Menjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah untuk seorang Naka Alghafar Viandra. Apalagi ditengah kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan, Naka lumayan sulit membagi waktu untuk pekerjaan dan putranya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mencari bab...
Pukul 10 malam, acara reuni dadakan di rumah Naka baru saja selesai. Akibat ulah teman-teman nya itu, ia jadi tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Starla selama setengah hari ini.
Starla juga ikut nimbrung bersama Naka dan teman-teman, terlebih ada Dirga disana yang notabene nya adalah Abang Starla. Tetapi, perempuan itu sama sekali tak menoleh kearah Naka. Saat Naka coba untuk mengobrol pun ia tampak menghindar.
Naka berjalan kearah dapur sembari menenteng sampah makanan ringan. Netra nya menangkap keberadaan Starla yang tengah mencuci piring disana.
Setelah membuang sampahnya, Naka terdiam mengamati gerak-gerik Starla yang sedang mengelap piring. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa sampai sekarang Starla tak meminta penjelasannya? Apakah semarah itu sampai-sampai tak mau membuka suara?
"Starla," panggil Naka pelan, namun yang pasti Starla masih bisa mendengar jelas karena hanya ada mereka berdua disini. Aga pun sudah terlelap dikamar nya.
"Apa?" sahut Starla tanpa menoleh.
"Kok dari tadi diam aja?" Dalam hati Naka merutuki mulutnya yang dengan bodoh melayangkan pertanyaan seperti itu.
"Gak diem, ini lagi cuci piring."
Gak salah sih, tapi...
Yaelah
Bisa banget matiin topiknya..
Naka menggaruk kepalanya yang tak gatal, tiba-tiba saja ia bingung ingin memulai pembicaraan mereka dari mana.
"Saya tidur duluan ya Pak. Capek banget hari ini.." kata Starla yang telah selesai dengan kegiatan cuci piringnya.
Melihat Starla yang akan pergi dari dapur, Naka sontak gelagapan. Ia reflek menarik sebelah tangan Starla.
"E-e.. kamu gak ada yang mau ditanyain?" Naka berucap dengan gugup.
Starla memandang Naka lekat, yang ditatap hanya menunduk saja. "Tanya soal apa?"
"Soal Rafka... mungkin?" cicit Naka, suaranya semakin memelan seperti bocah sd yang ketakutan karena dimarahi ibunya.
Perempuan itu sempat terdiam. "Kalo belum bisa cerita, lain kali gak papa. Senyaman nya Bapak aja gimana." sahut Starla pada akhirnya.
Walaupun banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalanya, namun sebisa mungkin Starla menahan sampai Naka sendiri yang bercerita.
Naka mengangguk kemudian menggenggam tangan Starla. Membawanya ke ruang keluarga agar lebih leluasa.
Setelah keduanya duduk, Naka berdehem. Dan Starla tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Naka. Tak dapat dipungkiri, dari tatapan matanya iapun seolah menuntut penjelasan Naka.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena udah nutupin ini dari awal." Naka menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
"Awalnya aku juga kaget waktu kamu melamar jadi pengasuhnya Aga. Aku rada gak nyangka bakal ketemu lagi sama kamu setelah pertemuan pertama kita di supermarket waktu itu."
Wajah Starla tampak kebingungan mendengar cerita Naka. "Memangnya kita pernah ketemu sebelum aku dateng kesini?" tanya nya.
"Pernah. Di supermarket, coba deh kamu inget-inget.."
Supermarket ya?
Dahi Starla tampak mengerut, berusaha untuk mengingat. Lalu ingatannya melayang pada kejadian dimana ia kehilangan sling bag nya. Di waktu yang bersamaan juga ia bertemu dengan seorang lelaki yang matanya mirip sekali dengan Rafka.
"OH JADI ITU KAMU?!"
Naka mengangguk seraya tersenyum karena Starla ternyata masih mengingat peristiwa di supermarket kala itu.
"Iya, itu aku. Pas banget waktu siangnya kita gak sengaja ketemu, terus malamnya kamu kirim pesan ke aku mau melamar jadi pengasuhnya Aga. Dan besoknya kita ketemu lagi, sampai sekarang ini."
Starla masih menampilkan raut syok nya. Ini sebuah takdir atau hanya kebetulan semata?
"Beneran, aku masih gak nyangka. Kenapa kok aku bisa gak sadar kalau itu kamu?" Starla menggelengkan kepalanya tak percaya. Mata perempuan itu terus menatap Naka tanpa kedip seolah mencari suatu kebenaran disana.
Naka terkekeh, tangannya meraup wajah Starla yang terus-terusan menatapnya. "Aku juga gak nyangka bisa ketemu lagi sama Ala nya aku setelah kurang lebih tujuh tahun aku tinggal pergi.."
Ala nya aku..
Ala nya aku katanya.
Waduh
Naka mode begini
Bahaya sekali..
Starla mengalihkan pandangan nya ke segala arah, ia baru sadar kalau sejak tadi Naka menggunakan aksen aku-kamu.
"Kamu.. udah lama di Indo?" tanya Starla, mengalihkan pembicaraan agar tak semakin salah tingkah.
"Sekitar lima bulanan,"
"Kok bisa aku gak ngenalin kamu? Jangan-jangan kamu oplas ya?!" Starla menunjuk Naka dengan mata yang memicing.
Lelaki itu menyentil dahi Starla. "Muka asli gini, enak aja dibilang oplas." sungut Naka.
Starla langsung berlagak seolah-olah ingin muntah. Kemudian ia kembali menegakkan tubuhnya. "Terus kenapa sekarang nama kamu ganti jadi Naka?"
"Dari dulu namaku emang Naka. Kalo Rafka, itu cuma nama panggilan karena dulu aku sering sakit-sakitan.." ungkap Naka. "Terus kebawa deh sampe SMA, tapi yang tau nama itu cuma orang-orang deket aku aja kok."
Masih dengan menatap Naka, Starla kembali mengajukan pertanyaan yang bersemayam di kepalanya. "Kenapa gak jujur aja dari awal kalo kamu sebenarnya Rafka? Kayaknya kalo Bang Kaiden tadi gak datang, aku gak bakal tau kebenarannya." sindir Starla.
Naka menghela napas seraya menggeleng. "Bukan gak mau jujur, aku lagi nyari waktu yang pas. Tapi malah keduluan Kai datang,"
"Ngomong apa aja tadi si Kai?"
"Gak ada ngomong apa-apa." sahut Starla. "Lagian tanpa dia ngomong pun, aku juga bakal cari tau lah. Apalagi Abang juga ikut andil disini."
"Hebat ya kalian, ternyata selama ini bohongin aku. Kamu sama Abang ternyata sama aja!" Starla berseru dengan wajah keruh. Andai ia tahu sejak awal bahwa Naka dan Rafka adalah satu orang yang sama.
Naka menyunggingkan senyum, "Ada yang mau ditanyain lagi nggak? Sini coba deketan, aku mau peluk Ala."
Starla segera bangkit saat Naka merentangkan kedua tangannya. "Males, gak mau deket-deket sama tukang boong!"
"Eh kok gitu?!" Naka ikutan bangkit dan mengikuti langkah Starla yang berjalan kearah kamar. "Kan aku udah bilang mau cerita, cuma timing nya aja yang gak pas."
"Bodo! Jangan ikutin aku, aku mau tidur!"
Brak!
T B C
yahh ketahuan dehhh🤯🤯
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.