Chapter 10
# Author's POV
Ali terperagah sangat melihat arlogi yang melingkar dipergelangan tangannya, ia menepuk jidatnya pelan mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan.
Setelah mengantar gadis yang bersamanya ali langsung melajukan mobipnya menuju cafe us tempat yang ia janjikan bersama prilly.
Dari parkiran ia berusaha mempercepat langkahnya setengah berlari menuju pintu utama memasuki cafe.
Dicari nya sosok yang ia cari, kepala mendelengak kesetiap sisi namun hasilnya nihil, prilly tak kunjung terlihat
"Shinta, apa kamu melihat wanita yang ku bicarakan tadi siang pada mu? Aku sudah membuay janji padanya dimeja nomor 15 itu" ali bertanya cemas pada salah satu karyawannya yang sengaja disuruhnya untuk melayani prilly ketika prilly datang
"Maksud mas Ali, mba Prilly?" Tanya menaikan sebelah alis disetujui oleh anggukan ali "dia menunggu disini sudah 3 jam dan sudah pulang dua jam yang lalu, saya sudah berusaha membuatnya tenang dan nyaman menunggu tapi sepertinya dia begitu kecewa karena mas Ali tidak kunjung datang" timpal Shinta juga ikut menyesal
"Kalo begitu terimakasih!!" Ali kesal beranjak dari cafe itu, dia menjalankan mobilnya kembali fikirannya masih terbayang bayang akan prilly, sesekali menggerutu menyalahkan dirinya sendir dihentikannya mobilnya pada tepian jalanan ibu kota yang masih ramai akan lalu lintas.
"Aahh shit!!" Teriaknya sambil memukul stir mobil "prilly pasti kecewa, bahkan bisa saja dia marah besar pada ku" ali menelungkupkan wajahnya pada tangan yang bertengger pada stir mobil.
Hingga ia tersentak mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan
"Ponsel... ahh kenapa aku melupakan alat yang biasanya aku gunakan dan bawa kemana mana" ali mulai meraba saku celananya untuk meraih ponsel yang sejak tadi ia silent.
"Aku sudah berada dicafe yang kita janjikan sejak 2 jam yang lalu"
"Kamu dimana? Apa kamu lupa dengan janji mu malam ini? Apa kamu akan datang dan menemuiku?"
"Tidak usah datang, aku akan segera pulang.. terimakasih sudah membuat ku menunggu"
Beruntun notifikasi pesan singkat yang ia dapat dari prilly bahkan ada beberapa missed call yang terabaikan. Ali mengusap wajahnya frustasi, ia pastikan prilly pasti sudah sangat teramat kecewa
Ditekan tombol huruf dilauar datar ponsel nya, lalu tidak berapa lama telphone pun tersambung
"Ku pastikan dia marah besar pada ku" curhat ali pada sosok dibalik telphone tersebut
"Hah? Lalu kau tidak menghubunginya"
"Aku takut dia tidak menerima permintaan maaf ku, dia sama sekali tidak membalas pesan menjawab telphone dari ku"
"Kamu pengecut!! Meminta maaf kepada wanita yang kamu buat kecewa karena keteledoranmu sendiri masa takut"
"Aahh ini kan juga karena mu" timpal ali kesal pada lawan bicaranya ditelphone
"Kenapa malah menyalahkan ku? Kau pengecut!!!"
"Aku tidak pengecut, baik lah aku akan mengajak nya bertemu sekali lagi"
"Kamu gila? Mengajaknya bertemu di malam yang sudah larut seperti ini? Lagi pula aku yakin dia pasti tidak akan mau bertemu dengan mu, hahahahaha"
"Apa aku harus langsung datang menemuinya dirumah?"
"Jangan bodoh!! Tamu laki laki mana yang diterima untuk bertamu dijam malam seperti ini?"
Ali berdecak kesal mendapat ledekan dari lawan bicaranya, "lalu aku harus bagaimana?"
"Biarkan dia tenang, beri dia ruang untuk berfikir , biarkan emosinya mereda percaya pada saran ku dia hanya memerlukan waktu aahh sudahlah aku terlalu membuang tenaga hari ini aku lelah dan ingin tidur!! Selamat berjuang"
Ali mengakhiri panggilan itu dan berdecak kesal lalu menjalankan kembali mobilnya
##
Prilly menatap lurus wajahnya pada sebuah kaca yang terletak dimeja hias miliknya, ditatapnya lekat lekat wajahnya sendiri. Dada nya naik turun seperti ada gejolak emosi yang tertahan.
"Percintaan mu memang buruk prill" gumamnya tersenyum getir memandang wajahnya dari kaca "seharusnya kau pandai memilih sudah tahu kalau percintaan mu selalu gagal" timpalnya lagi, kini matanya mulai berkaca
"Harusnya kamu tidak terlalu bodoh dalam memilih lelaki yang dekat dengan mu" prilly menghela nafas panjang memutar bola matanya berharap air matanya tidak mengalir hanya karena ini
"Bukan kah kamu sudah terbiasa seperti ini prill? Kencan mu selalu gagal? Mana mungkin ada lelaki yang serius mendekati mu... wanita cantik dan ideal lebih dari mu masih banyak diluar sana, lagi pula harusnya ini tidak begitu menyakitkan tapi kenapa dengan ali begitu beda? Aku merasakan kecewa saat dia tidak hadir dalam kencan kami, bahkan merasakan sesak didada lutut ku pun lemas ketika mendengarnya pergi bersama wanita lain saat kencan kami" prilly mengenduskan tawa kecil.
Ponselnya tibatiba bergetar menunjukan sebuah notifikasi pesan
"Prill maafkan aku"
"Aku menyesal atas keterlambatan ku, ku harap kamu tidak begitu kecewa" lagi lagi prilly menyunggingkan sedikit senyum dari bibir nya .
Bagaimana ali bisa berfikir prilly tidak akan kecewa atas kejadian ini? Nyatanya prilly sudah benar benar kecewa
Pesan singkat itu dicampakan begitu saja oleh prilly , hingga ponselnya kembali bergetar namun tiada henti, ali menghubunginya mungkin mencoba menjelaskan lewat pembicaraan telephone.
Heh dasar lelaki pengecut....
"Aku memiliki alasan atas keterlambatan ku, tolonglah izinkan aku mengungkapkannya"
"Prilly aku mohon maafkan aku"
Ali kembali mengirimkan pesan singkatnya secara beruntun membuat prilly bergeleng pelan meninggalkan ponselnya yang ia truh diatas nakas lalu menelungkup wajahnya dengan bantal
Selamat malam ^o^ maaf baru bisa next, otak ngebeku gara gara banyak ngebaca buku pelajaran wkwk ga dapet inspirasi sama sekali.
Ohiyaaa betewe jangan lupa baca story terbaru ku "THE DETECTIVE GIRL AND A BRAVE BOY"
Ditunggu selalu juga vote dan commentnya!!!
Lopyuuuuuuu♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
[NF] Us, Love and Oddity
Fiksi RemajaAku mencintai nya, mencintai segala ke anehan nya dan keanehan yang Tuhan telah ciptakan di antara kami berdua. Keanehan yang membuat cerita kami sempurna.
![[NF] Us, Love and Oddity](https://img.wattpad.com/cover/26202490-64-k785245.jpg)