"Nei.." panggil Kejora sembari membuka pintu kamar anak gadisnya.
Wanita itu berdecak kala mendapati Starla yang masih bergelung dalam selimutnya. "Allahuakbar anak gadis.."
Starla melenguh saat gorden di kamar nya terbuka hingga sinar matahari menerpa wajahnya. Ia menyipitkan mata, menatap sang Mama yang berdiri dengan berkacak pinggang.
"Ma.. Masih pagi ah, tutup lagi gordennya. Silau!"
"Udah jam sepuluh, Kaneisha! Bukan pagi lagi namanya." geram Kejora.
"Cepat mandi, lalu turun kebawah. Kamu belum makan dari semalam kan?" cecar Kejora. Ia menarik kedua tangan Starla hingga terduduk dikasur nya.
"Hmm."
"Dengar Mama nggak?!"
"Dengar Mamaku sayang." Starla menguap sambil mengucek kedua matanya. "Sebentar lagi, nanti Nei nyusul kebawah."
Starla mengerjapkan mata saat Kejora sudah keluar dari kamarnya. Tangannya meraba-raba ke sisi kasur, mencari keberadaan benda persegi yang sudah seperti belahan jiwanya.
Berdecak sebal kala mendapati ponselnya kehabisan daya. Starla mengambil charger dan bergegas mandi.
***
Starla turun kelantai bawah saat jam makan siang tiba. Wajahnya terlihat lebih fresh karena sebelumnya ia telah mandi. Kaki jenjang Starla melangkah kearah dapur, mencari makanan apapun yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya.
Senyumnya terukir kala matanya menangkap satu bungkus mie instan yang tergeletak di meja. Tanpa berlama-lama lagi, Starla segera memasaknya.
Membuka kulkas dan mencari bahan tambahan untuk pelengkap mie nya. Satu butir telur, tiga buah sosis dan bakso yang nantinya akan ia iris tipis.
Ditengah kegiatan memasak nya, Kejora datang dari arah taman belakang. "Ngapain Nei?"
"Masak mie." Starla menoleh kearah Mama nya. "Tumben nggak ke butik?"
"Nanti habis ini." sahut Kejora yang tengah membilas tangannya di westafel. "Papa belum pulang?"
"Lah masih siang, Ma. Kan biasanya Papa pulang sore,"
"Mau makan siang dirumah katanya."
Starla membulatkan mulutnya, ia kini tengah fokus mencampuri mie nya dengan bubuk cabai dan saus pedas. Setelah dirasa cukup, ia melangkah kearah ruang keluarga. "Nei makan di depan tv, Ma!"
Mencari remote dan memutar tayangan kartun. Bersamaan dengan itu, ponsel yang berada di saku nya berdering. Ia meletakkan segala barang bawaan nya diatas meja, lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari teman SMA nya dulu.
"Apa?"
"Jutek amat." Januar mencibir diseberang sana. "Gak ada yang mau nanti lo."
Starla memutar bola matanya. "Gue udah tau ya akal-akalan lo, udah asal batalin janji, pasti habis ini mau bujuk gue." kelakar Starla jengah.
"Ya maaf. Si bos lagi rewel banget hari ini. Gak berani ijin gue."
"Hm."
"Hm doang? Febby ngomong apa emang sama lo?"
"Ya gitu, dia juga masih banyak deadline katanya."
"Maaf ya? Hari ini beneran gak bisa. Nanti kalau senggang gue mampir ke rumah lo deh, kita ngobrol-ngobrol. Gimana?"
Januar yang umurnya lebih tua setahun dari Starla, menganggap perempuan itu sebagai adiknya. Terlebih ia adalah anak tunggal dan jauh dari keluarga.
"Tapi yang kali ini harus janji. Pokoknya kalau sampe ingkar, gue gak mau ngomong sama lo setahun!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello! Mas (Duda)
DiversosMenjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah untuk seorang Naka Alghafar Viandra. Apalagi ditengah kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan, Naka lumayan sulit membagi waktu untuk pekerjaan dan putranya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mencari bab...