Eighteen (Ending)
.
.
.
.
.
Seorang remaja pria berjalan cepat kearah kerumunan remaja. Terdengar suara riuh memekakkan telinga siapapun yang berada disana. Remaja yang bermata hijau dan berkulit putih tersebut langsung menyibakkan kerumunan tersebut dan berteriak keras.
"JOSH! APA YANG KAU LAKUKAN?"
Pemuda yang dipanggil Josh itu tak menghiraukannya. Ia malah melayangkan sebuah pukulan lagi ke lawan yang dihadapinya. Sorak sorai disekelilingnya justru membuatnya bersemangat.
"STOP IT NOW!" seru pemuda itu lagi. Lagi-lagi josh tak mengindahkannya.
Pemuda yang meneriakinya itu langsung maju ketengah arena perkelahian. Dengan wajah penuh kemarahan, ia mencengkeram tangan Josh dan lawannya sekaligus. Keduanya menatapnya tak suka karena perkelahian mereka diganggu oleh pemuda tadi.
"I.SAID.STOP.IT.NOW!" tegas pemuda itu.
Ia balas menatap keduanya dengan sorot mata penuh intimidasi. Mata hijaunya seakan mampu membakar tubuh kedua pemuda yang berkelahi tadi membuat mereka bergidik ngeri. Bahkan auranya membuat suasana tempat perkelahian itu terjadi serasa panas dan mencekam.
"Apa lagi yang terjadi sekarang?" tanya pemuda tersebut.
Matanya tak lepas dari keduanya. Josh menyentakkan tangannya dari cengkeraman pemuda tersebut. Sementara tangan lawannya dilepaskan oleh pemuda itu.
"Ia memaksa mencium Tammy!"
Josh menatap lawannya dengan kesal. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. Ia tak mengalihkan tatapannya dari Josh.
"Hanya untuk taruhan!" lanjut Josh. Kali ini pemuda itu beralih ke lawan berkelahi Josh.
"Daniel?" tanyanya. Pemuda yang bernama Daniel balas menatapnya angkuh.
"Ada masalah, Julien?" cengir sombong Daniel.
Pemuda yang bernama Julien tak menanggapinya. Ia malah balas menatap Daniel. Sebuah senyum tipis menghiasi wajah putihnya.
"Tidak." balasnya.
Daniel tersenyum penuh kemenangan pada Josh. Josh menganga tak percaya.
"Tapi masalahnya, Tammy adalah adik kami." lanjut Julien tenang.
Daniel mendengus. "Kalian tidak sedarah. Kenapa kau peduli padanya?"
Julien membalikkan badan dan berhadapan langsung dengan Daniel. Tinggi mereka hampir sama, hanya saja aura Julien terlihat lebih dominan. Daniel menelan ludah.
"Kami sedarah, Daniel. Kami dilahirkan oleh ibu yang sama." kata Julien tegas.
"Dan siapapun yang berani mengganggu adik-adik kami maka harus berhadapan dengan kami. Apa kau mengerti, Daniel?"
Daniel bergeming. Ia sudah merasa ketakutan dengan aura yang mengelilingi Julien. Josh yang berdiri dibelakang Julien tersenyum mengejek lalu berjalan kearah seorang gadis berkulit coklat yang sedang menangis. Gadis remaja itu dirangkul oleh seorang gadis remaja yang berkulit pucat.
"Kumaafkan kau sekarang. Tapi jangan pernah mendekati Tamara lagi atau kau akan tahu apa yang bisa kami lakukan padamu." ancam Julien. Daniel tak berkutik menghadapi seorang Julien yang penuh intimidasi.
Dua orang remaja pria lain mendekati Daniel dan membawanya menjauh dari Julien. Kerumunan para remaja yang menonton tadi secara perlahan membubarkan diri. Hingga tertinggal 5 orang remaja, 3 remaja pria dan 2 gadis muda.
"Sebaiknya kita pulang. Aku yakin Mommy dan Papa sudah mendengar hal ini dari uncle Jesse." ucap Julien. Keempat remaja tersebut mengangguk dan mulai berjalan menjauhi sekolah.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
"Kenapa kau tidak pernah bisa mengendalikan emosimu, Joshua?" tanya seorang pria tegap berkulit gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROWN AND WHITE ✔
Sonstiges[ 06.12.2014 - 21.08.2015 ] Dua warna berbeda. Dua kepribadian berbeda. Dua species berbeda. Tapi jika dua hal berbeda ingin melebur jadi satu, mungkinkah? WARNING!! BANYAK KATA-KATA VULGAR, LIGHT BDSM DAN KEKERASAN!! RATE 21+, FORBIDDEN FOR UNDER...
