Chapter 20

8.3K 507 22
                                        

Chapter 20

"Um, Ali!! kaya nya aku harus pulang sekarang sudah pukul 3 siang" Prilly mengalihkan pembicaraan seraya memperhatikan arlogi yang melingkar dipergelangan tangannya . Ali mengangguk mengiyakan itu

"Baiklah, tante Syully? Prilly harus pulang" Ia berjongkok untuk pamit pada Syully, Syully terlihat memegang tangan Prilly "Nanti Prilly kesini lagi untuk jenguk tante" Senyum mengembang diwajah Syully ia mengangguk setuju.

"Prilly maaf" Ali sambil menyetir mobil nya setelah mereka keluar dari rumah Ali dan Prilly memutuskan untuk pulang, dahi Prilly mengkerut "Maaf untuk apa?"

"Aku belum cerita semuanya tentang mamah"

"Kamu ga perlu cerita sekarang aku udah tahu, tante Syully adalah Ibu yang sangat menyenangkan kan?" Ali memperhatikan Prilly yang sangat antusias dan berkata "Mamah aku beda Prill....". "Justru karena beda, itu yang bikin istimewa, kamu beruntung punya keluarga lengkap" Puji Prilly, Ali tercekat apa maksudnya lengkap?

"Lengkap?" Ia mendengus tawa kecil "Ini hal yang buruk Prill, semua terjadi dengan buruk secara bersamaan! Kamu tau gimana buruk nya pria itu?" Emosi kembali tersirat semburat kebencian itu muncul lagi setelah dihilangkan dengan tawa

"Tapi kamu punya Ayah dan Ibu Li, itu tanda nya beruntung! Coba kamu perhatikan gimana sedih nya orang yang punya ga punya Ayah? itu menyedih kan Li"

"Aku harap aku ga punya Ayah mulai sekarang, itu lebih baik"

"Benar kah? Kalau begitu bisa kah kamu berhenti diujung pertigaan?!"

"Untuk apa?"

"Aku ingin bertemu ayah" Prilly tersenyum sambil menunjukan jalan "Iya stop disini" Pinta nya saat mereka tepat berada di tempat yang ia ingin kan .

Prilly secara tiba-tiba ingin bertemu dengan Ayah, apakah dia merindukan sosok Ayah nya yang sama sekali belum pernah terlihat? Baiklah itu adalah sesuatu yang sangat wajar, pikir Ali

"Di sini?" Ujarnya tak yakin, Prilly meminta mereka untuk berhenti di tempat itu "Kamu yakin disini?" Ulang nya. "Aku mau kamu mengenal nya" Timpal Prilly lalu menuruni mobil ia berjalan di tempat pemakaman.

"Tunggu? Ini benar? Kenapa kami harus kesini? Apa Ayah Prilly seorang petugas disini? Ah tapi mana mungkin! Apa dia mau mengubur ku di sana?" Racau Ali terhenti ketika dari kejauhan Prilly memanggil nya yang masih berdiam diri di mobil

"I..iya Prill!!" Seru nya mengeluarkan diri dari mobil mengikuti langkah Prilly, di lihat nya dipemakaman itu hanya ada beberapa pak tua yang sedang bercengkrama bersama sebaya nya "Apa salah satu diantara orang orabg yang ada disana??" Tebak nya sambil berfikir

Pemakaman itu tampak sepi, hanya sekumpulan pak tua itu dan ada satu atau dua orang yang mengunjungi makam kerabat atau saudara mereka dan hanya . Terlalu fokus pada tebakan nya "Ali!! Kamu mau kesana? Arah yang benar ke sini bukan ke sana" Prilly memperingatkan, yah memang benar Ali begitu asik bergelut dengan fikiran nya malah berjalan menuju para pak tua itu sedang kan Prilly sudah melangkah jauh dari nya ke arah kanan

"Aku kira ke sana" Sahut nya dengan wajah polos membuat Prilly tertawa geli menurut nya ekspresi Ali seperti itu sangat lucu dan itu jarang terlihat "Kamu sok tahu" Timpal Prilly saat Ali yang menyusul nya sudah berjalan beriringan bersama nya.

"Nah sebentar lagi kita sampai" Ali mengangguk setuju, menapaki tanah yang sedikit basah akibat hujan semalam dan rerumputan gading yang tersusun rapih akhir nya Prilly berhenti.

Ia berhenti tepat didepan sebuah makam pualam, Nisan nya terlihat bersih padahal di situ tertulis wafat 2008 sekitar 7 tahun yang lalu nampak nya selalu di bersih kan. Di samping tumpukan tanah beralasan kan rumput gading Prilly berjongkok dan berkata "Kenal kan ini Ayah ku" Mata nya berbinar, Ali tercekat ia menyusul Prilly berjongkok di samping makan itu

"Ayah, ini Ali dia anak laki-laki yang kurang bersyukur punya seorang Ayah" Prilly bercerita seolah-olah mengajak makam itu berbicara "Prilly?" Prilly menoleh pada Ali

"Bukan nya waktu itu kamu pernah bilang kalau Ayah kamu ada?" Prilly tersenyum, Ali menautkan kedua alia nya menunggu Prilly menjawab pertanyaan yang ia lontar kan

"Memang ada, bukti nya ini aku punya Ayah kan? Walau pun kami ada di dunia yang beda" Iris cokelat mata Prilly mulai sendu tak ingin menangis ia terlihat tegar

"Saat orang itu ga ada, baru kamu tahu gimana rasa nya kehilangan" Prilly menatap kosong nisan itu

"Tapi dia orang yang buruk Prill" Ali berdiri diikuti dengan Prilly "Setiap orang bisa berubah, aku yakin papah kamu orang yang baik dia juga pasti ga pingin menjadi buruk"

"Dia terlalu buruk untuk di anggap sebagai seorang Ayah" Ali tetap kekeuh dengan fikirannya

"Oke baik lah, tapi setidak nya dia pernah jadi bagian dalam hidup kalian kan? Kamu pernah menerima nya kamu pernah menyayangi nya bahkan mungkin sampai sekarang-" Prilly berkata ragu di akhir kalimatnya Ali diam terpaku kini menatap nisan itu, memang ia membenci pria itu tapi tidak bisa dipungkiri rasa menyayangi masih menyelimuti hati nya

Andai aja waktu ga pernah mengubah keadaan, semua ini ga akan pernah terjadu" Senyum miris menghiasi wajah tampan nya

"Jangan menyalah kan waktu dan keadaan, ini semua ke hendak Tuhan, Tuhan sudah menyiap kan rencana terbaik untuk kamu-di balik semua ini"

Prilly tersenyum peduli ia mendekat kan langkah nya pada Ali, tangan nya mengayun hingga tepat meletak nya di dada Ali sambil berkata "Hati kamu terlalu banyak kebencian, beri sedikit ruang untuk melihat sisi baik orang lain dengan ini" Ia menepuk nepuk pelan dada bidang Ali yang terbungkus kaus hitam itu

Mata Ali menatap manik mata Prilly mencoba mencari kesalahan dari ucapan nya barusan, namun nihil Ali tidak mendapat kan itu iris mata cokelat itu penuh ketulusan dan Prilly-memang benar ucapan nya benar . Gadis itu sedikit mereta kan dinding kebencian yang tebal berasarang pada Ali

"Ali?"

"Hey? Kenapa diam" Ulang Prilly merasa tidak mendapat respon

"Ali? Kamu bisa dengar aku kan?" ia berdecak frustasi, apa ada yang salah dengan ucapan nya? apa ia harus memanggil Ali kembali untuk membuyar kan lamunan Ali yang entah seperti apa itu

"Tuan Ali!! Mamah benar - benar bisa marah karena anak gadis nya di bawa pemuda dan ga mengantar anak nya pulang cepat" Ucap Prilly sarkatis

"Ngg, iya Prill aku dengar" Ali tersenyum palsu entah apa yang sekarang membayang bayangi otak nya. Ucapan Prilly tadi memaksa nya untuk mempertimbang kan semua sikap nya kembali

"Jadi sampai kapan kamu mau disitu? Kamu ga mau antar aku pulang?" Cerca Prilly melipat kedua tangan nya ke depan dada memperhatikan Ali yang masih diam di situ sekali lagi gadis itu memperhatikan arlogi nya "Aku benar - benar akan di bunuh mamah dalam waktu 30 menit lagi" Cerca Prilly asal

"Maaf..." Sesal nya membuat Prilly tersenyum namun masih tidak bergerak dari tempat nya berpijak memaksa Prilly untuk menarik tangan nya dan berjalan beriringan untuk membesar kan hati nya kembali

kurang feel untuk lanjutin u.u betewe kalo saya bikin story yang bukan menggunakan nama 'AliPrilly' apa ada yang masih tertarik membaca? takut kalian bosan karena aku memakai nama itu terus disetiap story ku . beri pendapat!! dan jangan lupa beri respon untuk story ini ^^

[NF] Us, Love and OddityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang