O9 - NGERI NYA...

8.7K 523 7
                                    

Naka sudah siap dengan pakaian santainya. Siang ini, ia meliburkan diri karena ingin mengantarkan sang Mama ke Bandara untuk terbang ke New York--ke tempat Papa nya berada.

Padahal, Niara baru pulang semalam dari Malang. Tetapi ia harus flight siang ini karena Alex--Papa nya sedang sakit disana.

Setelah dirasa penampilannya siap. Naka bergegas turun usai menyemprotkan parfum kesetiap sisi tubuhnya.  Dari tengah undakan tangga, ia dapat melihat Starla yang sedang bermain dengan Aga diruang tengah.

"Pih a pihh!" Aga berseru saat mata bulatnya melihat sang ayah berjalan kearahnya.

Naka menghampiri Aga dan mengecup pipinya. "Jagoan lagi main apa? Seru banget kayaknya.." ucap Naka yang masih terus mengecupi permukaan pipi tembam Aga.

Starla tersenyum menyaksikan interaksi keduanya. Semakin kesini, ia dapat melihat kalau Naka itu adalah tipikal orang yang hangat jika bersama keluarga atau orang terdekatnya. Tidak sekaku dan sedingin yang Starla kira, awalnya memang ia mengira kalau Naka adalah pribadi yang cuek dan terkesan bodo amat dengan sekitar. Namun sepertinya asumsi itu salah.

"Starla." Naka memanggil untuk yang kedua kali karena perempuan itu seperti sedang melamun.

Buru-buru Starla mengerjap dan mengalihkan pandangannya kearah Naka. "Ah iya Pak. Ada apa?"

Naka menggeleng. "Lagi memikirkan apa? Sampai dua kali saya panggil kamu baru nengok." tanya nya.

Starla menggaruk tengkuknya seraya meringis. Gak mungkin gue jujur kalo gue lagi ngomongin lo dalem ati?

"Gak mikirin apa-apa hehe.." sangkalnya. "Bapak tadi kenapa manggil saya?"

Naka mengangguk percaya lalu kembali menatap Aga yang duduk dipangkuan nya. "Aga sudah makan belum?" tanya lelaki itu.

"Oh, kalau itu sudah Pak."

"Saya mau antar Mama ke Bandara. Jadi, saya titip Aga ke kamu." beritahu nya.

Oh ke bandara

Pantesan nyantai banget pakaiannya..

"Siap Pak." jawab Starla sambil memperagakan hormat.

"Atau kamu dan Aga ingin ikut saja? Sekalian belanja bahan dapur?" tawar Naka sambil menatap Starla yang berada diseberang nya.

Starla menggeleng pelan. "Nggak deh Pak. Habis ini jam bobo siangnya Aga." tolaknya dengan halus. "Dia kalo gak bobo siang, malamnya bakal rewel karena kecapekan.."

Ya itulah kebiasaan Aga yang mulai Starla pahami sejak menjadi pengasuh nya. Sebisa mungkin Starla mengatur jam tidur siang untuk anak itu agar tidak rewel saat malamnya.

Naka manggut-manggut mengerti. Satu hal yang ia sukai dari Starla adalah ini, orangnya sangat teliti.

"Ya sudah. Nanti saya saja yang belanja, kamu kirimkan saja list nya." putus Naka akhirnya.

Starla menatap Naka ragu. "Gak papa nih Pak?" tanya nya.

"Gak papa."

Starla mengangguk. "Saya catat dulu list nya ya.." Perempuan itu beranjak ke dapur untuk memeriksa bahan makanan yang habis.

Melihat Starla yang sudah berlalu ke belakang, Naka kembali bermain dengan Aga sembari menunggu Mama nya yang tengah bersiap.

"No no, ini mobilnya gak boleh di mam sayang." larang Naka ketika Aga mendekatkan mainan mobilan ke mulutnya.

"Heungg.." Bocah itu tak terima saat mainan nya dijauhkan dari jangkauan tangan nya.

"Papi kasih tapi gak boleh di mam. Oke?"

Aga mengayunkan tangannya seolah meminta mainannya untuk dikembalikan. "Aaaa.." Dan berakhir bocah itu merengek seraya merangkak keatas pangkuan Naka.

Naka tak dapat menahan senyum gemasnya. Jujur saja, ia menahan diri untuk tak mengigit pipi tembam milik putranya itu.

"Bobo sambil Papi puk-puk punggung nya ya?" ucap Naka yang kini beralih meng-puk-puk punggung Aga.

"Emmm.."

Naka menunduk memastikan putranya itu nyaman dalam dekapannya. Setelahnya, bibir lelaki itu bersenandung pelan sambil terus memperhatikan Aga yang kini matanya sudah sayup.

"Loh? Udah merem aja." celetuk Starla yang baru kembali dari dapur.

Kayaknya emang senyaman itu senderan di dada nya Pak Naka..

Naka mengangguk tanpa suara. "Saya bawa ke kamar dulu. Kalo Mama udah turun, tolong bilangin tunggu bentar." ucap nya, kemudian berdiri dengan perlahan agar makhluk yang berada didalam dekapan nya itu tidak terbangun.

"Sstt.. sstt.. Bobo lagi sayang..."

Seiring dengan punggung Naka yang berjalan menjauh. Starla tak dapat menahan senyumnya.

Pak Naka itu, apa ya..

Kayak suamiable banget gak sih

Udah orangnya peka, pengertian, bisa gantian ngurus anak. Gue pastiin orang yang jadi istrinya nanti bakal beruntung banget deh..

Eh bentar..

Setau gue dia duda??

Tapi gue gak pernah denger orang-orang rumah bicarain mantan istrinya.

Kira-kira kenapa mereka bisa cerai ya?

"Starla, Naka belum turun ya?" Suara Niara mengagetkan lamunan Starla.

Dilihatnya wanita paruh baya itu yang telah rapi dan sangat modis di usianya yang sudah tidak muda lagi.

"Udah Bu. Tapi tadi naik lagi, boboin Aga.." jawab Starla sambil menunduk sopan. Beliau menolak dipanggil nyonya.

"Oh gitu.." Niara mengangguk paham. "Selama saya gak dirumah, saya titip Naka dan Aga ya."

Starla mengangguk patuh, "Siap Bu.."

"Pastikan Naka makan dengan teratur, anak itu seringkali lupa makan kalau udah berkutat sama kertas-kertas nya." terang Niara.

Lagi-lagi Starla mengangguk. "Baik Bu. Saya akan selalu memastikan Pak Naka makan dengan teratur."

"Gak hanya Naka, Aga juga. Tolong jaga cucu saya dengan baik.." Niara melanjutkan. "Saya percaya kamu bisa jaga mereka.."

Starla tersenyum. "Pasti. Terimakasih sudah percaya saya, Bu.."

Dan tepat setelah percakapan mereka selesai. Naka turun dari lantai atas. "Udah siap Ma?" tanya nya.

"Udah nih, mau berangkat sekarang?"

Naka melihat jam tangan nya. "Ayo, takut Mama ketinggalan pesawat."

"Yuk," Niara bangkit dari duduknya diikuti Starla. "Safe flight ya Bu.." ucap Starla seraya menyalimi punggung tangan ibu majikannya.

"Terimakasih Starla. Saya berangkat." pamit Niara. "Kamu bisa langsung telepon saya kalau semisal Naka macam-macam."

Starla hanya mengangguk kaku dan tersenyum kecil. Ia bahkan tak kepikiran sampai sana. Berarti setelah ini hanya ada ia, Aga dan Naka saja dirumah?

Hii ngeri nya..

TBC

Hello! Mas (Duda)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang