Seventeen

7K 459 8
                                        

Seventeen
.
.
.
.
.
"Kau puas sekarang?"

Pria yang terbaring di tempat tidur tersebut hanya tersenyum. Sedangkan pria tegap yang berdiri tepat disamping tempat tidurnya membalasnya dengan dengusan kasar. Ia segera mengalihkan pandangan matanya kearah luar jendela yang berada tepat dipuncak tempat tidur.

"Dia sudah mati?" tanya pria yang tengah berbaring. Pria yang berdiri menoleh tajam padanya.

"Itukah tujuanmu?" tanyanya balik. Pria yang berbaring kembali tersenyum.

"Gosh, Kellan! Kau benar-benar gila!" seru pria yang berdiri sambil menepuk kepalanya sendiri dengan telapak tangannya.

"Ya. Aku benar-benar tergila-gila pada Brandon." jawab Kellan tenang.

Pria yang berdiri mendengus keras lagi. Kedua tangannya diletakkan dipinggangnya.

"Apa kau kira Brandon akan melihatmu setelah Jason meninggal?" tanya pria itu.

"Setidaknya rivalku sudah tak ada lagi."

Kellan berusaha duduk dipuncak tempat tidur. Rasa nyeri menjalar keseluruh tubuhnya mengingat begitu banyak luka yang ditorehkan oleh Brandon. Pria yang berada disampingnya hanya diam tanpa berniat untuk membantu Kellan duduk.

"Jadi dia sudah mati?" ulang Kellan setelah berhasil bersusah payah untuk duduk ditempat tidurnya.

"Aku tak tahu." jawab pria itu.

"Mereka membawa Jason ke suatu tempat yang tidak kami ketahui." lanjutnya.

"Kuharap dia segera mati." desis Kellan. Pria masih berdiri menggelengkan kepalanya sambil memutar bola matanya.

"Seharusnya kau berharap sebaliknya." kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik tirai yang menutupi tempat tidur Kellan.

Keduanya menoleh cepat kearah suara dan terkejut melihat siapa yang berbicara. Pria yang baru datang tersebut langsung menatap tajam pria muda yang berdiri disamping tempat tidur.

"Kita harus bicara setelah aku selesai mengunjungi Kellan."

Pria yang berdiri disamping tempat tidur Kellan segera mengangguk. Saat pria tersebut akan berlalu meninggalkan ruangan, suara itu terdengar lagi.

"Temui Damian di pack. Dan tunggu aku disana. Kuharap kau tak berniat untuk menemuinya sekarang, Ryan." tegasnya.

Pria yang dipanggil Ryan itu kembali mengangguk dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Kellan menelan ludah. Suasana menjadi sedikit mencekam karena kehadiran pria yang menginterupsi pembicaraannya dengan Ryan. Pria itu berjalan mendekati ujung tempat tidur Kellan. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.

"Kau tahu apa yang kau lakukan akan membuat Jason kehilangan nyawa?" tanyanya.

Sorot matanya tajam menatap Kellan. Kellan dilanda kegugupan luar biasa sehingga hanya mampu menganggukkan kepalanya.

"Gigitanmu tak berarti untuk Jason yang mempunyai kemampuan Heal. Tapi racun yang kau sebar melalui cakarmu itulah yang dapat membuatnya meninggal. Aku tak tahu dan tak mau tahu kau dapat racun itu darimana tapi hidup Brandon tergantung dari kesembuhan Jason."

Kellan tersentak kaget. "Apa—maksudmu?" tanyanya terbata.

Pria itu tak segera menjawab. Matanya masih menyorot tajam pada Kellan. Kellan merasa jantungnya berdegup lebih kencang.

BROWN AND WHITE ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang