Keheningan di antara mereka terasa seperti ruang yang menunggu diisi.
"Maaf," Letta akhirnya bersuara.
"Buat konsep dekorasi yang aku jiplak," lanjutnya, setengah bercanda.
Juan terkekeh. "Becanda, Bia."
"Boleh nanya?" Letta menatapnya, sedikit gugup.
"Boleh."
"Kemarin-kemarin Niar kenapa?"
Juan menghela napas panjang, menatap lantai sebentar sebelum berkata, "Boleh nyeritain dari awal?"
Letta mengangguk.
"Tiga bulan sebelum kita putus… aku sempet ngejalanin hubungan backstreet sama Riani."
Letta membeku. Kata-kata itu menusuk, tapi ia bertahan. Sejak mendengar kisah ayahnya dan ibunya, ia tahu: setiap perbuatan pasti punya alasan.
Juan mulai bercerita. Tentang ancaman Riani. Tentang bagaimana ibu Letta, tanpa sepengetahuannya, ikut menjadi bagian dari permainan itu. Tentang ciuman yang ia sesali. Tentang taruhan bodoh yang akhirnya menjauhkan mereka.
Letta menyimak, kadang memotong untuk memastikan detailnya. Sampai akhirnya ia tersenyum tipis. "Jadi… karena kamu nggak kuat sama ancaman Kak Riani, sekarang ibu udah nggak kerja di sana?"
Juan menunduk. "Iya… maaf."
Letta malah terkekeh. "Kebetulan banget, rencananya memang ibu mau resign. Jadi kamu malah mempermudah prosesnya. Makasih, ya."
Tatapan mereka bertemu. Hangat. Lama. Sampai akhirnya Juan meraih tangan Letta.
"Bia mau jadi Bianya Niar lagi?"
Letta tersenyum miring. "Bukannya udah nggak mau kesempatan kedua?"
"Ih, Bia…" Juan merajuk.
"Tapi kamu ciuman sama Kak Riani," Letta menggoda.
"Tapi ciuman pertama aku udah kamu dapetin duluan."
Letta terkekeh, dan di saat itu, dirinya yang dulu—yang riang dan penuh cahaya—akhirnya kembali.
"Yaudah… Bia mau jadi Bianya Niar lagi."
Mereka berpelukan, seolah ingin menghapus semua jarak yang pernah ada.
"Heh, kalian ngapain!" suara Ibu Letta tiba-tiba memecah momen.
Keduanya terlonjak, buru-buru melepaskan pelukan. Juan gugup. "Euh… ini, Bu, temu kangen."
Tami tersenyum. "Kalau udah temu kangen, ayo ikut Ibu foto bareng."
Mereka pun berdiri di pelaminan, Ayah Letta ikut bergabung.
"Gimana rasanya berdiri di pelaminan?" tanya sang ayah iseng.
"Tergantung sama siapa berdirinya," jawab Juan sambil tertawa kecil.
"Kalau sama Letta?"
Juan tersenyum, wajahnya memerah. "Enak banget."
Canda tawa mengalun, diabadikan dalam beberapa jepretan foto. Satu foto menjadi milik Letta, satu lagi milik Juan—terpajang di kamar masing-masing.
Kini, tujuan Juan hanya satu: sukses, meminang Letta, dan memastikan gadis itu bahagia bersamanya… selamanya.
– SELESAI –
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
