X-tra 1 : Meet
.
.
.
.
.
"Brandon!"
Seorang pria menoleh cepat saat namanya disebut dan melihat 2 orang pria berlari kearahnya. Salah satunya melambaikan tangan dengan senyum lebarnya.
"Kau selalu meninggalkan kami, Brand." sungut pria yang berkulit terang. Brandon dan pria satunya hanya terkekeh.
"Kau yang terlalu lama di pack, Sims. Aku sampai berlumut nunggumu." canda Brandon.
Pria yang dipanggil Sims memukul keras bahu Brandon sehingga membuatnya mengaduh.
"Pukulanmu tidak bisa lebih pelan, hah?" gerutu Brandon sambil meringis. Diusapnya bahunya yang mendapat hantaman dahsyat dari Sims.
"Bisakah kau memanggilku dengan Simon? Aku bukan games!" cebik Simon kesal.
Pria berkulit gelap yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka tertawa keras. Simon dan Brandon mendelik marah melihat ketidakpekaan teman mereka.
"Sorry, man. Hanya saja kalian seperti anak kecil yang sedang berdebat tentang siapa yang tinggi." cengirnya sambil mengangkat kedua jarinya sehingga membentuk huruf V.
Keduanya mendengus keras. "So everything's prepared?" tanya Brandon.
Simon mendesah. "As you know." jawabnya malas.
Brandon merangkul bahu sahabatnya dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Pria berkulit gelap satunya menjajari langkah lebar keduanya. Ketiganya berjalan beriringan tanpa memperdulikan tatapan lapar dan tidak bersahabat dari sekitarnya.
"Kita bicarakan nanti ditempat biasa. Aku harus menghadap dosenku untuk persiapan ujian tugas akhirku." kata Simon. Brandon melepaskan tangannya dari bahu Simon.
"Akhirnya kau jadi dokter juga." ujar Brandon. Simon menggeleeng.
"Belum. Aku harus melakukan coass (co assistant) selama kurang lebih 1,5 tahun. Lalu melakukan ujian kompetensi setelah coass. Selesai ujian aku juga harus menjalankan tugas sebagai dokter internship selama 1 tahun baru aku bisa menyandang gelar dokter atau mengambil program spesialis kedokteran." jelas Simon.
"W.O.W...." eja pria berkulit gelap dengan wajah penuh keheranan sekaligus kebingungan.
Brandon menggeleng-gelengkan kepala. "Tak kusangka berat juga ya untuk jadi seorang dokter."
"Yeah." balas Simon. Ketiganya terdiam sejenak sebelum akhirnya Simon membalikkan badan dan berlari menjauh.
"Aku tak punya waktu sekarang. Kita bertemu disana, oke?" teriak Simon. Kedua sahabatnya terbengong melihat Simon yang meninggalkan mereka.
"Well, sepertinya kita juga harus pergi sekarang." kata pria berkulit gelap.
Tangannya melingkari pundak Brandon yang lebih tinggi darinya. Brandon menatap tajam pada tangan yang telah berani merangkulnya. Sedangkan yang ditatapnya seolah tidak perduli dengan death glare yang diberikan padanya.
"Ayo, Brand. Kita akan terlambat kuliah Mr. Dracula. Dan kau tahu akibatnya jika kita terlambat 1 detik saja?" cerocos pria berkulit gelap tersebut.
Brandon mendengus kesal. Pria disampingnya ini memang tidak mempan dipelototi olehnya. Dengan berat hati, ia menurutinya tanpa perlawanan.
"That's a good boy." bisik pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROWN AND WHITE ✔
Random[ 06.12.2014 - 21.08.2015 ] Dua warna berbeda. Dua kepribadian berbeda. Dua species berbeda. Tapi jika dua hal berbeda ingin melebur jadi satu, mungkinkah? WARNING!! BANYAK KATA-KATA VULGAR, LIGHT BDSM DAN KEKERASAN!! RATE 21+, FORBIDDEN FOR UNDER...
