"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu."
-Arimbi Letta Biani
***
Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
"Gue maunya elo, itu nggak bisa di nego lagi, Arimbi Letta," ucap Juan, tegas namun lembut. Lagi, ia kembali mengucapkannya dengan senyuman.
"Kalau guenya tetep nggak mau?"
"Ya kita lihat aja, sampai kapan lo sanggup bohongin diri lo sendiri?" jawab Juan dengan santainya.
"Udah ah, pembahasannya serius mulu. Ayo berangkat, biar pulangnya nggak kemaleman," kata Juan setelah beberapa saat sempat hening sejenak.
Juan menaiki motornya lalu menghidupkannya.
"Ayo, Arimbi Letta," kata Juan.
Letta menaiki motor Juan tanpa mengatakan sepatah katapun.
🌹🌹🌹
"Sedikit sentuhan lagi, and... finally. Ya ampun, cantik banget sih gue," gumam Riani pada pantulan dirinya di cermin.
Ia tampak memukau dalam balutan bodycon dress hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya, dipadukan dengan jaket polos hijau army sepanjang paha—pas sepadan dengan panjang dress-nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Riani meraih tas kecil Gucci berwarna hitam, salah satu koleksi favoritnya. Setelah memasukkan dompet, ia mengambil ponsel di meja. Layar menunjukkan pukul 20.10 WIB. Ia segera menekan nomor Juan, berniat memberi kabar bahwa dirinya sudah siap.
Begitu tersambung, suara Juan terdengar cepat, seakan tak ingin memberi ruang bagi Riani untuk bicara.
"Ri, lagi ada tamu nih. Ke pamerannya agak maleman aja, nanti gue kabarin lagi."
Tanpa basa-basi, sambungan pun terputus.
Riani mendengus kesal, melempar tasnya ke kasur lalu kembali duduk di depan meja rias. Ia mencoba meredakan emosi dengan scrolling Instagram dan membalas chat teman-temannya—yang kebetulan juga akan datang ke pameran bersama pasangan masing-masing.
Jarum jam merayap ke pukul 21.00 WIB, namun kabar dari Juan tak kunjung datang. Rasa jenuh berubah menjadi kemarahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
"Kapan sih? Kok nggak ngabarin-ngabarin. Awas aja kalau sampai subuh lo nggak kabarin gue," gumamnya sambil menatap ponsel.
Tiba-tiba, ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk. Senyum lebar langsung terbit di wajah Riani—yakin betul itu dari Juan. Namun senyum itu cepat memudar. Ternyata bukan Juan, melainkan pesan dari temannya:
Ri, lo nggak jadi dateng bareng Juan, ya? Dia bareng cewek lain soalnya.
Kedua alis Riani bertaut rapat, matanya membulat tak percaya. Ia langsung membalas, meminta temannya memotret perempuan yang dimaksud. Tak sampai semenit, sebuah foto pun terkirim.
Riani menghela napas panjang, penuh rasa muak.
"Udah gue duga... ini nggak bisa dibiarkan lagi."
Tanpa pikir panjang, ia meraih kembali tasnya, menggenggam erat kunci mobil. Dentingan logam itu terdengar nyaring di tengah keheningan kamar—seolah menandai keputusan yang tak bisa ditarik lagi.