Motor Juan melaju pelan menembus jalanan basah, aroma tanah yang basah menguar dari sepanjang trotoar. Letta duduk diam di belakangnya, tangan menggenggam erat ujung jaketnya sendiri, mencoba menetralisir debar yang belum juga reda sejak percakapan di bawah hujan tadi. Namun semuanya mendadak buyar.
Sebuah truk besar dari arah berlawanan meluncur dengan kecepatan tak wajar.
“Eh, awas!” seru Letta panik.
Ciiittt!
Suara ban bergesek keras di aspal. Juan membelokkan motor tajam ke sisi kiri, nyaris kehilangan keseimbangan. Namun dalam detik krusial itu, tubuhnya tetap tegak, stabil. Kecelakaan berhasil dihindari.
Letta spontan memeluk punggung Juan, tubuhnya gemetar.
“WOY! BAWA MOBIL YANG BENER!” bentak Juan, tapi truk itu terus melaju tanpa sedikit pun melambat.
Juan menoleh setengah, suaranya berubah lembut, “Kamu nggak papa?”
Letta cepat-cepat melepaskan pelukan itu, wajahnya memerah. “Nggak,” jawabnya singkat, pura-pura ketus.
“Syukurlah... hampir aja.”
“Iya... hampir,” gumam Letta, suaranya pelan. Lebih malu daripada takut.
“Aku keren banget, kan? Kalau orang lain yang nyetir, udah ambyar kita,” ujar Juan bangga.
Letta mendecak, “Belagu. Kebetulan aja.”
Tapi senyumnya mencuri. Percakapan mereka mengalir, ringan, penuh sindiran kecil yang tak benar-benar menyakitkan. Letta masih menjaga gengsi, tapi hatinya diam-diam lunak.
Setibanya di depan rumah Letta, Juan menahan motor. Letta bersiap turun.
“Makasih,” ucap Juan tiba-tiba.
Letta menoleh. “Buat?”
“Udah mau dianterin.”
Letta menyeringai, “Jangan GR. Aku naik ojek kok. Ongkosnya udah aku masukin ke saku jaket.”
Juan menatapnya tak percaya. Saat ia merogoh saku, uang dua puluh ribu terlipat rapi di dalam sana.
“Ih, Bia...” desisnya, setengah kesal, setengah geli. Ia nyaris mengejar Letta yang sudah melesat ke rumah. Tapi kemudian berpikir. Jangan sampai Letta merasa diinterogasi. Ia memilih mengantongi kembali uang itu—dan tersenyum kecil.
Makasih ya, udah kasih aku alasan buat ketemu kamu lagi besok.
***
Di kamar, Letta sibuk melipat pakaian. Seragam sekolah sudah disetrika, tergantung rapi. Ia menghela napas lega, tapi ketenangan itu buyar saat ia melirik meja belajar.
“Kimia... lima soal lagi,” gumamnya.
Ia duduk, membuka buku. Soal pertama dan kedua ia selesaikan perlahan, makin lancar saat sampai soal ketiga. Tapi di nomor empat, ia terhenti. Rumusnya hilang dari ingatan. Ia teringat, saat guru menjelaskan rumus itu, ia sedang membantu siswa lain yang kambuh asmanya. PMR selalu jadi prioritas... meski tidak pernah menggeser pentingnya belajar.
Letta mengecas ponsel, lalu menyalakan data untuk menanyakan rumus itu ke Andini. Tapi saat layar menyala, puluhan notifikasi WhatsApp membanjiri. Grup sekolah, ekskul, teman-teman pria, bahkan yang tak ia simpan nomornya.
Matanya menyipit. Ada yang aneh. Kenapa semuanya menyinggung Juan?
Ia membuka pesan dari Andini.
Letta, lo balikan sama Kak Juan?
Letta mencibir.
Jangan ngawur!
Belum sempat menutup aplikasi, ponselnya bergetar. Andini menelepon.
“Letta, bener lo balikan sama Kak Juan? Katanya lo nggak sudi lagi ketemu dia. Kok nggak cerita sih?” suara Andini terdengar setengah marah, setengah kecewa.
Letta terdiam. “Dini, maksud lo apa sih? Gue bener-bener nggak ngerti.”
“Lo tadi boncengan sama dia kan, sore pas hujan?”
Letta tercekat. Detik itu ia sadar—momen yang terasa begitu intim dan personal ternyata tak sepenuhnya milik mereka. “Letta, jawab dong!” desak Andini.
“Enggak. Ogah banget gue balikan,” elaknya cepat.
“Tapi ada yang foto. Di grup udah rame. Nggak jelas sih, tapi katanya itu lo.”
Letta mengusap wajahnya, kesal. “Pasti grup lambe itu ya? Lo masih gabung aja sih.”
“Lo lagi viral, Ta. Gue disuruh make sure langsung,” jelas Andini.
Letta menarik napas panjang. “Gila, Din. Hidup gue jadi gosip sekolah sekarang.”
Juan memang wakil ketua OSIS yang menonjol. Bahkan sejak SMP, Letta tahu dia akan jadi pusat perhatian. Tapi ia tak pernah menyangka, bayangan Juan akan tetap mengikutinya bahkan setelah mereka berpisah.
"Itu bener apa enggak, Ta?"
“Enggak!" elaknya. "Ehh.. Din, catetan Kimia tanggal 13 November dong. Gue butuh rumus yang itu,” tukas Letta mengalihkan.
“ADUH! Gue lupa belum ngerjain tugasnya!” seru Andini.
Letta mendesah. “Gosip diurusin, tugas malah kelupaan. Hebat konsep hidup lo.”
“Maaf, nanti gue kirim ya!”
Setelah menutup panggilan, Letta menaruh ponsel di atas buku. Ia berjalan ke jendela, membuka kaca, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.
Dari kejauhan terdengar suara katak dan jangkrik, seolah malam pun ingin menghibur. Ia bersandar, memeluk bantal. Pikiran-pikirannya mengambang. Tentang Juan. Tentang sekolah. Tentang dirinya sendiri.
Di atas motor tadi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Letta merasa… aman. Meskipun hanya sekejap, ada bagian dari dirinya yang seolah kembali ke masa lalu. Masa di mana Juan masih menjadi rumahnya.
Arimbi Letta Biani. Gadis dengan prinsip dan hati yang sulit ditebak. Dingin di luar, hangat di dalam. Tak pernah takut berjalan sendiri, tapi kadang merindukan tangan yang menggenggam.
Ia kembali ke meja. Satu pesan baru dari Andini.
Lo bohong, Letta. Kak Juan udah bikin VN klarifikasi soal gosip itu.
Letta membeku.
Hah?! Klarifikasi apa? Dia bilang apa?
Bersambung...
Di balik klarifikasi, ada suara yang ingin dipahami.
Di balik luka, ada hati yang belum selesai.
Bab selanjutnya bukan hanya tentang apa yang Juan katakan—tapi tentang apa yang Letta rasa dan sembunyikan.
🌙 Jangan berhenti di sini. Cerita ini baru saja menghangat… dan mengguncang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pamit Tapi tak Pergi
Teen Fiction"Kamu yang bikin aku percaya nggak semua cowok itu jahat. Tapi kamu juga yang hancurin kepercayaan itu." -Arimbi Letta Biani *** Letta menyuruh Juan pergi setelah kepercayaannya hancur. Tapi cinta kadang keras kepala, tak pernah benar-benar mau perg...
