"Elena! Bangunan ini akan hancur!" teriak Hercules di tengah lapangan sambil mengacungkan pistol.
"Maaf, Anda ini siapa tiba-tiba merusuh di tempat sekolah. Anda bisa keluar sekarang." Pak satpam menyilakan Hercules keluar.
"Elena siapa yang Anda maksud? Datang kepada kami baik-baik, kami juga bersikap baik," bujuk kepala sekolah.
"Serahkan Elena!" tantang Hercules mengacungkan pistol ke dada kepala sekolah.
Arman belum datang juga di gerbang belakang. Lihat mata Hercules sedang menyelisik satu per satu murid yang tersisa di parkiran sekolah.
Aku bersembunyi di belakang Rovel, Aurel sepetinya tertahan di kerumunan murid lain. Bagaimana sekarang, pemikir paling jernih tidak bersama kami saat ini. Aurel punya sejuta ide di waktu sempit sekali pun."El, cepet telepon Aurel," desak Rovel.
"Menghubungkan terus." Aku sudah berusaha dari tadi.
"Rovel!!" teriak Aurel santai.
Apa anak itu tidak lihat kalau Hercules sedang berdiri di tengah sana. Tanpa beban meneriaki Rovel.
Ekspresi Aurel bingung rupanya, dia melihat murid-murid lain menepi sambil berkerumun. Dia sekarang berlari ke arah kami.
"Diem Rel, Hercules nyariin Elena," cutah Rovel saat Aurel akan membuka mulut melontarkan pertanyaan.
"Mana?"
"Lo bisa bego juga, ya. Gue pikir lo orang tercerdas di antara kita berempat. Tuh." Rovel mengarahkan matanya kepada tiga orang di tengah lapangan parkir.
"Gerai rambut lo, El. Terus pake masker sama hoodie Rovel. Kita lewat belakang sekarang."
"Enggak, Rel. Kita bergerak bakal ketahuan sama Hercules. Dia melepas tembakan waktu gue kontak mata sama dia tadi."
"Kasih gue dua puluh detik buat mikir." Aurel terdiam sambil menautkan alis.
"Lo percaya 'kan sama gue," tanya Aurel kepada Rovel.
"Percaya."
"Pancing Hercules sibisa lo, gue bergerak perlahan di belakang teman-teman lain."
"Mancing gimana?"
"Apa kek, terserah. Lo 'kan biang kerok. Nih, jangan lupa bawa motor pink gue juga. Gak bakal gue contekin kalo motor gue lo tinggal." Aurel memberi kunci motornya.
Aku dan Aurel bergerak ke samping perlahan. Kami meninggalkan Rovel yang masih menggaruk kepala tidak gatalnya.
"Seharusnya Rovel ngerti maksud gue ngasih kunci motor."
"Gue yang gak ngerti, Rel. Otak gue udah blank kalau kepepet gini."
"Dia bisa pura-pura ambil motor gue. Lolos 'kan?"
Dor!
Aku dan Aurel serempak menoleh, pikiranku berisi Rovel tertangkap oleh Hercules.
Gawat, Arman yang melepaskan tembakan. Lihat, sekarang dia berhadapan dengan Hecules. Rovel bahkan masih di tempat kami tadi belum bergerak.
"Kayaknya gue harus muncul, deh, Rel."
"Lo gila? Enggak El."
Aku berhenti di tempat sedang Aurel beberapa langkah lebih jauh di depan. Kalau aku meninggalkan tempat ini yang ada tubuh Arman akan pulang tanpa nyawa. Aku langsung berlari ke tengah lapangan.
"Olivia!" teriak Rovel. Terlihat dia mengejarku. Pertama kalinya Rovel memanggil nama baru itu.
Lenganku tertarik. Rovel berhasil mengejar padahal aku berusaha berlari cepat.
Arman terlihat mengembuskan napas saat tubuhku berhasil diraih Rovel. Hercules mungkin tidak tahu kalau aku sedang di depannya, karena topi dan masker hitam yang kupakai.

KAMU SEDANG MEMBACA
ELENA GAURA
Teen FictionBagaimana bisa Rovel mengetahui kalau aku Elena Gaura anak seorang mafia besar. Padahal aku mencari kehidupan baru di kota ini sebagai Olivia Gaura, nama baru yang berarti kedamaian.