Menjadi anak tunggal yang memikul banyak harapan orang tua, bukanlah hal mudah bagi Naka. Ia harus bisa mempersiapkan diri dengan baik untuk masa depan perusahaan yang kini ada dalam naungannya.
Naka ingat bagaimana susahnya dulu ia bekerja sambil kuliah. Pagi sampai siang bekerja, lalu disambung kuliah sampai hari mulai gelap. Proses itu tak luput dari perjuangan Naka yang giat dan gigih untuk belajar, hingga akhirnya sukses memimpin perusahaan besar yang memang akhirnya akan diwariskan untuknya.
"A pi.."
Perhatian Naka teralihkan saat bayi berumur sepuluh bulan itu merangkak menghampiri nya. "Sayangnya Papi, umm wangi banget sih." Naka membawa Aga keatas pangkuan nya.
"Ya aaa,"
Satria Agarish Nauvaly. Anak lelaki kesayangan Naka. Semua keluh dan kesah saat pulang kerja seolah menguap entah kemana jika ia sudah bertemu dengan jagoan nya. Ya, itulah yang Naka rasakan selama beberapa bulan belakangan ini.
"Jagoan udah mamam?" tanya Naka, menunduk menatap Aga yang mengemut jarinya sendiri.
"Umm mwa mwa!" Aga langsung berjingkrak diatas pangkuan Papi nya saat melihat sang Nenek berjalan kearah mereka.
"Ka, tolong beliin Mama minyak goreng dong ke supermarket." Niara berkata saat sudah duduk berhadapan dengan anak serta cucunya.
Naka mengangguk, mumpung hari ini ia free dan tidak ada kerjaan di kantor. "Minyak aja?"
"List nya nanti Mama kirim lewat chat."
"Oke." Setelahnya lelaki itu mengangkat tinggi-tinggi tubuh gembul Aga yang dimana langsung membuat bayi itu terkikik girang.
"Papi tinggal sebentar ya, jangan nakal sama Nenek. Oke?"
Aga tersenyum hingga matanya menyipit pun lubang di kedua pipinya terlihat.
"Eh malah senyum-senyum. Oke gak nih?" tanya Naka yang kepalang gemas dengan anaknya sendiri.
"Hihi."
"Tos dulu, mana coba tangannya." Naka mengangkat sebelah tangan Aga dan melakukan tos.
"Dah, baik-baik sama Nenek ya.."
***
Dengan balutan jaket boomber dipadukan dengan jeans hitam, tak ketinggalan topi putih yang tersemat di kepala serta masker yang menutupi sebagian wajah nya. Naka menyusuri rak bagian perminyakan terlebih dahulu.
Lalu setelah mendapatkan nya, ia berjalan kearah rak yang berisikan macam-macam tepung. Sesuai dengan list yang diberikan Ibu nya, Naka mengambil tepung terigu, tepung sagu, dan tepung roti. Dan tepung lainnya tak ia hiraukan lagi.
Selanjutnya, ia berada di depan freezer untuk mengambil beberapa daging yang juga ada dalam list Mama nya.
Daging ayam, daging sapi, dan beragam seafood lainnya sudah masuk kedalam keranjang belanjaan Naka. Bahkan nugget pun tak ketinggalan.
Dirasa semua sudah lengkap, Naka melangkah ke bagian pembayaran. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berhenti saat menemukan sebuah sling bag yang tergeletak diatas freezer eskrim.
Naka menoleh ke kanan-kiri, sekitarnya sepi tak ada orang. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambilnya dan akan menyerahkan kepada si penjaga kasir saja.
Saat semua belanjaan nya sudah ditotal. Naka akhirnya berucap. "Mbak, tadi saya nemuin tas ini di atas freezer--"
"Oh ini punya mbak-mbak yang tadi Mas. Kayaknya orangnya juga masih disini, emm nah itu Mas!"
Naka mengikuti arah tunjuk mbak kasir yang menunjuk kearah pintu keluar.
"Mas nya samperin aja."
Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih, Naka dengan dua kantung belanjaan nya melangkah menghampiri seorang perempuan yang tampak lunglai itu.
Naka menepuk bahunya pelan, sesaat perempuan itu menoleh. Naka terpaku saat bersitatap dengan nya.
"Ya?"
Tanpa sadar Naka menahan napas sesaat. "Maaf, ini.. punya kamu?" tanya Naka.
Tak langsung dijawab, perempuan itu malah asik menatap wajah Naka tanpa kedip. Terpesona kah?
Naka berdehem untuk menyadarkan.
"E-eh maaf.." Dapat Naka dengar perempuan itu meringis pelan.
"Iya benar, punya saya." Sling bag yang Naka ulurkan langsung diambil olehnya. Tercetak jelas raut senang dari wajah si perempuan. "Kok bisa sama kamu?"
"Saya menemukannya di atas freezer eskrim." Naka menjawab. "Silahkan di cek dulu, takut-takut ada yang hilang."
Kemudian ia menggeledah isi tas nya. Sebenarnya tak ada yang penting. Hanya ada ponsel, uang receh, dan puluhan karcis parkir.
"Hehe gak ada kok." Perempuan itu tersenyum kuda. "Makasih ya udah ditemuin, saya gak sadar kalo tas nya ketinggalan disana."
Naka mengangguk membalasnya. "Lain kali jangan asal menaruh barang."
"Ah dan satu lagi, itu pintunya ditarik bukan didorong. Kalau gitu saya duluan. Permisi."
Naka keluar dari supermarket seraya mengulum bibir menahan kedutan senyum.
TBC
double up karena besok gak bisa up😁

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello! Mas (Duda)
RandomMenjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah untuk seorang Naka Alghafar Viandra. Apalagi ditengah kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan, Naka lumayan sulit membagi waktu untuk pekerjaan dan putranya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mencari bab...
